BUDIDAYA BURUNG WALET

BUDIDAYA BURUNG WALET

( Collacalia fuciphaga )

Burung Walet merupakan burung pemakan serangga yang bersifat aerial dan

suka meluncur. Burung ini berwarna gelap, terbangnya cepat dengan ukuran

tubuh sedang/kecil, dan memiliki sayap berbentuk sabit yang sempit dan

runcing, kakinya sangat kecil begitu juga paruhnya dan jenis burung ini tidak

pernah hinggap di pohon.

Burung walet mempunyai kebiasaan berdiam di gua-gua atau rumah-rumah

yang cukup lembab, remang-remang sampai gelap dan menggunakan langit

langit untuk menempelkan sarang sebagai tempat beristirahat dan berbiak.

 

JENIS

Klasifikasi burung walet adalah sebagai berikut:

Superorder : Apomorphae

Order : Apodiformes

Family : Apodidae

Sub Family : Apodenae

Tribes : Collacaliini

Genera : Collacalia

Species : Collacaliafuciphaga

 

MANFAAT

Hasil dari peternakan walet ini adalah sarangnya yang terbuat dari air liurnya

(saliva). Sarang walet ini selain mempunyai harga yang tinggi, juga dapat

bermanfaat bagi duni kesehatan. Sarang walet berguna untuk menyembuhkan

paru-paru, panas dalam, melancarkan peredaran darah dan penambah tenaga.

 

PERSYARATAN LOKASI

Persyaratan lingkungan lokasi kandang adalah:

1)   Dataran rendah dengan ketinggian maksimum 1000 m dpl.

2)   Daerah yang jauh dari jangkauan pengaruh kemajuan teknologi dan

perkembangan masyarakat.

3)   Daerah yang jauh dari gangguan burung-burung buas pemakan daging.

4)   Persawahan, padang rumput, hutan-hutan terbuka, pantai, danau, sungai,

rawa-rawa merupakan daerah yang paling tepat.

 

PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA

 

Penyiapan Sarana dan Peralatan

1)  Suhu, Kelembaban dan Penerangan

Gedung untuk kandang walet harus memiliki suhu, kelembaban dan

penerangan yang mirip dengan gua-gua alami. Suhu gua alami berkisar

antara 24-26 derajat C dan kelembaban ± 80-95 %.

Pengaturan kondisi suhu dan kelembaban dilakukan dengan:

a.   Melapisi plafon dengan sekam setebal 20 cm

b.   Membuat saluran-saluran air atau kolam dalam gedung.

c.   Menggunakan ventilasi dari pipa bentuk “L” yang berjaraknya 5 m satu

lubang, berdiameter 4 cm.

d.   Menutup rapat pintu, jendela dan lubang yang tidak terpakai.

e.   Pada lubang keluar masuk diberi penangkal sinar yang berbentuk corong

dari goni atau kain berwarna hitam sehingga keadaan dalam gedung

akan lebih gelap. Suasana gelap lebih disenangi walet.

 

2)   Bentuk dan Konstruksi Gedung

Umumnya, rumah walet seperti bangunan gedung besar, luasnya bervariasi

dari 10×15 m2 sampai 10×20 m2. Makin tinggi wuwungan (bubungan) dan

semakin besar jarak antara wuwungan dan plafon, makin baik rumah walet

dan lebih disukai burung walet. Rumah tidak boleh tertutup oleh pepohonan

tinggi.

Tembok gedung dibuat dari dinding berplester sedangkan bagian luar dari

campuran semen. Bagian dalam tembok sebaiknya dibuat dari campuran

pasir, kapur dan semen dengan perbandingan 3:2:1 yang sangat baik untuk

mengendalikan suhu dan kelembaban udara. Untuk mengurangi bau semen

dapat disirami air setiap hari.

Kerangka atap dan sekat tempat melekatnya sarang-sarang dibuat dari kayu

kayu yang kuat, tua dan tahan lama, awet, tidak mudah dimakan rengat.

Atapnya terbuat dari genting.

Gedung walet perlu dilengkapi dengan roving room sebagai tempat berputar

putar dan resting room sebagai tempat untuk beristirahat dan bersarang.

Lubang tempat keluar masuk burung berukuran 20×20 atau 20×35 cm2

dibuat di bagian atas. Jumlah lubang tergantung pada kebutuhan dan kondisi

gedung. Letaknya lubang jangan menghadap ke timur dan dinding lubang

dicat hitam.

 

Pembibitan

Umumnya para peternak burung walet melakukan dengan tidak sengaja.

Banyaknya burung walet yang mengitari bangunan rumah dimanfaatkan oleh

para peternak tersebut. Untuk memancing burung agar lebih banyak lagi,

pemilik rumah menyiapkan tape recorder yang berisi rekaman suara burung

Walet. Ada juga yang melakukan penumpukan jerami yang menghasilkan

serangga-serangga kecil sebagai bahan makanan burung walet.

1)  Pemilihan Bibit dan Calon Induk

Sebagai induk walet dipilih burung sriti yang diusahakan agar mau bersarang

di dalam gedung baru. Cara untuk memancing burung sriti agar masuk

dalam gedung baru tersebut dengan menggunakan kaset rekaman dari

wuara walet atau sriti. Pemutaran ini dilakukan pada jam 16.00–18.00, yaitu

waktu burung kembali mencari makan.

2)  Perawatan Bibit dan Calon Induk

Di dalam usaha budidaya walet, perlu disiapkan telur walet untuk ditetaskan

pada sarang burung sriti. Telur dapat diperoleh dari pemilik gedung walet

yang sedang melakukan “panen cara buang telur”. Panen ini dilaksanakan

setelah burung walet membuat sarang dan bertelur dua butir. Telur walet

diambil dan dibuang kemudian sarangnya diambil. Telur yang dibuang dalam

panen ini dapat dimanfaatkan untuk memperbanyak populasi burung walet

dengan menetaskannya di dalam sarang sriti.

 

a.  Memilih Telur Walet

Telur yang dipanen terdiri dari 3 macam warna, yaitu :

–   Merah muda, telur yang baru keluar dari kloaka induk berumur 0–5 hari.

–   Putih kemerahan, berumur 6–10 hari.

–   Putih pekat kehitaman, mendekati waktu menetas berumur 10–15 hari.

Telur walet berbentuk bulat panjang, ukuran 2,014×1,353 cm dengan

berat 1,97 gram. Ciri telur yang baik harus kelihatan segar dan tidak boleh

menginap kecuali dalam mesin tetas. Telur tetas yang baik mempunyai

kantung udara yang relatif kecil. Stabil dan tidak bergeser dari tempatnya.

Letak kuning telur harus ada ditengah dan tidak bergerak-gerak, tidak

ditemukan bintik darah. Penentuan kualitas telur di atas dilakukan dengan

peneropongan.

 

b.  Membawa Telur Walet

Telur yang didapat dari tempat yang jaraknya dekat dapat berupa telur

yang masih muda atau setengah tua. Sedangkan telur dari jarak jauh,

sebaiknya berupa telur yang sudah mendekati menetas.

Telur disusun dalam spon yang berlubang dengan diameter 1 cm. Spon

dimasukkan ke dalam keranjang plastik berlubang kemudian ditutup.

Guncangan kendaraan dan AC yang terlalu dingin dapat mengakibatkan

telur mati. Telur muda memiliki angka kematian hampir 80% sedangkan

telur tua lebih rendah.

 

3)  Penetasan Telur Walet

a.  Cara menetaskan telur walet pada sarang sriti.

Pada saat musim bertelur burung sriti tiba, telur sriti diganti dengan telur

walet. Pengambilan telur harus dengan sendok plastik atau kertas tisue

untuk menghindari kerusakan dan pencemaran telur yang dapat

menyebabkan burung sriti tidak mau mengeraminya. Penggantian telur

dilakukan pada siang hari saat burung sriti keluar gedung mencari makan.

Selanjutnya telur-telur walet tersebut akan dierami oleh burung sriti dan

setelah menetas akan diasuh sampai burung walet dapat terbang serta

mencari makan.

b.  Menetaskan telur walet pada mesin penetas

Suhu mesin penetas sekitar 400 C dengan kelembaban 70%. Untuk

memperoleh kelembaban tersebut dilakukan dengan menempatkan piring

atau cawan berisi air di bagian bawah rak telur. Diusahakan agar air

didalam cawan tersebut tidak habis.

Telur-telur dimasukan ke dalam rak telur secara merata atau mendata dan

jangan tumpang tindih. Dua kali sehari posisi telur-telur dibalik dengan

hati-hati untuk menghindari kerusakan embrio. Di hari ketiga dilakukan

peneropongan telur. Telur-telur yang kosong dan yang embrionya mati

dibuang. Embrio mati tandanya dapat terlihat pada bagian tengah telur

terdapat lingkaran darah yang gelap. Sedangkan telur yang embrionya

hidup akan terlihat seperti sarang laba-laba. Pembalikan telur dilakukan

sampai hari ke-12.

Selama penetasan mesin tidak boleh dibuka kecuali untuk keperluan

pembalikan atau mengisi cawan pengatur kelembaban. Setelah 13–15

hari telur akan menetas.

 

Pemeliharaan

1)   Perawatan Ternak

Anak burung walet yang baru menetas tidak berbulu dan sangat lemah. Anak

walet yang belum mampu makan sendir perlu disuapi dengan telur semut

(kroto segar) tiga kali sehari. Selama 2–3 hari anak walet ini masih

memerlukan pemanasan yang stabil dan intensif sehingga tidak perlu

dikeluarkan dari mesin tetas. Setelah itu, temperatur boleh diturunkan 1–2

derajat/hari dengan cara membuka lubang udara mesin.

Setelah berumur ± 10 hari saat bulu-bulu sudah tumbuh anak walet

dipindahkan ke dalam kotak khusus. Kotak ini dilengkapi dengan alat

pemanas yang diletakan ditengah atau pojok kotak.

Setelah berumur 43 hari, anak-anak walet yang sudah siap terbang dibawa

ke gedung pada malam hari, kemudian dletakan dalam rak untuk pelepasan.

Tinggi rak minimal 2 m dari lantai. Dengan ketinggian ini, anak waket akan

dapat terbang pada keesokan harinya dan mengikuti cara terbang walet

dewasa.

 

2)   Sumber Pakan

Burung walet merupakan burung liar yang mencari makan sendiri.

Makanannya adalah serangga-serangga kecil yang ada di daerah

pesawahan, tanah terbuka, hutan dan pantai/perairan. Untuk mendapatkan

sarang walet yang memuaskan, pengelola rumah walet harus menyediakan

makanan tambahan terutama untuk musim kemarau. Beberapa cara untuk

mengasilkan serangga adalah:

a.   menanam tanaman dengan tumpang sari.

b.   budidaya serangga yaitu kutu gaplek dan nyamuk.

c.    membuat kolam dipekarangan rumah walet.

d.    menumpuk buah-buah busuk di pekarangan rumah.

 

3)   Pemeliharaan Kandang

Apabila gedung sudah lama dihuni oleh walet, kotoran yang menumpuk di

lantai harus dibersihkan. Kotoran ini tidak dibuang tetapi dimasukan dalam

karung dan disimpan di gedung.

 

4)   Budidaya burung walet tak bisa dipisahkan dengan penggunaan rekaman

suara walet. Baik yangdirekam menggunakan compak disc/ CD atau memory

card/ MMC. Suara rekaman ini sangat pentingsebagai syarat mutlak dalam

memanggil & membudidayakan walet. Bahkan penggunaansuara rekaman itu

berlangsung long time atau seterusnya. Mengapa demikian? Sebab dengan

menggunakan suara rekaman walet, burung-burung walet lain akan terpancing

ke gedung kita,selain juga berfungsi untuk mencegah burung kita tidak tersedot

ke gedung lain

 

HAMA DAN PENYAKIT

 

1)  Tikus

Hama ini memakan telur, anak burung walet bahkan sarangnya. Tikus

mendatangkan suara gaduh dan kotoran serta air kencingnya dapat

menyebabkan suhu yang tidak nyaman. Cara pencegahan tikus dengan

menutup semua lubang, tidak menimbun barang bekas dan kayu-kayu yang

akan digunakan untuk sarang tikus.

 

2)  Semut

Semut api dan semut gatal memakan anak walet dan mengganggu burung

walet yang sedang bertelur. Cara pemberantasan dengan memberi umpan

agar semut-semut yang ada di luar sarang mengerumuninya. Setelah itu

semut disiram dengan air panas.

 

3)  Kecoa

Binatang ini memakan sarang burung sehingga tubuhnya cacat, kecil dan

tidak sempurna. Cara pemberantasan dengan menyemprot insektisida,

menjaga kebersihan dan membuang barang yang tidak diperlukan dibuang

agar tidak menjadi tempat persembunyian.

 

4)  Cicak dan Tokek

Binatang ini memakan telur dan sarang walet. Tokek dapat memakan anak

burung walet. Kotorannya dapat mencemari raungan dan suhu yang

ditimbulkan mengganggu ketenangan burung walet. Cara pemberantasan

dengan diusir, ditangkap sedangkan penanggulangan dengan membuat

saluran air di sekitar pagar untuk penghalang, tembok bagian luar dibuat licin

dan dicat dan lubang-lubang yang tidak digunakan ditutup.

 

PANEN

Sarang burung walet dapat diambil atau dipanen apabila keadaannya sudah

memungkinkan untuk dipetik. Untuk melakukan pemetikan perlu cara dan

ketentuan tertentu agar hasil yang diperoleh bisa memenuhi mutu sarang walet

yang baik. Jika terjadi kesalahan dalam menanen akan berakibat fatal bagi

gedung dan burung walet itu sendiri. Ada kemungkinan burung walet merasa

tergangggu dan pindah tempat. Untuk mencegah kemungkinan tersebut, para

pemilik gedung perlu mengetahui teknik atau pola dan waktu pemanenan.

Pola panen sarang burung dapat dilakukan oleh pengelola gedung walet

dengan beberapa cara, yaitu:

 

1)  Panen rampasan

Cara ini dilaksanakan setelah sarang siap dipakai untuk bertelur, tetapi

pasangan walet itu belum sempat bertelur. Cara ini mempunyai keuntungan

yaitu jarak waktu panen cepat, kualitas sarang burung bagus dan total

produksi sarang burung pertahun lebih banyak. Kelemahan cara ini tidak

baik dalam pelestaraian burung walrt karena tidak ada peremajaan.

Kondisinya lemah karena dipicu untuk terus menerus membuat sarang

sehingga tidak ada waktu istirahat. Kualitas sarangnya pun merosot menjadi

kecil dan tipis karena produksi air liur tidak mampu mengimbangi pemacuan

waktu untuk membuat sarang dan bertelur.

 

2)  Panen Buang Telur

Cara ini dilaksanankan setelah burung membuat sarang dan bertelur dua

butir. Telur diambil dan dibuang kemudian sarangnya diambil. Pola ini

mempunyai keuntungan yaitu dalam setahun dapat dilakukan panen hingga

4 kali dan mutu sarang yang dihasilkan pun baik karena sempurna dan tebal.

Adapun kelemahannya yakni, tidak ada kesempatan bagi walet untuk

menetaskan telurnya.

 

3)  Panen Penetasan

Pada pola ini sarang dapat dipanen ketika anak-anak walet menetas dan

sudah bisa terbang. Kelemahan pola ini, mutu sarang rendah karena sudah

mulai rusak dan dicemari oleh kotorannya. Sedangkan keuntungannya

adalah burung walet dapat berkembang biak dengan tenang dan aman

sehingga polulasi burung dapat meningkat.

 

Adapun waktu panen adalah:

1)  Panen 4 kali setahun

Panen ini dilakukan apabila walet sudah kerasan dengan rumah yang dihuni

dan telah padat populasinya. Cara yang dipakai yaitu panen pertama

dilakukan dengan pola panen rampasan. Sedangkan untuk panen

selanjutnya dengan pola buang telur.

 

2)  Panen 3 kali setahun

Frekuensi panen ini sangat baik untuk gedung walet yang sudah berjalan

dan masih memerlukan penambahan populasi. Cara yang dipakai yaitu,

panen tetasan untuk panen pertama dan selanjutnya dengan pola rampasan

dan buang telur.

 

3)  Panen 2 kali setahun

Cara panen ini dilakukan pada awal pengelolaan, karena tujuannya untuk

memperbanyak populasi burung walet.

 

PASCAPANEN

Setelah hasil panen walet dikumpulkan dalu dilakukan pembersihan dan

penyortiran dari hasil yang didapat. Hasil panen dibersihkan dari kotoran

kotoran yang menempel yang kemudian dilakukan pemisahan antara sarang

walet yang bersih dengan yang kotor.

 

 

SERBA SERBI BUDIDAYA WALET

 

1.  Sebab dan Solusi Gedung Walet Kosong

Mengapa sebuah gedung walet yang dibangun dengan biaya ratusan juta,

bahkan lebih, kondisinyakosong tanpa walet? Apakah survey awal pemilihan

lokasi tidak dilakukan secara cermat? Apakah posisi gedung ada di “belakang”?

Sehingga, ibarat orang jualan, pembelinya selalu membeli barangdi toko depan?

Apakah ‘timing’ pembangunan gedung walet di sentra itu tidak lagi tepat atau

sudah terlambat? Apakah sentra walet memang telah padat sehingga

kompetisinya sangat ketat? Ataudesain bangunan yang salah?Jika kita amati

di daerah sentra walet, baik di kota maupun di daerah, dari puluhan bahkan

ratusan gedung walet, gedung yang “jaya” dapat dihitung secara prosentase

yaitu hanya 10 %. Gedungwalet yang agak produktif sekitar 30 %.

Gedung yang jumlah sarang sedikit, sekitar 30 %. Sisanyayang 30 % gedung

walet kosong. Fakta ini hampir terjadi di semua sentra walet.Banyak gedung

walet yang salah desain, sehingga akhirnya walet tak mau tinggal di dalamnya.

Kesalahan bisa terjadi antara lain : ukuran pintu masuk yang sempit. Ada

juga pintu masuk yang dipasang teralis besi. Tujuannya sama :agar maling

tidak bisa masuk ke gedung. Untuk mencuri apamaling masuk gedung walet

yang masih kosong?

Bagaimana solusinya?  Semakin tebal dinding gedung akan semakin bagus,

karena panas dari luar tidak tembus sampai dalam gedung. Namun jika

dinding gedung tipis sekitar 15 cm/ setengah batu, maka bagaimana solusi

mengatasi panas matahari? Yaitu, dengan mengecat dinding luar gedung

dengan cat warna putih. Warna putih akan menolak panas.

Sebab gedung kosong bisa pula karena akses masuk walet agak sulit, misalnya

karena faktor pintu walet sangat sempit sekitar ukuran lebar 15 cm, panjang

25 cm. Sebagian orang masih beranggapan bahwa gedung walet harus gelap.

Jika pintu masuk burung dibuat lebar, maka faktor cahaya banyak masuk

ruangan.

Apalagi jika arah pintu masuk menghadap ke barat, maka di sore hari ruangan

gedung menjadi agak terang. Karena alasan inilah maka pintu masuk burung

dibuat sempit untuk menekan faktor cahaya. Namun akibatnya justru

merugikan, yaitu burung walet sulit masuk gedung.Akhirnya walet akan

mencari gedung lain yang lebih mudah akses masuknya.

Untuk mengatasi halini, ukuran pintu masuk walet sebaiknya dibuat sekitar l

ebar 40 cm panjang 60 cm. Cahaya yangmasuk melalui pintu burung harus

diatur dengan cara melakukan penyekatan ruangan, sebagianruang di- sekat

full sebagian yang lain di- sekat semu

 

2.  Meningkatkan Populasi dan Produktifitas Walet

Populasi walet yang tidak berkembang, harus dicari sumber errornya.

Jika masalahnya karena burung walet pindah/ migrasi ke daerah lain disebabkan

sudah tidak hijau-subur daerah itu, sulit rasanya melawan alam.

Jika gedung tersebut salah pilih lokasi, sehingga hanya sedikit sekali walet yang

melintas, berat juga mengatasinya.Jika di lokasi itu banyak burung waletnya,

namun yang bersarang dalam gedung cuma sedikit dantidak berkembang,

pasti ada sebab internal yang harus benahi. Ibaratnya gedung tersebut sakit

selama 4 tahun. Harus di cek-periksa agar diketahui penyakitnya; bisa karena

salah lubang masuk,salah sekat, salah tata twiter, salah tata cahaya, salah

void, atau salah konsultan !Mengapa populasi walet pada kasus di atas sangat

lambat atau bahkan jalan di tempat? Kemanakah anak-anak walet hasil

penetasan selama 4 tahun ini? Apakah anak walet kurang sehat sehingga

mat idi tengah jalan? Atau anak-anak walet gagal pulang? Apakah walet-walet

muda gagal masuk kegedung karena lubang pintunya yang sangat sempit?

Atau karena kondisi suhu dalam gedung ituyang kurang sesuai dengan habitat

walet? Atau posisi gedung yang relative sulit (misalnya gedung pendek, atau

terjepit di tengah gedung walet kanan kiri yang relative besar dan jangkung),

sehingga saat pulang sore hari, walet-walet muda “kehilangan rumah asalnya?”

Masa kritis atau masa genting yang dialami walet muda adalah saat pertama

kali keluar gedung dan saat pertama kali pulang masuk ke gedung asalnya.

Jika ini berhasil, maka masa genting ini dapatterlewati dengan baik. Namun jika

gagal, maka masa kritis berubah menjadi ‘gawat darurat’. Jika gagal pulang ini

terus terjadi, bisa dipastikan perkembangan populasi walet akan stagnan.

Kasus ini terjadi mungkin karena gedung walet tersebut kalah bersaing dengan

gedung walet di sekitarnya.Mungkin karena gedung kalah besar, kalah tinggi,

kalah posisi, kalah fasilitas, kalah suara, dll. Carauntuk meningkatkan populasi

walet, harus dilakukan rehab gedung untuk menyesuaikan dengan lingkungan

gedung walet di sekitarnya.

 

3.   Mencegah dan Mengatasi Walet Kabur

Penyebab walet kabur dari sebuah gedung, bisa disebabkan faktor internal

dan faktor eksternal.

Faktor internal antara lain, adanya predator, teknis panen salah, papan sirip

yang lapuk dll, namun ini masih bisa dicegah atau masih bisa ditanggulangi.

eksternal yang akibatnya sangat buruk dan mengancam perkembangan

populasi walet dalam waktuyang panjang, bahkan selamanya.

Gedung yang semula produktif, lambat laun ditinggal pergi penghuninya.

Kemana waletnya? Jawabnya, regenerasi walet tak berjalan secara baik.

Walet tua akhirnya mati. Walet muda yang tersisa pindah ke daerah lain.

Sebab pokok adalah hilangnya daerah pakan, mungkin karena industrialisasi,

menyempitnya areal persawahan, gersangnya hutan,dll.

 

4.  Terlambat Panen

Problem terlambat panen erat kaitannya dengan teknis panen yang dilakukan.

Maksudnya, problem terlambat panen hanya berhubungan dengan teknik

panen tetasan. Tidak berkaitan dengan teknis panen rampasan atau buang

telur.

Jika pemilik gedung itu, melakukan teknik panen rampasan atau teknik panen

buang telur, maka tidak ada istilah terlambat panen.

Panen tetasan adalah panen sarang walet setelah anak walet bisa terbang.

Teknik ini dilakukan untuk menjaga agar populasi walet terus berkembang

tanpa gangguan. Teknik ini juga tidak mengakibatkan walet stress saat

sarangnya di panen, atau sangat kecil tingkat stress walet di banding

teknik panen rampasan atau buang telur. Yang perlu diperhatikan, panen

tetasan harus dilakukan secara rutin. Untuk populasi yang padat, panen bisa

dilakukan 2 mingguan ataumingguan. Ya ! tiap minggu panen.

Sambil panen juga sambil mengamati anak-anak walet yang siap terbang.

Sambil panen juga sambil “patroli”. Jika anak walet sudah terbang, tidak segera

diambil sarangnya, maka induk walet akan segera bertelur kembali di sarang itu.

Ini namanya terlambat panen.

 

5.  Warna Sarang Burung Walet Coklat Kardus

Kualitas sarang walet yang jelek antara lain di tentukan oleh warna sarang.

Pernahkah anda melihat sarang walet berwarna coklat mirip warna kardus?

Kasus ini terjadi disebabkan karena faktor apa?Karena faktor lokasikah ?,

karena soal pakan waletkah? karena faktor kondisi gedung yang jorok dan

kotor?

Mengapa terjadi sarang berwarna kotor? Pada prinsipnya, liur yang keluar dari

paruh burung walet ini berwarna putih bening. Proses pembuatan sarang hingga

selesai memakan waktu sekitar 2 bulan.Selama proses ini, liur walet akan tetap

putih atau berwarna lain, tergantung dari pengaruhkebersihan udara gedung.

Jika udara gedung bersih, maka sarang walet tetap putih bersih. Jika udaara

gedung kotor maka, sareang walet akan “terkontaminasi” udara kotor itu

sehingga sarang walet pun, akhirnya menjadi kotor, berwarna keruh.

Jika udara tersebut  sangat kotor, maka sarang akan berwarna coklat mirip

warna kardus

 

6.  Sarang Burung Walet Berlubang

Salah satu penentu kualitas sarang walet adalah dari segi keutuhan sarang.

Sarang yang berlubang,tentu harganya lebih murah. Sarang berlubang

dikategorikan sarang tak utuh alias sarang rusak.Mengapa sarang walet bisa

menjadi berlubang? Apakah mungkin dalam sebuah gedung, sarang semua

berlubang? Apa penyebabnya sehingga sarang walet berlubang? Selain

masalah rendahnya harga, apakah ada efek negative dari sarang yang

berlubang? Bagaimana cara mengatasinya?

Ada dua hal penyebab sarang menjadi berlubang, Yaitu

pertama, karena kondisi gedung yang sangat rendah kelembapannya

Kedua, karena terdapatnya kecoak dalam gedung yang memakan sarang

dengan cara menggerogoti sarang hingga berlubang.

Gedung walet yang kelembapannya rendah disebabkan karena kurangnya

air dalam gedungsehingga menyebabkan tingkat kelembapan menjadi sangat

kurang.

Bisa pula karena ruangan yangsempit dan pendek sehingga suhu di dalam

gedung menjadi tinggi dan kelembapan juga rendah.

Banyaknya fentilasi udara pada dinding gedung juga bisa menyedot

kelembapan dalam gedung menjadi “habis’, tersedot keluar.Kondisi ruangan

yang kelembapannya rendah, membuat walet kesulitan mengeluarkan air liur.

Sehingga sarang yang dibuat walet bentuknya kurang sempurna. Misalnya

sarang berkerut, bentuk sarang bergelombang dll, pendeknya bentuk sarang

menjadi tidak utuh. Lebih-lebih lagi yangmembuat sarang adalah burung walet

muda, dimana produksi liurnya masih sedikit. Hal itu bisa dipastikan, bentuk

sarang menjadi tidak sempurna, dan pada bagian dasar sarang akan mudah

retak dan berlubang, karena daging sarang yang tipis. Ini sangat rentan karena

sarang mudah retak,mudah pecah. Apalagi pada bagian dasar sarang pasti

akan sering terkena kaki burung saat bertumpu didalam sarang, maka akan

cepat rapuh dan berlubang.Sebagian besar gedung walet terdapat kecoak.

Entah dari mana datangnya. Tau-tau kita mendapatikecoak sudah berkembang

biak. Apalagi jika kebersihan gedung tidak terawat, maka bisa dipastikan

banyak kecoak.

Sumber makanan kecoak adalah kotoran walet yang tersebar di lantai. Namun

jika populasi kecoak banyak, maka sarang walet sering menjadi sasaran.

Kecoak akan menggerogoti sarang walet, dimulai pada bagian yang tipis yang

mudah dimakan. Kecoak makan sarang di sianghari saat burung walet

meninggalkan sarangnya. Jika bagian dasar sarang yang menjadi sararan

kecoak, maka bisa dipastikan sarang akan berlubang. Semakin hari, lubang akan

semakin besar. Jika pada saat itu walet bertelur di sarang yang berlubang

besar, maka ada kemungkinan telur akan jatuh.Ini artinya, keberadaan kecoak

dalam gedung juga akan menghambat perkembangan populasi walet.Memang

tidak semua sarang menjadi sasaran kecoak. Namun jika gedung sama sekali

tidak pernah dirawat atau kotoran walet yang menumpuk di lantai tak

pernah/ jarang dibersihkan, kemungkinan populasi kecoak akan berkembang

subur. Ini bisa berakibat lebih fatal yakni, sebagian besar sarang walet bisa

menjadi sasaran kecoak. Oleh karena itu, gedung walet harus bersih dari

kotoran dan hama, termasuk harus bebas kecoak.

 

7.   Sarang Burung Walet Berjamur

Kasus sarang berjamur sering kita temui, terutama pada gedung walet yang

rata-rata sudah berusia 4 tahun ke atas dengan populasi walet yang lumayan

padat.  Jika sarang berjamur dimasukkan ke dalam sebuah kotak bok,

bercampur dengan sarang yang tak berjamur, maka dalam waktu sekitar

12 jam, sarang  yang semula tidak berjamur,akan terkontaminasi dan ikut

tertulari jamur Warna sarang yang semula putih, ikut kehijauan. Jamur yang

tumbuh di sarang walet memang menjadi problem tersendiri. Hari ini sarang

berjamur dipanen, 1 bulan lagi, sarang baru mulai terkena jamur lagi.

Demikian seterusnya.

Apa saja penyebab sarang walet berjamur? Antara lain penyebabnya

pertama : Banyaknya kotoran waletdi lantai yang jarang dibersihkan, dimana

populasi walet di gedung tersebut sangatlah padat. Jika kotoran walet jarang

membersihkan, bisa dibayangkan, tiap hari akan selalu bertambah kotoran

walet yang menumpuk di lantai.

Gedung walet yang jarang dibersihkan pasti akan menimbulkan dampak

negative. Jika kelembapan gedung tersebut mencapai 90 % , maka sudah

pasti amoniak yang terkandung pada kotoran walet tersebut akan naik

ke papan sirip. Di gedung walet yangkotorannya jarang

dibersihkan, pasti udara di dalamnya akan kotor bahkan sangat kotor.

Jika kitamasuk ke dalam gedung seperti ini, haruslah pakai masker karena

baunya yang sangat menyengat.Kadang mata kita juga terasa pedih.Jamur

akan mudah tumbuh di tempat yang kotor dan lembab. Pada kotoran apa saja,

baik itukotoran ayam, sapi, kambing, babi, dll jika berada di tempat yang

terlindung dengan kondisilembab, pasti dalam waktu tidak lama akan tumbuh

jamur. Tidak terkecuali di gedung walet yangkotor akan memudahkan jamur

berkembang biak. Benih jamur yang tak kelihatan mata ini lamakelamaan akan

naik ke papan sirip, ke dinding gedung, ke plafon, dan pasti akan mengenai

sarang.Sarang walet adalah media yang penuh nutrisi yang membuat spora

jamur cepat berkembang biak.

Sebab kedua : Gedung walet yang minim atau tanpa fentilasi udara, akan

menyebabkan udara dalam ruangan tidak dapat ber-sirkulasi secara baik.

Sehingga udara yang kotor akibat debu-debu yangditimbulkan oleh kotoran

walet yang menumpuk, akan menyebabkan sarang walet terkena dampak

kotornya. Tanda sarang walet terkena dampak, warna sarang kuning keruh.

Jika tidak segera diantisipasi, kelak, sarang akan berjamur.Jadi, kesimpulanya,

sarang berjamur diakibatkan oleh sebuah gedung walet yang populasinya

waletnya sangat banyak, dimana kotoran walet jarang dibersihkan.

Gedung tersebut juga sedikit atau bahkan tidak berfentilasi, sehingga udara

kotor dalam gedung tidak bisa keluar. Faktor kelembapan gedung yang tinggi

menjadi pendorong yang sangat kuat sehingga udara kotor terusnaik ke

langit-langit ruang/ plafon sehingga mempercepat tumbuhkan jamur di

plafon-papan sirip-dan sarang.Bagaimana cara mengatasinya? Tidak lain

dengan membersihkan secara rutin kotoran walet. Jika populasi walet

dalam gedung tersebut sangat padat, dibersihkan tiap haripun tidak masalah,

asal dilakukan sebelum jam 12 siang. Usahakan sirkulasi udara bisa berganti

secara normal dengan cara menambah fentilasi udara. Atau jika tidak

memungkinkan (karena gedung walet berupa ruko yang posisinya terjepit)

bisa meng gunakan ex house fan. Cara ini dilakukan agar udara kotor

terhisapkeluar dan berganti dengan udara baru yang bersih.

 

8.    Sarang Walet di Tinggal Pergi

Sarang ditinggal pergi, adalah fenomena yang acap terjadi pada sebuah

gedung walet. Burung waletyang hendak membikin sarang, umumnya akan

melalui observasi terlebih dahulu. Walet akan memilih tempat yang

menurutnya aman dan nyaman. Jika walet sudah memutuskan satu tempat

tertentu, maka segera ia membangun sarangnya secara perlahan-lahan.

Tetapi kenapa sarang yangtelah dibangunnya ditinggal pergi ? Kadang kita

melihat leletan liur walet di papan sirip ataufondasi sarang yang tidak

diteruskan. Pada papan sirip lain kadang kita melihat juga sarang walet yang

sudah jadi, tapi tak ada penghuninya. Ini bisa diketahui karena di bawahnya

tidak terdapa tkotoran walet. Atau jika ada kotoran, namun sudah kering,

sarang tersebut sebagaisarang tidak aktif. Ada sarangnya tak ada burungnya.

Tandanya, tak ada kotoran di lantai.

Ada beberapa penyebab, antara lain :

pertama: Papan sirip yang semula kering, namun karena terjadi kebocoran

pada dak/ plafon, lalu rembesan airnya membasahi bidang papan sirip.

Walet lalu akan pindah ke papan sirip lain. Sirip yang basah akan membuat

daya rekat liur walet menjadi berkurang.Walet merasa tidak aman membangun

sarang di tempat basah Walet kuatir kekuatan sarangnya tidak tahan lama

dan mudah lepas.

Kedua : Ada kemungkinan salah satu pasangan mati, sehingga walet harus

mencari pasangan baru dan memilih tempat baru.

Ketiga : Walet terganggu karena ada predator, misalnya tikus, tokek, cicak,

atau kecoak. Walet kurang nyaman lagi, atau bahkanterancam jiwanya.

Keempat, bisa juga karena faktor kelembapan ruangan/ gedung yang semula,

misalnya 85 % karena air yang ada di kolam/ baknya kering, akhirnya

kelembapan turun menjadi 50%, sehingga ruangan menjadi kering.

Walet merasa tak nyaman lagi membikin sarang di tempat kering.

Air liurnya susah keluar dari tenggorokannya.

Kelima, bisa juga karena twiter di papan siripmati, atau sound system suara

rekaman walet rusak sehingga tak ada bunyi suara walet. Pada gedung baru,

bukankah walet masuk gedung karena ada suara rekaman walet? dan walet

menginap karena ada suara elektronik itu ? Jika suara tak ada lagi, walet

akan pindah ke gedung yang ada bunyi suara walet, meskipun hanya berupa

rekaman.

sumber: http://www.facebook.com/groups/asosiasipepayaindonesia/doc/242059365863733/

Perihal INDOAGROW
kami adalah lembaga yang bergerak dalam pengembangan sumberdaya pertanian, menyediakan berbagai macam sarana produksi pertanian, dan konsultasi pertanian alamat : Dukuh Serut Desa Tegalontar Kec Sragi Pekalongan Telepon 081931723043 (WA), 081325666314, 08562813733 email: indoagrow@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: