BUDIDAYA CABE MERAH

  • BUDIDAYA CABE MERAH

  • Termasuk dalam famili Solanaceae. Tanaman ini merupakan herba tegak yang

    memiliki akar tunggang dengan banyak akar samping yang dangkal. Bagian

    batang yang muda berambut halus, bercabang banyak, serta bisa mencapai

    tinggi 1 – 2.5m. Daunnya tersebar dengan helaian daun bulat telur memanjang

    atau elips berbentuk lanset, serta pangkal dan ujung meruncing. Sedangkan

    bunga cabai merah mengangguk dengan ukuran tanggai 10 – 18 mm.

    Bentuknya seperti terompet kecil dan umumnya berwarna putih, walau ada

    juga yang berwarna ungu.

    Buah cabai merupakan buah buni dengan bentuk garis lanset, merah cerah,

    dan rasanya pedas. Daging buahnya berupa keping-keping tidak berair.

    Bijinya berjumlah banyak serta terletak di dalam ruangan buah dan melekat

    pada plasenta.

    Di dalam Cabai Merah terdapat kandungan kapsaisin, dihidrokapsaisin, vitamin

    A dan C, damar, zat warna kapsantin, karoten, kapsarubin, zeasantin,

    kriptosantin, lutein, dan mineral Berdasarkan penelitian, bahan-bahan yang

    dikandung oleh Cabai Merah memiliki manfaat untuk membantu mengatasi

    gejala sakit perut, sakit gigi dan tangan lemah, influenza, serta meningkatkan

    nafsu makan.

    SYARAT TUMBUH

     

    Tanaman cabai sangat cocok untuk di tanam di dataran rendah sampai

    menengah. Namun saat ini para produsen telah mampu menghasilkan

    benih yang dapat tumbuh dengan baik bila ditanam di dataran tinggi

    sampai 2.500 m di atas permukaan laut.

    Untuk pertumbuhan yang optimal, tanaman cabai memerlukan intensitas

    cahaya matahari sekurang-kurangnya selama 10 – 12 jam untuk proses

    fotosintesis, pembentukan bunga dan buah, serta pemasakan buah.

    Jika sinar matahari yang dibutuhkan kurang atau tanaman ternaungi

    maka dapat menyebabkan umur panen menjadi lebih lama, batang

    menjadi lemas, tanaman meninggi dan mudah terserang penyakit,

    terutama yang disebabkan oleh bakteri dan cendawan.

    Kelembapan relatif yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman cabai

    adalah sekitar 80 %. Sedangkan suhu yang paling ideal untuk perkecambahan

    benih cabai adalah 25 – 30 °C, dan untuk pertumbuhannya adalah 24 – 28 °C.

    Jika suhu lingkungan terlalu rendah dapat menyebabkan pertumbuhan

    tanaman terhambat dan pertumbuhan serta perkembangan bunga dan

    buah menjadi kurang sempurna.

    Tanaman cabai, terutama hibrida, umumnya dapat ditanam pada semua

    jenis tanah, baik andosol, regosol, latosol, ultisol, sampai grumosol. Namun

    demikian, tanaman ini paling cocok bila ditanam pada tanah lempung

    berpasir yang gembur dan banyak mengandung unsur hara. Jika tanah

    yang akan ditanami adalah tanah liat yang sukar menyerap air dan

    drainasenya jelek, dikhawatirkan muncul serangan penyakit yang disebabkan

    cendawan Fusarium sp. dan atau bakteri Pseudomonas solanacearum.

    Untuk tanah liat dapat diberi pupuk kandang sebanyak 20 – 30 ton untuk

    satu kektar lahan agar struktur tanahnya dapat diperbaiki.

    Derajat keasaman tanah (pH) yang paling ideal untuk tanaman cabai

    adalah 6 – 7. Pengapuran dapat dilakukan untuk mentralkan tanah jika tanah

    terlalu asam. Tanah yang terlalu asam selain dapat menghambat penyerapan

    unsur hara (terutama unsur P, K, S, Mg, dan Mo akibat diikat oleh unsur Ai,

    Mn, atau Fe) oleh tanaman, juga dikhawatirkan mungundang serangan

    Rhizoctonia sp. dan Phytium sp.

    BUDIDAYA TANAMAN CABAI MERAH

    PEMBIBITAN

    Pembibitan cabai sebaiknya dilakukan dengan menggunakan plastik kecil

    (babypolybag) yang berukuran kurang lebih 12 x 8 cm. Plastik yang telah

    tersedia dilubangi pada bagian samping dan bawahnya untuk membuang

    kelebihan air, kemudian diisi dengan campuran tanah dan pupuk kandang

    halus (kedua bahan diayak terlebih dahulu dengan ayakan halus) dengan

    perbandingan 2 : 1. Ke dalam media ditambahkan 150 g SP-36 atau 80 g

    NPK serta 75 g pestisida (bisa menggunakan Furadan, Petrofur, Indofuron,

    atau Curater).

    Untuk mempercepat perkecambahan benih serta untuk menghilangkan hama

    dan penyakit yang mungkin masih menempel di benih, sebelum ditanam

    dalam plastik, benih cabai direndam selama semalam dalam larutan fungisida,

    bakterisida, dan atonik dengan konsentrasi setiap bahan sebesar 1 %  yang

    dicampurkan dengan air suam-suam kuku. Setelah direndam, kemudian benih

    dibungkus dengan kertas koran atau kain basah selama dua hari, baru kemudian

    ditanam di dalam plastik semai yang telah dipersiapkan.

    Untuk menghindari hama dan penyakit serta mempertahankan kelembapan,

    plastik diletakkan di atas bedengan yang dinaungi dengan plastik bening yang

    disangga dengan rangka dari bambu berbentuk setengah lingkaran. Ukuran

    bedengan yang dapat digunakan adalah lebar 110 – 125 cm,  tinggi 75 cm,

    dan panjang sesuai kebutuhan.

    Setelah benih cabai mulai berkecambah, plastik penutup bisa dibuka secara

    bertahap. Perawatan yang dilakukan selama pembibitan meliputi penyiraman

    yang dilakukan setiap pagi hari, pengendalian gulma yang dilakukan secara

    manual, pengendalian hama juga dilakukan secara manual karena bibit yang

    masih kecil biasanya sangat rentan terhadap penyemprotan insektisida. Jika

    serangan hama telah melewati ambang batas toleransi, maka penyemprotan

    insektisida dapat dilakukan dengan menggunakan setengah dosis untuk

    tanaman dewasa.  Pemupukan dapat dilakukan dengan penyemprotan pupuk

    daun, antara lain Gandasil D, Complesal, Atonik, dan Growmore yang dilakukan

    pada umur bibit 10 hari.

    Bibit yang berumur 20 – 25 hari atau setelah tumbuh daun sebanyak 5 helai

    sudah siap untuk ditanam di lahan. Pembibitan cabai sebaiknya dilakukan

    sebanyak tiga kali dengan selang waktu 1 dan 2 minggu. Satu minggu setelah

    penyemaian pertama, benih disemai kembali sebanyak 5 % dari seluruh

    kebutuhan bibit. Demikian pula pada minggu kedua, sehingga tersedia cadangan

    bibit sebanyak 10 % yang digunakan untuk menyulam tanaman yang mati, cacat,

    atau terserang hama dan penyakit.

    PENGOLAHAN LAHAN

     Tahapan pengolahan lahan dalam budidaya cabai meliputi pembersihan lahan,

    pembajakan atau pencangkulan, dan pembuatan bedengan. Pembersihan lahan

    areal penanaman cabai terutama dilakukan terhadap gulma yang dapat menjadi

    inang hama dan penyakit dan meningkatkan kelembapan lahan. Pembersihan juga

    dilakukan terhadap tanaman keras yang dapat menghambat penetrasi sinar matahari.

    Pekerjaan ini dapat dilakukan secara manual jika luas lahan yang dikelola tidak

    terlalu luas, atau menggunakan traktor buldozer jika lahan relatif luas dan banyak

    tanaman tahunan.

    Lahan yang telah selesai dibersihkan dapat langsung dibajak atau dicangkul dengan

    kedalaman 30 – 40 cm. Sewaktu dilakukan pencangkulan ini, rumput dan sisa

    tanaman lunak dapat dicampur sekaligus sehingga membusuk dan dapat menjadi

    pupuk. Tujuan pencangkulan adalah untuk mengubah struktur tanah menjadi lebih

    gembur atau remah sehingga akar tanaman akan lebih mudah menembus tanah

    untuk mengambil zat makanan.

    Tanah yang selesai dicangkul sebaiknya dibiarkan selama dua minggu agar terjadi

    pertukaran udara dan membunuh patogen yang merugikan. Setelah itu dilakukan

    pembuatan bedengan dengan tujuan untuk mencegah akar tanaman tergenang

    air pada musim hujan, selain untuk memudahkan pengaturan jarak tanam.

    Bedengan dibuat dengan ukuran panjang 10 – 12 m dengan lebar 110 – 120 cm,

    tinggi minimal 50 cm. Jarak antar bedengan atau lebar parit yang ideal untuk

    penanaman cabai pada musim hujan adalah 75 – 100 cm dengan lajur bedengan

    menghadap ke arah Utara – Selatan.

    PEMUPUKAN

     Pemupukan awal yang dilakukan pada budidaya tanaman cabai dapat berupa

    pupuk kandang dan pupuk kimia.

    a.  Pupuk Kandang

         Pupuk kandang yang diperlukan untuk satu hektar lahan penanaman cabai

    adalah sebanyak 20 – 30 ton, tergantung kondisi kesuburan tanahnya.

    Pemupukan dilakukan dengan cara menyebarkannya secara merata di atas

    bedengan dengan takaran 2 – 3 kg per 75 cm panjang bedengan. Setelah

    disebar, kemudian tanah dicangkul kembali supaya pupuknya tercampur

    secara merata sampai ke dalam tanah. Selain itu, pemupukan dapat dilakukan

    dengan memasukan pupuk ke dalam lubang tanam dan mencampurnya dengan

    tanah.

    b.  Pupuk Kimia

         Pupuk kimia yang diberikan adalah ZA dengan dosis 650 kg/ha, Urea dengan

    dosis 250 kg/ha, SP-36 dengan dosis 500 kg/ha, dan KCl dengan dosis

    400 kg/ha.

    Keempat jenis pupuk ini diberikan pada umur tanaman 2, 6, dan 9 minggu

    dengan masing-masing sepertiga dosis.

    PENANAMAN

                   

    Penanaman dilakukan pada pagi atau sore hari untuk menghindari panas sinar

    matahari yang dapat menyebabkan kelayuan bibit. Untuk menghindari serangan

    hama dan penyakit, sebelum ditanam bibit direndam terlebih dahulu dalam

    larutan fungisida dan bakterisida dengan konsentrasi 0,2 %. Pestisida yang

    digunakan sebaiknya bersifat sistemik agar dapat bertahan lebih lama dalam

    jaringan tanaman.

    Penanaman dilakukan di lubang tanam yang telah dibuat dan diusahakan sebatas

    leher akar tanaman sehingga tidak menyebabkan kebusukan. Sebelum dan

    sesudah penanaman sebaiknya bedengan disiram agar tanaman cabai tidak

    mengalami kekeringan.

    PEMELIHARAAN

     Agar pertumbuhan tanaman lebih optimal dan hasil yang diperoleh memuaskan,

    maka diperlukan perawatan rutin yang meliputi penyulaman, pemasangan ajir,

    perempelan tunas air dan bunga, dan pemupukan susulan.

    a.  Penyulaman

    Penyulaman dilakukan dengan mengganti tanaman yang mati atau rusak

    dengan bibit yang baru pada saat tanaman berusia 7 dan 14 hari setelah

    penanaman (hst). Jika setelah 3 minggu masih ada tanaman yang mati,

    maka tidak perlu dilakukan penyulaman karena dapat menghasilkan tanaman

    yang tidak seragam, baik umur maupun waktu panennya sehingga akan

    menyulitkan perawatannya.

    b.  Pemasangan Ajir

          Pemasangan ajir dilakukan segera setelah bibit ditanam. Ajir yang digunakan

    adalah dari batang bambu yang dibelah empat, kemudian dibersihkan dan

    dihaluskan agar tidak melukai tanaman cabai. Tinggi ajir yang umum digunakan

    untuk tanaman cabai hibrida adalah 125 cm, dengan bagian yang dimasukkan

    ke dalam tanah adalah 25 cm. Ajir dipasang tegak di setiap tanaman dengan

    jarak sekitar 10 cm dari batang tanaman. Untuk memperkuat pemasangannya,

    semua ajir yang digunakan di dalam bedengan tersebut bisa dihubungkan

    dengan menggunakan bambu panjang yang diikat dengan tali.

    Setelah ajir terpasang, tanaman cabai harus segera diikatkan di ajir tersebut

    dengan menggunakan tali rafia. Agar tidak melukai batang cabai, pengikatan

    tanaman bisa menggunakan simpul yang berbentuk angka delapan.

    c.  Perempelan Tunas Air dan Bunga

         Perempelan dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi resiko serangan

    penyakit, memperkokoh tanaman, dan mengoptimalkan sinar matahari.

    Perempelan  dilakukan dengan membuang semua tunas air yang tumbuh di

    ketiak daun dan di bawah bunga pertama dengan menggunakan tangan yang

    bersih. Kegiatan ini dilakukan pada pagi hari ketika batang atau tunas

    tersebut masih mudah dipatahkan karena masih banyak mengandung air.

    Untuk menjaga kondisi tanaman, bunga pertama dan kedua yang muncul

    sebaiknya dibuang, karena pada saat itu sebenarnya kondisi tanaman belum

    siap untuk berbuah.

    d.  Pengendalian Hama dan Penyakit

    Hama

         

         a)  Ulat Buah (Helicoverpa spp. HSN)

    Ulat buah menyerang tanaman cabai yang masih muda dan menyebabkan

    buah berlubang dan busuk karena infeksi.

    Pemberantasan : secara kimia dilakukan dengan penyemprotan insektisida,

    seperti Supracide 40 EC, Curacron 500 EC, Buldok 25 EC.

    Pencegahan : mencegah serangan yang lebih besar, maka buah yang

    terserang harus dipetik dan dimusnahkan dengan cara dibakar

    agar tidak menulari buah yang sehat.

           b)  Lalat Buah (Batrocera dorcalis)

                 Lalat buah menyerang buah cabai dengan cara menyuntikkan telurnya ke

    dalam kulit buah. Telur tersebut akan berubah menjadi larva yang akan

    menggerogoti buah sehingga menyebabkan kebusukan dan kerontokan.

    Lalat berwarna coklat kekuningan dengan garis kuning membujur di

    punggungnya.

    Pengendalian :  dapat dilakukan secara kimiawi dengan penyemprotan

    insektisida sisitemik pada umur buah I minggu.

    Pengendalian :  juga dapat dilakukan dengan menggunakan perangkap

    yang berbahan aktif methyl eugenol, seperti M-Antraktan.

    Penyemprotan dengan insektisida sebaiknya dihentikan dua minggu

    sebelum buah dipanen.

            c)  Ulat Daun (Spodoptera litura)

                  Ulat daun menyerang tanaman dengan memakan daun sehingga berlubang

    dan rusak. Hal ini dapat mengakibatkan terganggunya proses fotosintesis

    dan pada akhirnya dapat mengurangi hasil yang dipanen.

    Pengendalian :  dapat dilakukan dengan menggunakan insektisida racun

    kontak atau perut serta menjaga sanitasi kebun.

    Pemanfaatan perangkap untuk ulat juga bisa digunakan

    dengan cara memasangnya di areal kebun.

           d)  Kutu Putih (Pseudococcus sp.)

    Hama kutu putih berbentuk bulat dan berwarna kehijauan. Tubuhnya

    diselimuti lapisan lilin agak keputihan. Kutu menyerang tanaman cabai

    dengan cara menghisap cairan daun sehingga menyababkan daun menjadi

    keriting dan tumbuh merana. Akibat lebih jauh dapat mengakibatkan

    kerontokan pada bunga dan buah. Hama ini juga merupakan vektor

    penyakit embun jelaga. Kotorannya yang manis dapat mengundang semut,

    sehingga penyebarannya mengkuti penyebaran semut.

    Pemberantasan : kutu putih harus sekaligus dilakukan dengan

    pemberantasan semut dan penyakit embun jelaga.

    Pemberantasan dapat dilakukan dengan insektisida dan

    akarisida.

          e)   Kutu Daun (Myzus persicae)

    Kutu daun menyerang tanaman cabai dengan menghisap cairan daun

    sehingga mengakibatkan daun keriput, berwarna kekuningan, dan terpuntir.

    Akibat lebih jauh adalah dapat mengakibatkan kerdilnya pertumbuhan

    tanaman. Hama kutu daun merupakan vektor yang dapat menularkan

    penyakit, yaitu embun jelaga dan virus, sertaq dapat mengundang semut.

    Pengendalian : dapat dilakuan dengan penyemprotan insektisida yang

    berbahan aktif imidakloprid, fipronil, dan protiofos secara

    bergantian.

           Penyakit

           a)  Layu Fusarium

    Penyakit layu fusarium disebabkan oleh cendawan Fusarium oxisporum.

    Penyakit ini umumnya menyerang tanaman di dataran tinggi dengan

    kelembaban tinggi pada musim hujan.

    Gejala : serangan penyakit ini pada tanaman cabai ditandai dengan

    menuningnya daun-daun tua yang diikuti dengan daun muda,

    pucatnya tulang-tulang daun bagian atas, terkulainya tulang

    daun, dan layunya tanaman. Batang pun membusuk dan agak

    berbau amoniak. Jika batangnya dipotong akan terlihat warna

    coklat berbentuk cincin dari berkas pembuluhnya.

    Pencegahan : dapat dilakukan dengan melakukan pemupukan berimbang,

    penanaman bibit yang tahan penyakit layu dengan drainase

    yang baik, sirkulasi udara lancar, mengurangi penaungan

    agar sinar matahari dapat masuk secara penuh, serta tidak

    menanam pada areal tanaman yang sebelumnya terserang

    penyakit layu fusarium. Sebelum ditanam, bibit direndam ke

    dalam larutan Benomil 0,1 %.

    Pengendalian : dapat dilakuan dengan penyemprotan fungisida berbahan

    aktif benomil yang sistemik, seperti Benlete. Untuk

    mencegah serangan yang lebih luas, tanaman yang

    terserang segera dibongkar dan dimusnahkan, dan lubang

    bekas penanaman ditaburi dengan kapur. Jika penyakit ini

    dibiarkan dapat mengakibatkan kegagalan panen sampai

    50 %.

             b)  Layu Bakteri (Bacterial Wilt)

    Penyakit layu bakteri disebabkan oleh bakteri Pseudomonas solanacearum

    E. F. Smith.

    Gejala  : serangan ditandai dengan layunya tanaman seperti bekas

    tersiram air panas, beberapa hari kemudian tanaman akan mati.

    Gejala lain adalah terdapatnya bercak-bercak coklat pada berkas

    pembuluh batang jika batang dipotong. Tanaman yang terserang,

    jika batangnya direndam dalam air bersih, setelah beberapa

    menit akan keluar cairan berwarna coklat susu dari batang

    tersebut.

    Penyakit layu bakteri umumnya menyerang tanaman cabai di daerah

    dataran rendah yang suhu dan kelembabannya tinggi, tanahnya becek,

    airnya banyak tergenang.

    Pengendalian : penyakit dapat dilakukan dengan penyemprotan insektisida

    Agrept 20 WP atau Aqgrimycin 15/1,5 WP.

    Lahan tanaman yang terserang harus ditaburi dengan kapur dan tidak

    boleh ditanami dengan tanaman yang dapat menjadi inang Pseudomonas 

    selama dua tahun, karena bakteri ini dapat bertahan selama dua tahun

    dalam tanah.

             c)  Penyakit Busuk Daun

    Penyakit busuk daun disebabkan oleh cendawan Phytophthora infestans.

    Gejala : serangan ditandai dengan adanya noda-noda hitam pada buah

    dan  daun seperti cacar tidak teratur dan pada akhirnya

    menjadi kering, keras, dan busuk.

    Pencegahan : dapat dilakukan dengan malakukan pemangkasan yang

    teratur, menjaga kelembapan kebun, dan melakukan

    sanitasi secara teratur.

    Pengendalian  : dapat dilakuan dengan menggunakan bubur Bordeaux

    1-3%, Akofol 50 WP, Preficur N, Prufit PR 10/56 WP,

    Ridomil, Dithane M-45, dan Antracol.

             d)  Busuk Buah (Antraknose)

    Penyakit busuk buah disebabkan oleh cendawan Colectroticum sp.

    Gejala serangan ditandai dengan adanya bercak coklat pada buah yang

    terus melebar. Pada serangan yang serius, buah akan kering

    membusuk dan keriput. Serangan yang hebat dapat mengurangi

    hasil sampai 75 %.

    Pengendalian dapat dilakukan dengan mengatur jarak tanam yang tidak

    terlalu rapat, melakukan pemangkasan secara teratur,

    dan secara kimiawi dilakukan dengan penyemprotan

    fungisida sistemik secara teratur atau fungisida kontak

    dengan bahan aktif karbendazim fenorimol. Perlakuan

    benih dengan merendamnya dalam air hangat (suhu

    55 °C) yang dicampur pestisida terbukti mampu

    mengurangi resiko serangan penyakit ini.

             e)  Penyakit Virus

                   Serangan virus ditandai dengan adanya bintik-bintik berwarna orange di

    tengah daun bagian bawah atau di kelopak bunga. Bintik-bintik ini akan

    semakin membesar serta membentuk bercak-bercak dan lingkaran-

    lingkaran yang berjumlah semakin banyak. Daun-daun yang lebih tua

    kemudian berwarna coklat, lalu rontok. Lama-kelamaan tanaman semakin

    kerdil, merana, dan mati.

    Pada buah yang masih hijau, bercak kekuningan muncul dengan diameter

    lebih dari 1,75 cm. Pada bagian tengah terdapat lingkaran konsentrik

    yang terlihat jelas berwarna kuning, cokelat, hijau, pink, atau merah.

    Virus yang sering menyerang adalah TMV (tobacco mozaik virus), TRV

    (tobacco rattle virus), CMV (cucumber mozaik virus), TRSV (tomato

                   ringspot virus), CTV (curly top virus), PVY (potato virus Y).

    PANEN

     

    Waktu pemanenan buah cabai berbeda-beda, tergantung pada varietas serta

    ketinggian tempat. Waktu pemanenan cabai yang ditanam di dataran rendah

    umumnya lebih cepat daripada yang ditanam di dataran tinggi. Sebagai contoh,

    di dataran rendah, cabai keriting hibrida jenis TM 999 umumnya sudah dapat

    dipanen pada umur 90 hari setelah tanam, sedangkan di dataran tinggi panen

    dilakukan pada umur 105 hari setelah tanam.

    Cara pemanenan cabai yang benar adalah dengan memetik buah cabai sekaligus

    menyertakan tangkai buahnya. Buah yang dipetik dengan cara tersebut akan

    lebih tahan lama dibandingkan buah yang dipetik tanpa tangkai.

    Pemanenan dilakukan ada buah yang sudah merah atau masak penuh dan

    terhadap buah cabai yang masak 90 %. Buah cabai yang masak 90 % (untuk

    cabai keriting) memiliki warna merah dengan semburat hitam dan sedikit hijau.

    Pemanenan sebaiknya dilakukan pada pagi hari sewaktu bobot buah cabai

    masih optimal. Jika sewaktu dilakukan penen turun hujan dan buah cabai yang

    dipanen banyak yang basah, supaya tidak busuk, sebaiknya cabai diangin-

    anginkan sampai kering sebelum dikemas.

    Interval pemanenan cabai merah maupun cabai keriting dilakukan setiap 2-3

    hari sekali atau tergantung pada kondisi pasar dan luas penanaman.

    Cabai keriting hibrida, seperti jenis TM 999, masa panennya dapat mencapai

    2-3 bulan sejak panen pertama. Dengan begitu, jika interval panen yang

    dilakukan 3 hari sekali, maka jumlah panen yang dilakukan dapat mencapai 30 kali.

    Setelah pemanenan selesai, adakalanya harga cabai rendah dan pasokan

    di pasaran melimpah. Untuk itu, sebaiknya cabai disimpan terlebih dahulu,

    setelah harga membaik baru bisa dijual. Untuk menjaga kesegaran buah

    dalam waktu yang lama, penyimpanan dilakukan di cool storage (ruang pendingin)

    bersuhu  7-9 °C.

sumber: http://www.facebook.com/groups/asosiasipepayaindonesia/doc/247862315283438/

Perihal INDOAGROW
kami adalah lembaga yang bergerak dalam pengembangan sumberdaya pertanian, menyediakan berbagai macam sarana produksi pertanian, dan konsultasi pertanian alamat : Dukuh Serut Desa Tegalontar Kec Sragi Pekalongan Telepon 081931723043 (WA), 081325666314, 08562813733 email: indoagrow@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: