RAGAM MEDIA TANAM

RAGAM MEDIA TANAM

 

Media tanam merupakan komponen utama ketika akan bercocok tanam.

Media tanam yang akan digunakan harus disesuaikan dengan jenis tanaman

yang ingin ditanam. Menentukan media tanam yang tepat dan standar untuk

jenis tanaman yang berbeda habitat asalnya merupakan hal yang sulit.

Hal ini dikarenakan setiap daerah memiliki kelembapan dan kecepatan angin

yang berbeda. Secara umum, media tanam harus dapat menjaga kelembapan

daerah sekitar akar, menyediakan cukup udara, dan dapat menahan

ketersediaan unsur hara.

 

 

Jenis media tanam yang digunakan pada setiap daerah tidak selalu sama.

Di Asia Tenggara, misalnya, sejak tahun 1940 menggunakan media tanam

berupa pecahan batu bata, arang, sabut kelapa, kulit kelapa, atau batang

pakis. Bahan-bahan tersebut juga tidak hanya digunakan secara tunggal,

tetapi bisa dikombinasikan antara bahan satu dengan lainnya.

Misalnya, pakis dan arang dicampur dengan perbandingan tertentu hingga

menjadi media tanam baru. Pakis juga bisa dicampur dengan pecahan batu

bata.

 

Untuk mendapatkan media tanam yang baik dan sesuai dengan jenis

tanaman yang akan ditanam, seorang hobiis harus memiliki pemahaman

mengenai karakteristik media tanam yang mungkin berbeda-beda dari

setiap jenisnya. 8erdasarkan jenis bahan penyusunnya, media tanam

dibedakan menjadi bahan organik dan anorganik.

 

A. BAHAN ORGANIK

 

Media tanam yang termasuk dalam kategori bahan organik umumnya

berasal dari komponen organisme hidup, misalnya bagian dari tanaman

seperti daun, batang, bunga, buah, atau kulit kayu.

Penggunaan bahan organik sebagai media tanam jauh lebih unggul

dibandingkan dengan bahan anorganik. Hal itu dikarenakan bahan

organik sudah mampu menyediakan unsur-unsur hara bagi tanaman.

Selain itu, bahan organik juga memiliki pori-pori makro dan mikro yang

hampir seimbang sehingga sirkulasi udara yang dihasilkan cukup baik

serta memiliki daya serap air yang tinggi.

 

Bahan organik akan mengalami proses pelapukan atau dekomposisi

yang dilakukan oleh mikroorganisme. Melalui proses tersebut, akan

dihasilkan karbondioksida (CO2), air(H2O), dan mineral. Mineral yang

dihasilkan merupakan sumber unsur hara yang dapat diserap tanaman

sebagai zat makanan. Namun, proses dekomposisi yang terlalu cepat

dapat memicu kemunculan bibit penyakit. Untuk menghindarinya, media

tanam harus sering diganti. Oleh karena itu, penambahan unsur hara

sebaiknya harus tetap diberikan sebelum bahan media tanam tersebut

mengalami dekomposisi.

 

Beberapa jenis bahan organik yang dapat dijadikan sebagai media tanam

di antaranya arang, cacahan pakis, kompos, mosS, sabut kelapa, pupuk

kandang, dan humus.

 

 

1.   Arang

 

Arang bisa berasal dari kayu atau batok kelapa. Media tanam ini sangat

coeok digunakan untuk tanaman anggrek di daerah dengan kelembapan tinggi.

Hal itu dikarenakan arang kurang mampu mengikat air dalam )umlah banyak.

Keunikan dari media jenis arang adalah sifatnya yang bufer (penyangga).

Dengan demikian, jika terjadi kekeliruan dalam pemberian unsur hara yang

terkandung di dalam pupuk bisa segera dinetralisir dan diadaptasikan.

 

Selain itu, bahan media ini juga tidak mudah lapuk sehingga sulit ditumbuhi jamur

atau eendawan yang dapat merugikan tanaman. Namun, media arang

cenderung miskin akan unsur hara. Oleh karenanya, ke dalam media tanam

ini perlu disuplai unsur hara berupa aplikasi pemupukan.

 

Sebelum digunakan sebagai media tanam, idealnya arang dipeeah menjadi

potongan-potongan keeil terlebih dahulu sehingga memudahkan dalam

penempatan di dalam pot. Ukuran peeahan arang ini sangat bergantung pada

wadah yang digunakan untuk menanam serta jenis tanaman yang akan ditanam.

Untuk mengisi wadah yang memiliki diameter 15 em atau lebih, umumnya

digunakan peeahan arang yang berukuran panjang 3 em, lebar 2-3 em,

dengan ketebalan 2-3 em. Untuk wadah (pot) yang lebih keeil, ukuran pecahan

arang juga harus lebih kecil.

 

2.   Batang Pakis

 

Berdasarkan warnanya, batang pakis dibedakan menjadi 2, yaitu batang pakis

hitam dan batang pakis coklat. Dari kedua jenis tersebut, batang pakis hitam lebih

umum digunakan sebagai media tanam. Batang pakis hitam berasal dari tanaman

pakis yang sudah tua sehingga lebih kering. Selain itu, batang pakis ini pun

mudah dibentuk menjadi potongan kecil dan dikenal sebagai cacahan pakis.

 

Selain dalam bentuk cacahan, batang pakis juga banyak dijual sebagai media

tanam siap pakai dalam bentuk lempengan persegi empat. Umumnya, bentuk

lempengan pakis digunakan sebagai media tanam anggrek. Kelemahan dari

lempengan batang pakis ini adalah sering dihuni oleh semut atau binatang

-binatang kecillainnya.

 

Karakteristik yang menjadi keunggulan media batang pakis lebih dikarenakan

sifat-sifatnya yang mudah mengikat air, memiliki aerasi dan drainase yang baik,

serta bertekstur lunak sehingga mudah ditembus oleh akar tanaman.

 

3.   Kompos

 

Kompos merupakan media tanam organik yang bahan dasarnya berasal dari

proses fermentasi tanaman atau limbah organik, seperti jerami, sekam, daun,

rumput, dan sampah kota. Kelebihan dari penggunaan kompos sebagai media

tanam adalah sifatnya yang mampu mengembalikan kesuburan tanah melalui

perbaikan sifat-sifat tanah, baik fisik, kimiawi, maupun biologis.

Selain itu, kompos juga menjadi fasilitator dalam penyerapan unsur

nitrogen (N) yang sangat dibutuhkan oleh tanaman.

 

Kandungan bahan organik yang tinggi dalam kompos sangat penting untuk

memperbaiki kondisi tanah. Berdasarkan hal tersebut dikenal 2 peranan kompos

yakni soil conditioner dan soil ameliorator. Soil ( ondotioner yaitu peranan

kompos dalam memperbaiki struktur tanah, terutama tanah kering, sedangkan

soil ameliorator berfungsi dalam Il1emperbaiki kemampuan tukar kation pada

tanah.

 

Kompos yang baik untuk digunakan sebagai media tanam yaitu Ydng telah

mengalami pelapukan secara sempurna, ditandai dengan I IL,rubahan

warna dari bahan pembentuknya (hitam kecokelatan), tidak berbau, memiliki

kadar air yang rendah, dan memiliki suhu ruang.

 

4.   Moss

 

Moss yang dijadikan sebagai media tanam berasal dari akar paku-pakuan, atau

kadaka yang banyak dijumpai di hutan-hutan. Moss sering digunakan sebagai

media tanam untuk masa penyemaian sampai dengan masa pembungaan.

Media ini mempunyai banyak rongga sehingga memungkinkan akar tanaman

tumbuh dan berkembang dengan leluasa.

 

Menurut sifatnya, media moss mampu mengikat air dengan baik serta memiliki

sistem drainase dan aerasi yang lancar. Untuk hasil tanaman yang optimal,

sebaiknya moss dikombinasikan dengan media tanam organik lainnya, seperti

kulit kayu, tanah gambut, atau daun-daunan kering.

 

5.   Pupuk kandang

 

Pupuk organik yang berasal dari kotoran hewan disebut sebagai pupuk kandang.

Kandungan unsur haranya yang lengkap seperti natrium (N), fosfor (P), dan

kalium (K) membuat pupuk kandang cocok untuk dijadikan sebagai media tanam.

Unsur-unsur tersebut penting untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman.

Selain itu, pupuk kandang memiliki kandungan mikroorganisme yang diyakini

mampu merombak bahan organik yang sulit dicerna tanaman menjadi komponen

yang lebih mudah untuk diserap oleh tanaman.

 

Komposisi kandungan unsur hara pupuk kandang sangat dipengaruhi oleh

beberapa faktor, antara lain jenis hewan, umur hewan, keadaan hewan, jenis

makanan, bahan hamparan yang dipakai, perlakuan, serta penyimpanan

sebelum diaplikasikan sebagai media tanam.

 

Pupuk kandang yang akan digunakan sebagai media tanam harus yang sudah

matang dan steril. Hal itu ditandai dengan warna pupuk yang hitam pekat.

Pemilihan pupuk kandang yang sudah matang bertujuan untuk mencegah

munculnya bakteri atau cendawan yang dapat merusak tanaman.

 

6.   Sabut kelapa (coco peat)

 

Sabut kelapa atau coco peat merupakan bahan organik alternatif yang dapat

digunakan sebagai media tanam. Sabut kelapa untuk media tanam ,ijuknya

berasal dari buah kelapa tua karena memiliki serat yang kuat.

 

Penggunaan sabut kelapa sebagai media tanam sebaiknya dilakukan di daerah

yang bercurah hujan rendah. Air hujan yang berlebihan dapat menyebabkan

media tanam ini mudah lapuk. Selain itu, tanaman pun menjadi cepat membusuk

sehingga bisa menjadi sumber penyakit. Untuk mengatasi pembusukan, sabut

kelapa perlu direndam terlebih dahulu di dalam larutan fungisida. Jika

dibandingkan dengan media lain, pemberian fungisida pada media sabut

kelapa harus lebih sering dilakukan karena

sifatya yang cepat lapuk sehingga mudah ditumbuhi jamur.

 

Kelebihan sabut kelapa sebagai media tanam lebih dikarenakan karakteristiknya

yang mampu mengikat dan menyimpan air dengan kuat, sesuai untuk daerah

panas, dan mengandung unsur-unsur hara esensial, seperti kalsium (Ca),

magnesium (Mg), kalium (K), natrium (N), dan fosfor (P).

 

7.   Sekam padi

 

Sekam padi adalah kulit biji padi (Oryza sativa) yang sudah digiling. Sekam padi

yang biasa digunakan bisa berupa sekam bakar atau sekam mentah (tidak

dibakar). Sekam bakar dan sekam mentah memiliki tingkat porositas yang sama.

Sebagai media tanam, keduanya berperan penting dalam perbaikan struktur

tanah sehingga sistem aerasi dan drainase di media tanam menjadi lebih baik.

 

Penggunaan sekam bakar untuk media tanam tidak perlu disterilisasi lagi karena

mikroba patogen telah mati selama proses pembakaran. Selain itu, sekam bakar

juga memiliki kandungan karbon (C) yang tinggi sehingga membuat media

tanam ini menjadi gembur, Namun, sekam bakar cenderung mudah lapuk.

 

Sementara kelebihan sekam mentah sebagai media tanam yaitu mudah mengikat

air, tidak mudah lapuk, merupakan sumber kalium (K) yang dibutuhkan tanaman,

dan tidak mudah menggumpal atau memadat sehingga akar tanaman dapat

tumbuh dengan sempurna. Namun, sekam padi mentah cenderung miskin

akan unsur hara.

 

8.   Humus

 

Humus adalah segala macam hasil pelapukan bahan organik oleh Jasad mikro

dan merupakan sumber energi jasad mikro tersebut. Bahanbahan organik

tersebut bisa berupa jaringan asli tubuh tumbuhan atau binatang mati yang

belum lapuk. Biasanya, humus berwarna gelap dan ciijumpai terutama pada

lapisan atas tanah (top soil)

 

Humus sangat membantu dalam proses penggemburan tanah. dan memiliki

kemampuan daya tukar ion yang tinggi sehingga bias menyimpan unsur hara.

Oleh karenanya, dapat menunjang kesuburan tanah, Namun, media tanam

ini mudah ditumbuhi jamur, terlebih ketika tl’rjadi perubahan suhu, kelembapan,

dan aerasi yang ekstrim. Humus Juga memiliki tingkat porousitas yang rendah

sehingga akar tanaman tidak mampu menyerap air, Dengan demikian,

sebaiknya penggunaan humus sebagai media tanam perlu ditambahkan media

lain yang memiliki porousitas tinggi, misalnya tanah dan pasir.

 

 

B.   BAHAN ANORGANIK

 

Bahan anorganik adalah bahan dengan kandungan unsur mineral tinggi yang

berasal dari proses pelapukan batuan induk di dalam bumi. Proses pelapukan

tersebut diakibatkan o/eh berbagai hal, yaitu pelapukan secara fisik,

biologi-mekanik, dan kimiawi.

Berdasarkan bentuk dan ukurannya, mineral yang berasal dari pelapukan

batuan induk dapat digolongkan menjadi 4 bentuk, yaitu kerikil atau batu-

batuan (berukuran lebih dari 2 mm), pasir (berukuran 50 /-1- 2 mm), debu

(berukuran 2-50u), dan tanah liat (berukuran kurang dari 2ju. Selain itu,

bahan anorganik juga bisa berasal dari bahan-bahan sintetis atau kimia yang

dibuat di pabrik. Beberapa media anorganik yang sering dijadikan sebagai

media tanam yaitu gel, pasir, kerikil, pecahan batu bata, spons, tanah liat,

vermikulit, dan perlit.

 

 

1.   Gel

 

Gel atau hidrogel adalah kristal-kristal polimer yang sering digunakan sebagai

media tanam bagi tanaman hidroponik. Penggunaan media jenis ini sangat

praktis dan efisien karena tidak perlu repot-repot untuk mengganti dengan

yang baru, menyiram, atau memupuk. Selain itu, media tanam ini juga memiliki

keanekaragaman warna sehingga pemilihannya dapat disesuaikan dengan

selera dan warna tanaman. Oleh karenanya, hal tersebut akan menciptakan

keindahan dan keasrian tanaman hias yang diletakkan di ruang tamu atau

ruang kerja.

 

Hampir semua jenis tanaman hias indoor bisa ditanam dalam media ini, misalnya

philodendron dan anthurium. Namun, gel tidak eaeak untuk tanaman hias

berakar keras, seperti adenium atau tanaman hias bonsai. Hal itu bukan

dikarenakan ketidakmampuan gel dalam memasok kebutuhan air, tetapi

lebih dikarenakan pertumbuhan akar tanaman yang mengeras sehingga

bisa membuat vas pecah. Sebagian besar nursery lebih memilih gel sebagai

pengganti tanah untuk pengangkutan tanaman dalam jarak jauh.

Tujuannya agar kelembapan tanaman tetap terjaga.

 

Keunggulan lain dari gel yaitu tetap cantik meskipun bersanding dengan media

lain. Di Jepang gel digunakan sebagai komponen terarium bersama dengan

pasir. Gel yang berwarna-warni dapat memberi kesan hidup pada taman

miniatur tersebut.

 

 2.   Pasir

 

Pasir sering digunakan sebagai media tanam alternatif untuk menggantikan

fungsi tanah. Sejauh ini, pasir dianggap memadai dan sesuai jika digunakan

sebagai media untuk penyemaian benih, pertumbuhan bibit tanaman, dan

perakaran setek batang tanaman. Sifatnya yang cepat kering akan

memudahkan proses pengangkatan bibit tanaman yang dianggap sudah

cukup umur untuk dipindahkan ke media lain. Sementara bobot pasir yang

cukup berat akan mempermudah tegaknya setek batang. Selain itu,

keunggulan media tanam pasir adalah kemudahan dalam penggunaan dan

dapat meningkatkan sistem aerasi serta drainase media tanam. Pasir

malang dan pasir bangunan merupakan Jenis pasir yang sering digunakan

sebagai media tanam.

 

Oleh karena memiliki pori-pori berukuran besar (pori-pori makro) maka pasir

menjadi mudah basah dan cepat kering oleh proses penguapan. Kohesi dan

konsistensi (ketahanan terhadap proses :o::misahan) pasir sangat kecil

sehingga mudah terkikis oleh air atau ~’lgin. Dengan demikian, media pasir

lebih membutuhkan pengairan dan ::emupukan yang lebih intensif.

Hal tersebut yang menyebabkan pasir jarang digunakan sebagai media

tanam secara tunggal.

 

Penggunaan pasir seoagai media tanam sering dikombinasikan dengan campuran

bahan anorganik lain, seperti kerikil, batu-batuan, atau bahan organik yang

disesuaikan dengan jenis tanaman.

 

Pasir pantai atau semua pasir yang berasal dari daerah yang bersersalinitas

tinggi merupakan jenis pasir yang harus dihindari untuk :gunakan sebagai media

tanam, kendati pasir tersebut sudah dicuci :erlebih dahulu. Kadar garam yang

tinggi pada media tanam dapat ,enyebabkan tanaman menjadi merana.

Selain itu, organ-organ tanaman, seperti akar dan daun, juga memperlihatkan

gejala terbakar yang selanjutnya mengakibatkan kematian jaringan (nekrosis).

 

 

3.   Kerikil

 

Pada dasarnya, penggunaaan kerikil sebagai media tanam memang tidak jauh

berbeda dengan pasir. Hanya saja, kerikil memiliki pori-pori makro lebih banyak

daripada pasir. Kerikil sering digunakan sebagai media untuk budi daya tanaman

secara hidroponik. Penggunaan media ini akan membantu peredaran larutan

unsur hara dan udara serta pada prinsipnya tidak menekan pertumbuhan akar.

Namun, kerikil memiliki kemampuan mengikat air yang relatif rendah sehingga

mudah basah dan cepat kering jika penyiraman tidak dilakukan secara rutin.

 

Seiring kemajuan teknologi, saat ini banyak dijumpai kerikil sintesis. Sifat kerikil

sintesis cenderung menyerupai batu apung, yakni memiliki rongga-rongga

udara sehingga memiliki bobot yang ringan. Kelebihan kerikil sintesis dibandingkan

dengan kerikil biasa adalah kemampuannya yang cukup baik dalam menyerap air.

Selain itu, sistem drainase yang dihasilkan juga baik sehingga tetap dapat

mempertahankan kelembapan dan sirkulasi udara dalam media tanam.

 

4.   Pecahan batu bata

 

Pecahan batu bata juga dapat dijadikan alternatif sebagai media tanam. Seperti

halnya bahan anorganik lainnya, media jenis ini juga berfungsi untuk melekatkan

akar. Sebaiknya, ukuran batu-bata yang akan digunakan sebagai media tanam

dibuat keeil, seperti kerikil, dengan ukuran sekitar 2-3 em. Semakin keeil ukurannya,

kemampuan daya serap batu bata terhadap air maupun unsur hara akan semakin

balk. Selain itu, ukuran yang semakin keeil juga akan membuat sirkulasi udara

dan kelembapan di sekitar akar tanaman berlangsung lebih baik.

 

Hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan media tanam ini adalah kondisinya

yang miskin hara. Selain itu, kebersihan dan kesterilan pecahan batu bata yang

belum tentu terjamin. Oleh karena itu, penggunaan media ini perlu ditambahkan

dengan pupuk kandang yang komposisi haranya disesuaikan dengan kebutuhan

tanaman.

 

Walaupun miskin unsur hara, media pecahan batu bata tidak mudah melapuk.

Dengan demikian, pecahan batu bata cocok digunakan sebagai media tanam di

dasar pot karena memiliki kemampuan drainase dan aerasi yang baik. Tanaman

yang sering menggunakan pecahan batu bata sebagai media dasar pot adalah

anggrek.

 

 

5.   Spons (floralfoam)

 

Para hobiis yang berkecimpung dalam budi daya tanaman hias sudah sering

memanfaatkan spans sebagai media tanam anorganik. Dilihat dari sifatnya,

spons sangat ringan sehingga mudah dipindah-pindahkan dan ditempatkan

di mana saja. Walaupun ringan, media jenis ini tidak membutuhkan pemberat

karena setelah direndam atau disiram air akan menjadi berat dengan sendirinya

sehingga dapat menegakkan tanaman.

 

Kelebihan lain dari media tanam spans adalah tingginya daya serap terhadap

air dan unsur hara esensial yang biasanya diberikan dalam bentuk larutan.

Namun, penggunaannya tidak tahan lama karena bahannya mudah hancur.

Oleh karena itu, jika spans sudah terlihat tidak layak pakai (mudah hancur

ketika dipegang), sebaiknya segera diganti dengan yang baru.

Berdasarkan kelebihan dan kekurangannya tersebut, spans sering digunakan

sebagai media tanam untuk tanaman hias bunga potong (cutting flower) yang

penggunaannya eenderung hanya sementara waktu saja.

 

 

6.   Tanah liat

 

Tanah liat merupakan jenis tanah yang bertekstur paling halus dan lengket

atau berlumpur. Karakteristik dari tanah liat adalah memiliki poripori berukuran

kecil (pori-pori mikro) yang lebih banyak daripada pori-pori yang berukuran

besar (pori-pori makro) sehingga memiliki kemampuan mengikat air yang eukup

kuat. Pori-pori mikro adalah pori-pori halus yang berisi air kapiler atau udara.

Sementara pori-pori makro adalah pori-pori kasar yang berisi udara atau air

gravitasi yang mudah hilang. Ruang dari setiap pori-pori mikro berukuran

sangat sempit sehingga menyebabkan sirkulasi air atau udara menjadi lamban.

 

Pada dasarnya, tanah liat bersifat miskin unsur hara sehingga perlu

dikombinasikan dengan bahan-bahan lain yang kaya akan unsur hara.

Penggunaan tanah liat yang dikombinasikan dengan bahan-bahan lain seperti

pasir dan humus sangat cocok dijadikan sebagai media penyemaian, eangkok,

dan bonsai.

 

7.   Vermikulit dan perlit

 

Vermikulit adalah media anorganik steril yang dihasilkan dari pemananasan

kepingan-kepingan mika serta mengandung potasium dan H’,lum. Berdasarkan

sifatnya, vermikulit merupakan media tanam yang memiliki kemampuan

kapasitas tukar kation yang tinggi, terutama dalam keadaan padat dan pada

saat basah. Vermikulit dapat menurunkan berat jenis, dan meningkatkan daya

serap air jika digunakan sebagai campuran media tanaman. Jika digunakan

sebagai campuran media tanam,

 

vermikulit dapat menurunkan berat jenis dan meningkatkan daya absorpsi air

sehingga bisa dengan mudah diserap oleh akar tanaman.

 

Berbeda dengan vermikulit, perlit merupakan produk mineral berbobot ringan

serta memiliki kapasitas tukar kation dan daya serap air yang rendah. Sebagai

campuran media tanam, fungsi perlit sama dengan Vermikulit, yakni menurunkan

berat jenis dan meningkatkan daya serap air.

 

Penggunaan vermikulit dan perlit sebagai media tanam sebaiknya dikombinasikan

dengan bahan organik untuk mengoptimalkan tanaman dalam menyerap

unsur-unsur hara.

 

8.   Gabus (styrofoam)

 

Styrofoam merupakan bahan anorganik yang terbuat dari kopolimer styren yang

dapat dijadikan sebagai alternatif media tanam. Mulanya, styrofoam hanya

digunakan sebagai media aklimatisasi (penyesuaian diri) bagi tanaman sebelum

ditanam di lahan. Proses aklimatisasi tersebut hanya bersifat sementara.

Styrofoam yang digunakan berbentuk kubus jengan ukuran (1 x 1 x 1) cm.

 

Sekarang, beberapa nursery menggunakan styrofoam sebagai campuran media

tanam untuk meningkatkan porousitas media tanam. Jntuk keperluan ini, styrofoam

yang digunakan dalam bentuk yang sudah dihancurkan sehingga menjadi bola-bola

kecil, berukuran sebesar biji kedelai. Penambahan styrofoam ke dalam media tanam

membuatnya menjadi ringan. Namun, media tanam sering dijadikan sarang oleh

semut.

sumber: http://www.facebook.com/groups/asosiasipepayaindonesia/doc/245123442223992/

Perihal INDOAGROW
kami adalah lembaga yang bergerak dalam pengembangan sumberdaya pertanian, menyediakan berbagai macam sarana produksi pertanian, dan konsultasi pertanian alamat : Dukuh Serut Desa Tegalontar Kec Sragi Pekalongan Telepon 081931723043 (WA), 081325666314, 08562813733 email: indoagrow@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: