BUDIDAYA MENTIMUN

BUDIDAYA MENTIMUN

Cucumis Sativus L

 

 

Kerajaan: Plantae

Divisi: Magnoliophyta

Kelas: Magnoliopsida

Ordo: Cucurbitales

Famili: Cucurbitaceae

Genus: Cucumis

Spesies: C. sativus

 

Mentimun (Cucumis sativus L) suku labu-labuan (Cucurbitaceae) merupakan

tumbuhan yang menghasilkan buah yang dapat dimakan.

Buahnya dipanen ketika belum masak untuk dijadikan sayuran atau penyegar,

tergantung jenisnya.

Mentimun dapat ditemukan di berbagai hidangan dari seluruh dunia dan memiliki

kandungan air yang cukup banyak di dalamnya sehingga berfungsi menyejukkan.

Potongan buah mentimun juga digunakan untuk membantu melembabkan wajah.

Mentimun berupa herba melata atau setengah merambat dan merupakan

tanaman semusim (setelah berbunga dan berbuah tanaman mati).

Perbungaannya berumah satu (monoecious) dengan tipe bunga jantan dan bunga

hermafrodit (banci). Bunga pertama yang dihasilkan, biasanya pada usia 4-5 minggu,

adalah bunga jantan.Bunga-bunga selanjutnya adalah bunga banci apabila

pertumbuhannya baik. Satu tumbuhan dapat menghasilkan 20 buah namun dalam

budidaya biasanya jumlah buah dibatasi untuk menghasilkan ukuran buah yang baik.

 

Beberapa jenis mentimun

 

MERCY  F1

–    Buah besar, panjang 22 – 24 cm, diameter 6 – 7 cm.

–    Bentuk seragam, produktif

–    Warna buah hijau tua

–    Rasa buah tidak pahit

–    Toleran DM dan Antraknosa

–    Awal panen 34 HSS

–    Potensi hasil 50 – 60 ton/ha

 

V E N U S

–     Buah sedang dan langsing

–     Rasa manis dan segar

–     Cocok untuk lalab

–     Toleran rebah batang dan Antraknosa

–     Awal panen 32 HSS

–     Potensi hasil 50 ton/ha

–     Untuk dataran rendah

 

BELLA F1

-­    Rasa manis, segar, tidak pahit

­-    Warna buah hijau sedang

­-    Bobot buah 120 – 130 g/tan

­-    Toleran DM dan Antraknosa

­-    Awal panen 32 HSS

­-    Produksi mencapai 2 kg/tan

 

NELLY F1

-­    Tipe lalab Bandung

­-    Buah silindris, panjang 10 cm, diameter 4 cm

­-    Warna buah hijau tua, bobot 110 g/buah

­-    Vigor bagus, daun hijau tua

­-    Buah tidak pahit

­-    Hasil Tinggi

­-    Untuk dataran rendah – menengah

 

MAYAPADA  F1

-­    Bentuk buah meruncing, bobot 120 – 130 g/buah

­-    Warna buah hijau muda

­-    Toleran DM dan Antraknosa

­-    Awal panen 32 HST

­-    Potensi hasil 2,2 kg/tanaman

­-    Untuk dataran rendah – menengah

 

BABY 007 F1

­-    Bentuk buah meruncing, bobot 50 – 80 g/buah

­-    Warna buah hijau muda, tidak pahit

­-    Toleran DM

­-    Panen mulai 33 – 35 HSS Potensi hasil 0,8 – 1 kg/tan.

­-    Untuk dataran rendah

 

Syarat Pertumbuhan

 

Iklim Adaptasi mentimun pada berbagai iklim cukup tinggi, namun pertumbuhan

optimum pada iklim kering.

Cukup mendapat sinar matahari, temperatur (21,1 -26,7°C) dan tidak banyak

hujan.

Ketinggian optimum 1.000 – 1.200 m dpl.b.

 

Media Tanam Tanah gembur, banyak mengandung humus, drainase baik dan

pH tanah 6-7.

Pembibitan dan Persemaian

 

Persemaian

Persemaian dilakukan sebelum penanaman langsung di lapangan, benih diperam

pada kertas merang lembab selama 24 jam di tempat yang hangat.

Setelah muncul radikula baru, kecambah dipindah ke polibag ukuran 4 x 7 cm.

Media polibag terdiri dari campuran :

–    tanah/pasir :

–    pupuk kandang/kompos dengan perbandingan 1 : 1 atau 2 : 1.

–    dan ditambah TSP secukupnya.

Setelah pindah semai, media ditambah Petrofur secukupnya.

Selama dalam persemaian, bibit disiram air 1 – 2 kali sehari, serta disemprot dengan

fungisida atau insektisida untuk mencegah serangan hama atau penyakit dengan

dosis rendah.

Pindah tanam dilakukan setelah bibit berumur 10 – 15 hari, atau setelah memiliki

2 – 3 daun sempurna.

 

Pengolahan Lahan

Lahan yang tersedia dibajak dan digaru untuk menciptakan kondisi tanah yang

berstruktur gembur kemudian dibuat bedengan ukuran 6 x 1 m, dengan jarak

antar bedeng 1 m.

Dalam bedengan tersebut ditambah pupuk kandang (25.000 kg/ha),

ZA (1200 kg/ha), TSP (250 kg), dan KCl (300 kg/ha).

Dosis tersebut merupakan dosis total kebutuhan tanaman. Selanjutnya, bedengan

dicangkul untuk meratakan campuran pupuk yang ada.

Selanjutnya adalah memasang mulsa plastik hitam perak yang dilakukan pada siang

hari.

 

 

Pindah Tanam (Transplanting)

Satu hari sebelum transplanting, lahan perlu diairi untuk menambah kelembaban

tanah.

Transplanting dilakukan sore hari untuk memperpendek masa stress tanaman akibat

pindah tanam. Plastik disobek hati-hati untuk mencegah pecahnya bola tanah.

Bibit ditanam dengan leher akar sejajar dengan permukaan tanah. Daerah tanah

kemudian ditekan untuk memadatkan tanah. Setelah transplanting, tanaman perlu

dikocor dengan Agrimicin/Agrep dengan konsentrasi 1 gr/lt air. Sedangkan jarak

tanam adalah 60 x 50 cm.

 

Pemeliharaan

Pemeliharaan tanaman meliputi pemupukan, pengairan, pemasangan lanjaran,

wiwil dan ikat, serta pengendalian hama dan penyakit yang menyerang tanaman

tersebut.

 

1. Pemupukan

Pemupukan dilakukan 3 kali dengan dosis 10 gr per tanaman atau 1 sendok teh

untuk aplikasi pertama pada umur 12 hst. Sedangkan aplikasi kedua dan ketiga

dengan dosis 20 gr pertanaman atau 1 sendok makan pada umur 25 dan 45 hst.

Pupuk diletakkan pada jarak 10 – 20 cm dari tanaman (dibawah mulsa).

 

2. Pengairan

Pengairan diberikan setiap selesai pemupukan. Sedangkan pengairan rutin

diberikan dengan melihat kondisi tanah di bawah mulsa. Pada musim hujan, yang

harus diperhatikan adalah drainase yang harus terbuka untuk membuang air dari

dalam areal tanaman.

 

3. Pemasangan lanjaran

Pemasangan lanjaran bisa dilakukan atau dipasang tanaman belum transplanting

atau dipasang setelah selesai tanam. Hal ini untuk mencegah kerusakan pada

akar tanaman.

 

 

4. Pewiwilan dan Pengikatan

Wiwil adalah pekerjaan membuang tunas-tunas yang tumbuh di ruas ke 3 atau 4.

Dampak positif dari wiwil ini adalah mempercepat pertumbuahan tanaman ke atas

disamping untuk merangsang pertumbuhan tunas-tunas baru, Sedangkan fungsi

ikat adalah agar tanaman dapat menjalar ke atas, sehingga tanaman dapat

tumbuh tegak. Dengan ikat akan mempermudah pelaksanaan pemeliharaan dan

panen.

 

Hama dan Penyakit

 

Hama-hama yang biasa menyerang tanaman mentimun

 

1. Trips

Ciri-ciri :  tanaman yang terserang thrips adalah daun keriting ke atas,

pertumbuhan kerdil, serta daun menguning.

Pengendalian : Hama ini dapat dikendalikan dengan pestisida Winder.

 

2. Oteng-oteng /kutu kuya (Aulocaphora sp)

Merupakan kumbang dengan ukuran tubuh 1 cm dengan sayap kuning polos.

Ciri-ciri : Menyerang dengan merusak dan memakan daun hingga tinggal tulang

daun.

Pengendalian : Hama ini dikendalikan dengan Lannate dan Sevin 85 s.

 

3. Lalat buah (Dacus sp)

Lalat menyerang buah dengan bertelur. Larva lalat merusak buah dari dalam.

Pengendalaian : Hama ini dikendalikan dengan memasang perangkap lalat yang

telah diberi larutan Petrogenol, serta dengan semprot

insektisida yang berbau menyengat seperti Malathion.

 

4. Kutu daun (Aphids sp))

Kutu berukuran 1 – 2 mm, kuning atau kuning kemerahan atau hijau gelap sampai

hitam.

Gejala serangan : daun menjadi keriput, keriting dan menggulung ke bawah.

Pengendalian : Hama ini dapat dikendalikan dengan Perfectin 40 EC.

 

5. Ulat Tanah (Agrotis ipsilon)

Ulat ini berwarna hitam dan menyerang tanaman terutama yang masih muda.

Gejala: Batang tanaman dipotong disekitar leher akar.

Pengendalian : dapat menggunakan decis, matador dan regennt.

 

Penyakit yang biasa menyerang mentimun :

 

1. Rebah bibit (Dumping off)

Disebabkan oleh jamur Phytium spp.,

Gejala  :  busuk basah pada batang bibit dekat dengan permukaan tanah.

Pengendalian : Dapat dikendalikan dengan Kocide.

 

2. Downy mildew (Pseudoperonospora cubensis)

Gejala serangan : pada daun terdapat bercak kuning dan berjamur.

Pada stadia lanjutan, daun akan menjadi coklat dan busuk.

Pengendalian : Penyakit ini dapat dikendalikan dengan Fungisida seperti Victory,

Saromyl.

3. Powdery mildew (Erisiphe cichotacearium)

Berkembang jika di tanah kering dimusim kemarau tingkat kelembabannya tinggi.

Gejala serangan : permukaan batang dan daun tertutupi tepung putih, sehingga

daun menguning dan mengering.

Pengendalian  : Penyakit ini dapat dikendalikan dengan fungisida berbahan aktif

tembaga hidroksida, metalaksil, maneb dan zineb.

 

4. Layu Fusarium (Fusarium oxysporium)

Gejala serangan : adanya bercak memanjang pada bagian batang dekat

permukaan tanah, berwarna kuning dan coklat tua.

Jika batang tersebut dipotong, akan tampak lingkaran cincing

coklat pada berkas pembuluh.

Pengendalian : Penyakit ini dapat dikendalikan dengan kocor dengan menggunakan

Kocide.

5. Antraknose

Penyebab : cendawan Colletotrichum lagenarium Pass.

Gejala : bercak-bercak coklat pada daun. Bentuk bercak agak bulat atau

bersudut-sudut dan menyebabkan daun mati; gejala bercak dapat

meluas ke batang, tangkai dan buah. Bila udara lembab,

di tengah bercak terbentuk massa spora berwarna merah jambu.

Pengendalian : Pemberian fungisida berbahan akatif mankozeb.

 

6. Bercak daun bersudut

Penyebab : cendawan Pseudomonas lachrymans.

Menyebar pada saat musim hujan.

Gejala : daun berbercak kecil kuning dan bersudut; pada serangan berat seluruh

daun yang berbercak berubah menjadi coklat muda kelabu, mengering

dan berlubang. Pengendalian :

Pengendalian : dengan mengaplikasikan fungisida Maneb 80,  Zineb 80 WP ,

Dithane M-45 .

 

7. Virus

Penyebab : Cucumber Mosaic Virus, CMV, Potato virus mosaic, PVM;

Tobacco Etch Virus, TEV; otato Bushy Stunt Virus (TBSV);

Serangga vektor adalah kutu daun Myzus persicae Sulz dan

Aphis gossypii Glov.

Gejala : daun menjadi belang hijau tua dan hijau muda, daun berkerut, tepi daun

menggulung, tanaman kerdil.

Pengendalian : dengan mengendalikan serangga vektor, mengurangi kerusakan

mekanis, mencabut tanaman sakit dan rotasi dengan famili bukan

Cucurbitaceae.

 

f. Kudis (Scab)

Penyebab : cendawan Cladosporium cucumerinum Ell.et Arth.

Terjadi pada buah mentimun muda.

Gejala : ada bercak basah yang mengeluarkan cairam yang jika mengering akan

seperti karet; bila menyerang buah tua, terbentuk kudis yang bergabus.

Pengendalian : Perendaman benih dengan fungisida.

 

g. Busuk buah

Penyebab : cendawan (1) Phytium aphinadermatum (Edson) Fizt.;

(2) Phytopthora sp., Fusarium sp.;

(3) Rhizophus sp.,

(4) Erwinia carotovora pv. Carotovora.

Infeksi terjadi di kebun atau di tempat penyimpanan.

Gejala : (1) Phytium aphinadermatum: buah busuk basah dan jika ditekan,

buah pecah;

(2) Phytopthora: bercak agak basah yang akan menjadi lunak dan

berwarna coklat dan berkerut;

(3) Rhizophus: bercak agak besah, kulit buah lunak ditumbuhi jamur,

buah mudah pecah;

(4) Erwinia carotovora: buah membusuk, hancur dan berbau busuk.

Pengendalian: dengan menghindari luka mekanis, penanganan pasca panen yang

hati-hati, penyimpanan dalam wadah bersih dengan suhu antara

5 – 7 derajat C.

 

Panen dan Pasca Panen

Panen dilakukan setelah buah tampak menguning, dengan ciri permukaan kulit

mengeluarkan net/garis seperti jaring. Biasanya tampak pada umur 60 hst.

Setelah buah dipanen, buah-buah tersebut dicuring untuk mendapatkan benih

yang lebih berisi.

Hal ini dilakukan selama 3-5 hari.Setelah curing, buah kemudian dibelah

untuk kemudian dikeluarkan isinya dan ditampung dalam wadah besar, untuk

diperam lagi selama satu malam. Keesokan harinya baru dilakukan pencucian untuk

memisahkan benih dengan kotoran lainnya. Benih-benih yang telah bersih kemudian

direndam dalam kaporit selama 5 menit, kemudian ditiris di tempat yang teduh

selama 2 jam, kemudian dijemur selama 3 hari sampai kering. Penjemuran dilakukan

mulai jam 8 pagi sampai jam 11 siang. Penjemuran diulangi lagi mulai jam 13.00

sampai sore. Hal ini dilakukan agar daya tumbuh benih tetap tinggi.

sumber: http://www.facebook.com/groups/asosiasipepayaindonesia/doc/240996152636721/

Perihal INDOAGROW
kami adalah lembaga yang bergerak dalam pengembangan sumberdaya pertanian, menyediakan berbagai macam sarana produksi pertanian, dan konsultasi pertanian alamat : Dukuh Serut Desa Tegalontar Kec Sragi Pekalongan Telepon 081931723043 (WA), 081325666314, 08562813733 email: indoagrow@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: