BUDIDAYA TERNAK DOMBA

BUDIDAYA TERNAK DOMBA

 

Domba yang kita kenal sekarang merupakan hasil dometikasi manusia yang

sejarahnya diturunkan dari 3 jenis domba liar, yaitu Mouflon (Ovis musimon)

yang berasal dari Eropa Selatan dan Asia Kecil, Argali (Ovis amon) berasal

dari Asia Tenggara, Urial (Ovis vignei) yang berasal dari Asia.

 

JENIS

 

Domba seperti halnya kambing, kerbau dan sapi, tergolong dalam famili Bovidae.

Kita mengenal beberapa bangsa domba yang tersebar diseluruh dunia, seperti:

1)    Domba Kampung adalah domba yang berasal dari Indonesia

 

 

2)    Domba Priangan berasal dari Indonesia dan banyak terdapat di daerah

Jawa Barat.

 

 

3)    Domba Ekor Gemuk merupakan domba yang berasal dari Indonesia bagian

Timur seperti Madura, Sulawesi dan Lombok.

 

4)    Domba Garut adalah domba hasil persilangan segi tiga antara domba

kampung, merino dan domba ekor gemuk dari Afrika Selatan.

 

 

Di Indonesia, khususnya di Jawa, ada 2 bangsa domba yang terkenal, yakni :

domba ekor gemuk yang banyak terdapat di daerah Jawa Tengah dan Jawa

Timur dan domba ekor tipis yang banyak terdapat di Jawa Barat

 

Domba Ekor Tipis

 

 

MANFAAT

 

Daging domba merupakan sumber protein dan lemak hewani. Walaupun belum

memasyarakat, susu domba merupakan minuman yang bergizi. Manfaat lain

dari berternak domba adalah bulunya dapat digunakan sebagai industri tekstil.

 

PERSYARATAN LOKASI

 

Lokasi untuk peternakan domba sebaiknya berada di areal yang cukup luas,

udaranya segar dan keadaan sekelilingnya tenang, dekat dengan sumber pakan

ternak, memiliki sumber air, jauh dari daerah pemukiman dan sumber air penduduk

(minimal 10 meter), relatif dekat dari pusat pemasaran dan pakan ternak.

 

PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA

 

Penyiapan Sarana dan Peralatan

 

Perkandangan

Kandang harus kuat sehingga dapat dipakai dalam waktu yang lama, ukuran

sesua dengan jumlah ternak, bersih, memperoleh sinar matahari pagi, ventilasi

kandang harus cukup dan terletak lebih tinggi dari lingkungan sekitarnya agar

tidak kebanjiran. Atap kandang diusahakan dari bahan yang ringan dan memiliki

daya serap panas yang relatif kecil, misalnya dari atap rumbia.

 

Kandang dibagi menjadi beberapa bagian sesuai fungsinya, yaitu:

a)   Kandang induk/utama, tempat domba digemukkan. Satu ekor domba

membutuhkan luas kandang 1 x 1 m.

b)   Kandang induk dan anaknya, tempat induk yang sedang menyusui anaknya

selama 3 bulan. Seekor induk domba memerlukan luas 1,5 x 1 m dan anak

domba memerlukan luas 0,75 x 1 m.

c)   Kandang pejantan, tempat domba jantan yang akan digunakan sebagai

pemacak seluas 2 x 1,5 m/pemancak.

 

Di dalam kandang domba sebaiknya terdapat tempat makan, palung makanan dan

minuman, gudang makanan, tempat umbaran (tempat domba saat kandang

dibersihkan) dan tempat kotoran/kompos.

 

Tipe dan model kandang pada hakikatnya dapat dibedakan dalam 2 tipe, yaitu:

 

a.   Tipe kandang Panggung

Tipe kandang ini memiliki kolong yang bermanfaat sebagai penampung

kotoran. Kolong digali dan dibuat lebih rendah daripada permukaan tanah

sehingga kotoran dan air kencingnya tidak berceceran. Alas kandang terbuat

dari kayu/bambu yang telah diawetkan, Tinggi panggung dari tanah dibuat

minimal 50 cm/2 m untuk peternakan besar. Palung makanan harus dibuat

rapat, agar bahan makanan yang diberikan tidak tercecer keluar.

 

 

b.   Tipe kandang Lemprak

Kandang tipe ini pada umumnya digunakan untuk usaha ternak domba

kereman. Kandang lemprak tidak dilengkapi dengan alas kayu, tetapi ternak

beralasan kotoran dan sisa-sisa hijauan pakan. Kandang tidak dilengkapi

dengan palung makanan, tetapi keranjang rumput yang diletakkan diatas alas.

Pemberian pakan sengaja berlebihan, agar dapat hasil kotoran yang banyak.

Kotoran akan dibongkar setelah sekitar 1-6 bulan.

 

Penyiapan Bibit

Domba yang unggul adalah domba yang sehat dan tidak terserang oleh hama

penyakit, berasal dari bangsa domba yang persentase kelahiran dan kesuburan

tinggi, serta kecepatan tumbuh dan persentase karkas yang baik. Dengan

demikian keberhasilan usaha ternak domba tidak bisa dipisahkan dengan pemilihan

induk/pejantan yang memiliki sifat-sifat yang baik.

 

1)   Pemilihan Bibit dan Calon Induk

a)    Calon Induk: berumur 1,5-2 tahun, tidak cacat, bentuk perut normal,

telinga kecil hingga sedang, bulu halus, roman muka  baik dan memiliki

nafsu kawin besar dan ekor normal.

b)    Calon Pejantan: berumur 1,5-2 tahun, sehat dan tidak cacat,badan

normal dan keturunan dari induk yang melahirkan anak 2 ekor/lebih,

tonjolan tulang pada kaki besar dan mempunyai buah zakar yang sama

besar serta kelaminnya dapat bereaksi, mempunyai gerakan yang lincah,

roman muka baik dan tingkat pertumbuhan relatif cepat.

 

2)   Reproduksi dan Perkawinan

Hal yang harus di ketahui oleh para peternak dalam pengelolaan reproduksi

adalah pengaturan perkawinan yang terencana dan tepat waktu.

a)  Dewasa Kelamin, yaitu saat ternak domba memasuki masa birahi yang

pertama kali dan siap melaksanakan proses reproduksi. Fase ini dicapai

pada saat domba berumur 6-8 bulan, baik pada yang jantan maupun

yang betina.

b)  Dewasa tubuh, yaitu masa domba jantan dan betina siap untuk dikawinkan.

Masa ini dicapai pada umur 10-12 bulan pada betina dan 12 bulan pada

jantan. Perkawinan akan berhasil apabila domba betina dalam keadaan

birahi.

 

3)   Proses Kelahiran

Lama kebuntingan bagi domba adalah 150 hari (5 bulan). Menjelang kelahiran

anak domba, kandang harus bersih dan diberi alas yang kering. Bahan untuk

alas kandang dapat berupa karung goni/jerami kering. Obat yang perlu

dipersiapkan adalah jodium untuk dioleskan pada bekas potongan tali pusar.

Induk domba yang akan melahirkan dapat diketahui melalui perubahan fisik

dan perilakunya sebagai berikut:

a.    Keadaan perut menurun dan pinggul mengendur.

b.    Buah susu membesar dan puting susu terisi penuh.

c.    Alat kelamin membengkak, berwarna kemerah-merahan dan lembab.

d.    Ternak selalu gelisah dan nafsu makan berkurang.

e.    Sering kencing.

 

Proses kelahiran berlangsung 15-30 menit, jika 45 menit setelah ketuban pecah,

anak domba belum lahir, kelahiran perlu dibantu. Anak domba yang baru lahir

dibersihkan dengan menggunakan lap kering agar dapat bernafas. Biasanya

induk domba akan menjilati anaknya hingga kering dan bersih.

 

Pemeliharaan

 

1)   Sanitasi dan Tindakan Preventif

Sanitasi lingkungan dapat dilakukan dengan membersihkan kandang dan

peralatan dari sarang serangga dan hama. kandang terutama tempat pakan

dan tempat minum dicuci dan dikeringkan setiap hari. Perlu dilakukan

pembersihan rumput liar di sekitar kandang. Kandang ternak dibersihkan

seminggu sekali.

 

2)   Pengontrolan Penyakit

Domba yang terserang penyakit dapat segera diobati dan dipisahkan dari

yang sehat. Lakukan pencegahan dengan menyuntikan vaksinasi pada

domba-domba yang sehat.

 

3)   Perawatan Ternak

Induk bunting diberi makanan yang baik dan teratur, ruang gerak yang

lapang dan dipisahkan dari domba lainnya. induk yang baru melahirkan diberi

minum dan makanan hijauan yang telah dicampurkan dengan makanan penguat

lainnya. Selain itu, induk domba harus dimandikan. Anak domba (Cempe) yang

baru dilahirkan, dibersihkan dan diberi makanan yang terseleksi. Cempe yang

disapih perlu diperhatikan. pakan yang berkualitas dalam bentuk bubur tidak

lebih dari 0,20 kg satu kali sehari.

 

Perawatan ternak dewasa meliputi:

 

a.   Memandikan ternak secara rutin minimal seminggu sekali.

dengan cara disikat dan disabuni. pada pagi hari, kemudian dijemur dibawah

sinar matahari pagi.

b.   Mencukur Bulu

Pencukuran bulu domba dengan gunting biasa/cukur ini. dilakukan

minimal 6 bulan sekali dan disisakan guntingan bulu setebal kira-kira 0,5 cm.

Sebelumnya domba dimandikan sehingga bulu yang dihasilkan dapat dijadikan

bahan tekstil. Keempat kaki domba diikat agar tidak lari pada saat dicukur.

Pencukuran dimulai dari bagian perut kedepan dan searah dengan punggung

domba.

c.   Merawat dan Memotong Kuku

Pemotongan kuku domba dipotong 4 bulan sekali dengan golok, pahat kayu,

pisau rantan, pisau kuku atau gunting.

 

4)   Pemberian Pakan

Zat gizi makanan yang diperlukan oleh ternak domba dan mutlak harus

tersedia dalam jumlah yang cukup adalah karbohidrat, lemak, protein, vitamin,

mineral dan air. Bahan pakan untuk domba pada umumnya digolongkan dalam

4 golongan sebagai berikut:

a.  Golongan Rumput-rumputan, seperti rumput gajah, benggala, rachiaria,

raja, meksiko dan rumput alam.

b.  Golongan Kacang-kacangan, seperti daun lamtoro, turi, gamal daun

kacang tanah, daun kacang-kacangan, albisia, kaliandra, liricidia dan

siratro.

c.   Hasil Limbah Pertanian, seperti daun nangka, daun waru, daun dadap,

daun kembang sepatu, daun pisang, daun jagung, daun ketela pohon,

daun ketela rambat dan daun beringin.

d.   Golongan Makanan Penguat (Konsentrat), seperti dedak, jagung karing,

garam dapur, bungkil kelapa, tepung ikan, bungkil kedelai, ampas tahu,

ampas kecap dan biji kapas.

 

Pakan untuk domba berupa campuran dari keempat golongan di atas yang

disesuaikan dengan tingkatan umur. Adapun proporsi dari campuran tersebut

adalah:

 

a.   Ternak dewasa: rumput 75%, daun 25%

b.   Induk bunting: rumput 60%, daun 40%, konsentrat 2-3 gelas

c.   Induk menyusui: rumput 50%, daun 50% dan konsentrat2-3 gelas

d.   Anak sebelum disapih: rumput 50%, daun 50%

e.   Anak lepas sapih: rumput 60%, daun 40% dan konsentrat 0,5–1 gelas

 

Sedangkan dosis pemberian ransum untuk pertumbuhan domba adalah

sebagai berikut:

 

a.   Bobot badan 1,4 kg: rumput/hijauan=180 kg/hari, pertambahan

bobot=50 gram/hari

b.   Bobot badan 1,4 kg: rumput/hijauan=340 kg/hari, pertambahan

bobot=100 gram/hari

c.   Bobot badan 1,4 kg: rumput/hijauan=410 kg/hari, pertambahan

bobot=150 gram/hari

d.   Bobot badan 2,9 kg: rumput/hijauan=110 kg/hari, pertambahan

bobot=50 gram/hari

e.   Bobot badan 2,9 kg: rumput/hijauan=280 kg/hari, pertambahan

bobot=100 gram/hari

f.    Bobot badan 2,9 kg: rumput/hijauan=440 kg/hari, pertambahan

bobot=150 gram/hari

g.   Bobot badan 4,3 kg: konsentrat=160 gram/hari, pertambahan

bobot=50 gram/hari

h.   Bobot badan 4,3 kg: konsentrat=320 gram/hari, pertambahan

bobot=100 gram/hari

i.    Bobot badan 4,3 kg: konsentrat=470 gram/hari, pertambahan

bobot=150 gram/hari

j.    Bobot badan 5,8 kg: konsentrat=100 gram/hari, pertambahan

bobot=50 gram/hari

k.   Bobot badan 5,8 kg: konsentrat=260 gram/hari, pertambahan

bobot=100 gram/hari

l.    Bobot badan 5,8 kg: konsentrat=410 gram/hari, pertambahan

bobot=150 gram/hari

m.  Bobot badan 7,2 kg: konsentrat=60 gram/hari, pertambahan

bobot=50 gram/hari

n.   Bobot badan 7,2 kg: konsentrat=180 gram/hari, pertambahan

bobot=100 gram/hari

o.   Bobot badan 7,2 kg: konsentrat=340 gram/hari, pertambahan

bobot=150 gram/hari

p.   Bobot badan 8,7 kg: konsentrat=50 gram/hari, pertambahan

bobot=50 gram/hari

q.   Bobot badan 8,7 kg: konsentrat=110 gram/hari, pertambahan

bobot=100 gram/hari

r.    Bobot badan 8,7 kg: konsentrat=260 gram/hari, pertambahan

bobot=150 gram/hari

s.   Bobot badan 10,1 kg: konsentrat=40 gram/hari, pertambahan

bobot=50 gram/hari

t.   Bobot badan 10,1 kg: konsentrat=280 gram/hari, pertambahan

bobot=100 gram/hari

u.  Bobot badan 10,1 kg: konsentrat=440 gram/hari, pertambahan

bobot=150 gram/hari

 

5)   Pemberian Vaksinasi dan Obat

Pemberian vaksinasi dapat dilakukan setiap enam bulan sekali vaksinasi

dapat dilakukan dengan menyuntikan obat kedalam tubuh domba. Vaksinasi

mulai dilakukan pada anak domba (cempe) bila telah berusia 1 bulan,

selanjutnya diulangi pada usia 2-3 bulan. Vaksinasi yang biasa diberikan

adalah jenis vaksin Spora (Max Sterne), Serum anti anthrax, vaksin AE,

dan Vaksin SE (Septichaemia Epizootica).

 

6)   Pemeliharaan Kandang

Pemeliharaan kandang meliputi pembersihan kotoran domba menimal satu

minggu sekali, membuang kotoran ke tempat penampungan limbah,

membersihkan lantai atau alas, penyemprotan dan pengapuran kandang

untuk disinfektan.

 

HAMA DAN PENYAKIT

 

1)    Penyakit Mencret

Penyebab : bakteri Escherichia coli yang menyerang anak domba   berusia

3 bulan.

Pengobatan: antibiotika dan sulfa yang diberikan lewat mulut.

 

2)    Penyakit Radang Pusar

Penyebab:     alat pemotongan pusar yang tidak steril atau tali pusar tercemar

oleh bakteri Streptococcus, Staphyloccus, Escherichia coli dan

Actinomyces necrophorus. Usia domba yang terserang biasanya

cempe usia 2-7 hari.

Gejala :    terjadi pembengkakan di sekitar pusar dan apabila disentuh domba

akan kesakitan.

Pengendalian:     dengan antibiotika, sulfa dan pusar dikompres dengan larutan

rivanol (Desinfektan).

 

3)    Penyakit Cacar Mulut

Penyakit ini menyerang domba usia sampai 3 bulan.

Gejala:     cempe yang terserang tidak dapat mengisap susu induknya karena

tenggorokannya terasa sakit sehingga dapat mengakibatkan

kematian.

Pengendalian: dengan sulfa seperti Sulfapyridine, Sulfamerozine, atau pinicillin.

 

4)    Penyakit Titani

Penyebab:    kekurangan Defisiensi Kalsium (Ca) dan Mangan (Mn). Domba

yang diserang biasanya berusia 3-4 bulan.

Gejala :     domba selalu gelisah, timbul kejang pada beberapa ototnya bahkan

sampai keseluruh badan.

Pengendalian : Penyakit ini dapat diobati dengan menyuntikan larutan

Genconos calcicus dan Magnesium.

 

5)    Penyakit Radang Limoah

Penyakit ini menyerang domba pada semua usia, sangat berbahaya,

penularannya cepat dan dapat menular ke manusia.

Penyebab: bakteri Bacillus anthracis..

Gejala:      suhu tubuh meninggi, dari lubang hidung dan dubur keluar cairan

yang bercampur dengan darah, nadi berjalan cepat, tubuh gemetar

dan nafsu makan hilang.

Pengendalian:     dengan menyuntikan antibiotika Pracain penncillin G, dengan

dosis 6.000-10.000 untuk /kg berat tubuh domba tertular.

 

6)    Penyakit Mulut dan kuku

Penyakit menular ini dapat menyebabkan kematian pada ternak domba, dan

yang diserang adalah pada bagian mulut dan kuku. Penyebab: virus dan

menyerang semua usia pada domba

Gejala: mulut melepuh diselaputi lendir.

Pengendalian: membersihkan bagian yang melepuh pada mulut dengan

menggunakan larutan Aluminium Sulfat 5%, sedangkan pada

kuku dilakukan dengan merendam kuku dalam larutan formalin

atau Natrium karbonat 4%.

 

7)    Penyakit Ngorok

Penyebab: bakteri Pasteurella multocida.

Gejala:     nafsu makan domba berkurang, dapat menimbulkan bengkak pada

bagian leher dan dada. Semua usia domba dapat terserang penyakit

ini, domba yang terserang terlihat lidahnya bengkak dan menjulur

keluar, mulut menganga, keluar lendir berbuih dan sulit tidur.

Pengendalian: menggunakan antibiotika lewat air minum atau suntikan.

 

8)    Penyakit perut Kembung

Penyebab:    pemberian makanan yang tidak teratur atau makan rumput yang

masih diselimuti embun.

Gejala:     lambung domba membesar dan dapat menyebabkan kematian.

Untuk itu diusahakan pemberian makan yang teratur jadwal dan

jumlahnya jangan digembalakan terlalu pagi

Pengendalian:     memberikan gula yang diseduh dengan asam, selanjutnya

kaki domba bagian depan diangkat keatas sampai gas keluar.

 

9)    Penyakit Parasit Cacing

Semua usia domba dapat terserang penyakit ini.

Penyebab:    cacing Fasciola gigantica (Cacing hati), cacing Neoascaris

vitulorum (Cacing gelang), cacing Haemonchus contortus

(Cacing lambung), cacing Thelazia rhodesii (Cacing mata).

Pengendalian:    diberikan Zanil atau Valbazen yang diberikan lewat minuman,

dapat juga diberi obat cacing seperti Piperazin dengan dosis

220 mg/kg berat tubuh domba.

 

10)   Penyakit Kudis

Merupakan penyakit menular yang menyerang kulit domba pada semua usia.

Akibat dari penyakit ini produksi domba merosot, kulit menjadi jelek dan

mengurangi nilai jual ternak domba.

Penyebab:     parasit berupa kutu yang bernama Psoroptes ovis, Psoroptes

ciniculi dan Chorioptes bovis.

Gejala:     tubuh domba lemah, kurus, nafsu makan menurun dan senang

menggaruk tubuhnya. Kudis dapat menyerang muka, telinga, perut

punggung, kaki dan pangkal ekor.

Pengendalian:     dengan mengoleskan Benzoas bensilikus 10% pada luka,

menyemprot domba dengan Coumaphos 0,05-0,1%.

 

11)  Penyakit Dermatitis

Adalah penyakit kulit menular pada ternak domba, menyerang kulit bibit

domba.

Penyebab:    virus dari sub-group Pox virus dan menyerang semua usia

domba.

Gejala:      terjadi peradangan kulit di sekitar mulut, kelopak mata, dan alat

genital. Pada induk yang menyusui terlihat radang kelenjar susu.

Pengendalian: menggunakan salep atau Jodium tinctur pada luka.

 

12)  Penyakit Kelenjar Susu

Penyakit ini sering terjadi pada domba dewasa yang menyusui, sehingga air

susu yang diisap cempe tercemar.

Penyebab:    kambing domba induk yang menyusui tidak secara ruti dibersihkan.

Gejala: kambing domba bengkak, bila diraba tersa panas, terjadi demam dan

suhu tubuh tinggi, nafsu makan kurang, produsi air susu induk

berkurang.

Pengendalian: pemberian obatobatan antibiotika melalui air minum.

 

Secara umum pengendalian dan pencegahan penyakit yang terjadi pada

domba dapat dilakukan dengan:

a)      Menjaga kebersihan kandang, dan mengganti alas kandang.

b)      Mengontrol anak domba (cempe) sesering mungkin.

c)      Memberikan nutrisi dan makanan penguat yang mengandung mineral, kalsium

dan mangannya.

d)      Memberikan makanan sesuai jadwal dan jumlahnya, Hijauan pakan yang

baru dipotong sebaiknya dilayukan lebih dahulu sebelum diberikan.

e)      Menghindari pemberian makanan kasar atau hijauan pakan yang

terkontaminasi siput dan sebelum dibrikan sebainya dicuci dulu.

f)      Sanitasi yang baik, sering memandikan domba dan mencukur bulu.

g)      Tatalaksana kandang diatur dengan baik.

h)      Melakukan vaksinasi dan pengobatan pada domba yang sakit.

 

PANEN

Hasil Utama

Hasil utama dari budidaya domba adalah karkas (daging)

 

Hasil Tambahan

Hasil tambahan dari budidaya domba adalah bulunya (wool) yang dapat di

jadikan sebagai bahan tekstil.

 

Pembersihan

Sebelum dipotong ternak dibersihkan dengan cara mencuci kaki domba dan

menyemprotkan air diatas kepala ternak agar karkas yang dihasilkan tidak

tercemar oleh bakteri dan kotoran.

 

PASCAPANEN

 

Stoving

Ada beberapa prinsip teknis yang harus diperhatikan dalam pemotongan domba

agar diperoleh hasil pemotongan yang baik, yaitu:

1)    Ternak domba harus diistirahatkan sebelum pemotongan

2)    Ternak domba harus bersih, bebas dari tanah dan kotoran lain yang dapat

mencemari daging.

3)    Pemotongan ternak harus dilakukan secepat mungkin, dan rasa sakit yang

diderita ternak diusahakan sekecil mungkin dan darah harus keluar secara

tuntas.

4)    Semua proses yang digunakan harus dirancang untuk mengurangi jumlah

dan jenis mikroorganisme pencemar seminimal mungkin.

 

Pengulitan

Pengulitan pada domba yang telah disembelih dapat dilakukan dengan

menggunakan pisau tumpul atau kikir agar kulit tidak rusak. Kulit domba

dibersihkan dari daging, lemak, noda darah atau kotoran yang menempel.

Jika sudah bersih, dengan alat perentang yang dibuat dari kayu, kulit domba

dijemur dalam keadaan terbentang. Posisi yang paling baik untuk penjemuran

dengan sinar matahari adalah dalam posisi sudut 45 derajat.

 

Pengeluaran Jeroan

Setelah domba dikuliti, isi perut (visceral) atau yang sering disebut dengan

jeroan dikeluarkan dengan cara menyayat karkas (daging) pada bagian

perut domba.

 

Pemotongan Karkas

Karkas dibelah menjadi dua bagian yaitu karkas tubuh bagian kiri dan karkas

tubuh bagian kanan. Karkas dipotong-potong menjadi sub-bagian leher, paha

depan, paha belakang, rusuk dan punggung. Potongan tersebut dipisahkan

menjadi komponen daging, lemak, tulang dan tendon. Pemotongan karkas

harus mendapat penanganan yang baik supaya tidak cepat menjadi rusak,

terutama kualitas dan hygienitasnya. Sebab kondisi karkas dipengaruhi oleh

peran mikroorganisme selama proses pemotongan dan pengeluaran jeroan.

sumber: http://www.facebook.com/groups/asosiasipepayaindonesia/doc/251896994879970/

Perihal INDOAGROW
kami adalah lembaga yang bergerak dalam pengembangan sumberdaya pertanian, menyediakan berbagai macam sarana produksi pertanian, dan konsultasi pertanian alamat : Dukuh Serut Desa Tegalontar Kec Sragi Pekalongan Telepon 081931723043 (WA), 081325666314, 08562813733 email: indoagrow@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: