Jabon di Mata Doktor Silvikultur IPB

Ikhtiar Mencari Kayu yang Aman, Cepat, dan Menguntungkan

(Wawancara Tabloid TransAgro/ www.tabloidtransagro.com dengan Dr. Ir. Supriyanto peneliti senior SEAMO BIOTROP, Pusat Regional Asia Tenggara untuk Biologi Tropika)

Supriyanto di tengah lahan Jabon yang mix dengan tanaman sorgum

Supriyanto di tengah lahan Jabon yang mix dengan tanaman sorgum

Dua tahun ini  Jabon, yang sering disebut sebagai tanaman taoge oleh beberapa orang dikarenakan kecepatan pertumbuhannya, tengah mengalami kenaikan tren yang luar biasa. Di pulau  Jawa gemanya ada dimana-mana, dan belakangan luar Jawa pun ikut terpengaruh.

Masyarakat berbondong-bondong investasi tanaman ini. Selain aman, menguntungkan, juga ikut dalam konservasi lingkungan. Trans Agro mewawancarai secara eklusif seorang peneliti senior SEAMO BIOTROP (Southeast Asian Ministers of Education Organization)  yang terlibat langsung dalam riset Jabon.  Berikut hasil wawancara  dengan Dr. Ir. Supriyanto oleh Ahmad Shofi, pemimpin umumTrans Agro.

 

 

Trans Agro (TA) : Kenapa Jabon bisa booming seperti sekarang ini?

Supriyanto (S) : Untuk memenuhi industri besar dan juga industri masyarakat, selama ini sudah terpaku pada sengon, terutama di Jawa. Sebagian besar industri kayu ini kan di Jawa, meski ada juga yang di luar Jawa. Tiba-tiba sengon mengalami karat puru, di Jawa timur, Jawa tengah, dan juga Jawa barat dan daerah lain. Meskipun tidak semua, tapi cukup hebat. Karena pohon yg berdiameter 10 cm pun tiba-tiba bisa mati. Kalau matinya diameter 20 kan masih bisa dimanfaatkan, untuk suplai pabrik, misalnya kayu lapis.

TA: Bagaimana menghadapi serangan tersebut?

S: Bagi kami yang fokus di penelitian tanaman hutan, ada 3 solusi utama. Yang pertama dicari jenis-jenis kayu yang alternatif untuk memenuhi suplai kayu. Yang kedua, mencari sengon baru yang tahan terhadap karat puru. Dan ketiga, mengobati sengon yang kena karat puru. Ketiganya sangat penting.

Kalau kita mencari jenis yang tahan penyakit tersebut, kira-kira akan sangat lama sedangkan permintaan industri tidak bisa dihentikan. Jadi, akan lebih baik kita mencari jenis alternatif yang cepat, yang bisa mensuplai pabrik. Alternatifnya sih banyak, seperti Jabon, Benuang, jenis-jenis beringin namanya Ficcus callosa, orang Jawa menyebutnya lampean. Saya sudah mengidentifikasi paling tidak 20 jenis yang masuk dalam kategori fast growing tapi resikonya kecil.

TA: Dari 20 jenis itu mana yang paling bagus?

S: Dari 20 itu kita pikir-pikir mana yang cocok, maka terpilihlah jabon. Terus kita konsultasikan juga ke perusahaan-perusahaan kayu vinil, atau kayu lapis, jadi kita konsultasi ke kalangan industri,  tentang kemudahannya untuk mengola, yang kedua ada nggak spek peralatan yang perlu diganti. Karena mengganti spek peralatan kan tidak efesien. Nah, ternyata dunia industri sudah menggunakan kayu jabon, seperti di Lampung,Banjarnegara,Surabaya, dan juga Kalimantan.

TA:Berarti sudah lama pak?

S: Iya mereka sudah lama menggunakan. Cuma hanya sebagai kayu minor. Karena di hutan tumbuh dimana-mana Kalau ketemu di hutan ditebang karena memenuhi syarat industri. Tapi orang budidaya belum memikirkan bagaimana jabon menjadi kayu intensip, kayu industri. Ketika kita memikirkan itu perlu juga  melihat lebih jauh. Berdasarkan pengalaman riset kami, terutama untuk industri biokomposit, ternyata jabon juga bagus.

TA:Perusahaan biokomposit seperti bagaimana?

S: Biokomposit ini kan secara sederhana bisa diartikan sebagai teknologi bagaimana memanfaatkan kayu berdiameter kecil, terutama limbah menjadi lebih berguna. Salah satunya particel board, papan serat, papan sambung, plastic board, itu adalah teknologi yang kita sebut teknologi biokomposit, dan itu adalah teknologi masa depan. Karena apa, suplai kayu besar sudah jarang. Coba cari kayu berdiameter di atas 80 cm, sudah sangat jarang kecuali di hutan alam.

TA: Bagaimana dengan kemungkinan pelarangan kayu hutan alam di masa depan?

S: Maksudnya moratorium? Tergantung juga. Kalau kita bisa mengelola secara berkelanjutan akan bagus. Bukannya tidak mungkin, karena adanya tekanan dunia, tekanan konservasi. Mendingan kita bangun hutan masyarakat, akan lebih bagus. Karena di hutan alam itu masih banyak jenis-jenis yang kita belum tahu manfaatnya.  Mending kita budidaya jenis-jenis yang sudah kita ketahui, seperti jati, jabon, mahoni, dan lain sebagainya menjadi hutan rakyat. Karena hutan alam masih banyak sekali kekayaan yang masih perlu digali.  Tetap lebih baik menciptakan hutan rakyat.

TA: Bagaimana perbandingan kualitas jabon dibandingkan dengan sengon?

S: Dari segi kekuatan, masih kuat jabon. Dari sisi keawetan hampir sama. Dari sisi corak lebih bagus jabon, karena ada unsur kecoklatannya. Dari  sisi pengerjaan kayunya, sama sama mudah. Kalau untuk pertumbuhan di lapangan, karena jabon lurus, sementara sengon banyak cabang, jabon lebih cepat. Selain itu, jabon juga lebih efesien dalam penggunaan ruangan. Jabon itu self pruningnya tinggi, jadi pemangkasan cabang oleh dirinya sendiri lebih cepat. Kalau bicara kualitas kayu, dalam pengertian industri, kayu lurus berdiameter besar itu yang dicari, karena lebih efesien, pengangkutan gampang. Bukan soal panjangnya saja, tapi diameter kayunya. Sehingga sengon itu di dalam industri dipotong hanya kisaran 1,2 sampe 2 meter. Nah kalau jabon itu sudah lurus, bisa lebih panjang dan berdiameter besar.

Dari sisi daun, jabon lebih besar sedangkan sengon kecil-kecil. Artinya untuk agroforestry, untuk adanya tumbuhan campuran lebih mudah di sengon karena sinar matahari bisa lebih banyak masuk. Apakah kita harus menyerah sampai di situ? Tidak, kita harus cari jenis-jenis tanaman yang tahan teduh, seperti kopi, kapulaga, garut, gampangannya kalau saya yang penting tinggal iqra’ kita ini, kemampuan membaca peluangnya.

TA: Selain kelebihan, kelemahan jabon?

S: Ada tentunya, contohnya benihnya sangat kecil  jadi tidak semua orang bisa membibitkannya. Diperlukan keahlian khusus, tapi bukannya tidak mungkin. Terus  ada juga ulat,  tapi harus dipahami kalau ulatnya besar pasti akan timbul pemakan alaminya, contoh burung. Jadi, populasi burung itulah yang harus dijaga, jadi harus dijadikan sebagai proses keseimbangan alami. Tapi serangan ulat ini tidak seberapa, kok. Paling satu pohon ada ulat beberapa daun, daun habis tapi kan tumbuh lagi. Kalau sengon kan begitu kena karat puru, bisa mati semua.

TA: Ada kemungkinan tidak jabon terjadi seperti sengon, jabon suatu saat kena penyakit yang tidak diduga sebelumnya?

S: Bukannya tidak mungkin memang. Tapi ingat, dulu ada namanya kutu loncat, menyerang hampir semua jenis kemlandingan, tapi sekarang nggak ada, tuh? Karena ada mekanisme alam. Nah,   yang penting memang menjaga keseimbangan alam. Pasti ada, karena segala penyakit pasti ada obatnya kecuali mati dan tua he he.  Yang penting kita antisipasi, karena selain konservasi pertimbangan ekonomis juga harus ada.

Tapi sekarang begini, dari pertimbangan lingkungan, degradasi hutan Indonesia ini kan luar biasa. Nah, saya sebagai orang budidaya, yang penting nanam dulu, konservasi, ada air dulu, baru ngomong ekonomi. Nanti akan sejalan. Bahkan program yang tengah saya kembangkan saat ini adalah membangun hutan rakyat kaya.

TA:Maksudnya?

S: Begini maksudnya, banyak orang membeli lahan asal dibeli tapi isinya kosong, dan itu yang punya orang kaya. Kalau terjadi kekeringan, masyarakat gak ada air, tapi orang kaya ini masih bisa mandi sauna. Tapi kalau lahan itu dibikin hutan, maka di situ ada air, dan kalau ada air pasti akan ada kehidupan. Sekarang ini bagaimana kita mengajak orang-orang kaya tadi yang lahannya kosong bisa ditanami hutan. Karena apa? Lahan-lahan orang miskin ini kecil, tidak bisa dikembangkan lagi, isinya penuh untuk penghasilan mereka. lahan besar kalau tidak ada tanamannya bisa menjadi bahaya yang sangat besar.

Ketika kita membangun hutan rakyat tadi, harus ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Contohnya keamanan dan kenyamanan dalam berinvestasi, apakah investasinya aman? Kedua apakah menguntungkan? Yang ketiga, apakah bisa membangun lingkungan. Tiga syarat itu yang harus ada.

Untuk kenyamanan berinvestasi kita bisa membangun kelembagaan dengan masyarakat. Jadi ada pembagian keuntungan antara  investor, pemilik lahan, dan pengelola. Kalau saya punya pemikiran, 40% untuk pemilik lahan, 40% untuk investor, dan 20% untuk manajemen atau pengelola. Apakah menguntungkan? sangat menguntungkan, menanam pohon itu sangat menguntungkan.

Coba kita bisa itung-itungan, harga emas dalam waktu 5 tahun naiknya berapa persen? Taruhlah 10 %. Kalau saya punya uang Rp 100 juta, maka dalam waktu 5 tahun uang saya akan menjadi hanya menjadi Rp 110 juta.

Kalau saya belikan mobil untuk saya rentalkan, taruhlah 50 juta. jadi saya masih punya dana 50 juta. paling banter paling keuntungan 50 juta, maka uang saya menjadi 150 juta dalam waktu 5 tahun. saya asuransikan ke deposito, 3 % pertahun, sehingga 5 tahun menjadi 115 juta.

Sekarang saya investasikan ke pohon, sewa lahan 2 juta perhektar pertahun, 5 tahun menjadi 10 juta. saya tanam pohon jabon jarak tanam 5X5 m (minimalis-red) dalam 1 hektar ada 400 pohon. Dalam waktu 5 tahun perpohon bisa menjadi berukuran 20-30 cm.

 Satu pohon bisa menghasilkan paling minim setengah kubik, dibikin minim saja. Dengan demikian, saya sudah punya 200 kubik dalam 1 hektar tersebut. Taruhlah perhektar untuk biaya investasi  total hanya sekitar 20 juta, Kalau saya jual kayunya Rp 1 juta saja perkubik, anda bisa hitung sendiri? jelas sangat menguntungkan.  Itu baru hitungan minimal dengan jarak sangat longgar. Riilnya bisa berlipat-lipat kali.

TA:Sekarang bagaimana dengan jarak tanam yang ideal untuk investasi? Kami lihat banyak perbedaan, kadang ada yang longgar dan kadang ada yang rapat?

S: Di masyarakat memang banyak terjadi perbedaan pengaturan jarak tanam.  Dan itu hanya perspektif ekologis. Tergantung tujuannya. Kalau jarak tanam 2X2,5 m, lebih rapat, memang tanamannya akan lebih lurus, self pruningnya lebih cepat. Dan yang kedua, biasanya petani menginginkan hasil antara. Karena pada umur 3  tahun bisa dilakukan dengan penjarangan. Nah yang saya contohkan tadi 5X5 m memang sejak awal sudah dikondisikan lebar, memang diameternya akan tumbuh lebih besar dan lebih cepat dibandingkan dengan yang jaraknya sempit. (vie)

DATA PRIBADI

 Name                                                  :     Dr. Ir. Supriyanto

Address                                               :     SEAMEO – BIOTROP

Jalan Tajur Km 6. P.O. Box 16001,

Bogor, Indonesia

Short description about activities & current research interest

  • Biological Aspect of Silviculture
  • Soil carbon management
  • Mycorrhizae
  • Plant Physiology
  • Forest Health Monitoring
  • Sorghum
  • Farmer Energy

1. EDUCATION

Institutions

Degree Period Field of Study
Faculty of Forestry, Gadjah Mada University Engeener 1981 Forest economic and Management
Faculty of Science, Nancy University, France Doctor 1989 Plant Pysiology and Forest Biotechnology

2. Work Experiences

Institutions

Positions/Responsibilities Period
Gunung Walat Educational Forest, Faculty of Forestry, Bogor Agricultural University Director 2003 – 2008
SEAMEO – BIOTROP(Southeast Asian Ministers of Education Organization) Scientist on Silviculture 1981 – now
Faculty of Forestry, Bogor Agricultureal University Lecturer on Silviculture, Seed Technology, and Plant Physiology for Undergraduate, Postgraduate (Masteral and doctoral programs). 1992 – now
Wageningen University, the Netherlands Co-Promotor for Doctoral Program . 1998- 2002
Murdoch University, Perth, Western Australia. External Examiner for PhD Degree 2001
UP Diliman, the Phillippines. Co-Supervisor for Graduate Study 2000- 2002
Faculty of Forestry, Bogor Agricultureal University Vice Dean fo Student Affairs 2000- 2004
ITTO – MOFEC – USDA – Forest Service – SEAMEO BIOTROP, Bogor. Chairman of Project Executing Agency on Forest Health Monitoring Programme , 1998 – 2000
ACIAR (Australia) – RITF (China) Project Reviewer for ACIAR (Australia) – RITF (China) Cooperation on Mycorrhizal Development Technnology for Reforestation Program in China and Australia. 1998
DANIDA (Denmark) and MOF (Indonesia) Project Reviewer for the DANIDA (Denmark) and MOF (Indonesia) Cooperation on Indonesian Forestry Seed Project. 2000
Faculty of Forestry, Bogor Agricultureal University Director of Gunung Walat Education Forest. 2004- now
Ministry of Forestry Member of National Working Group  for the Project Proposal Appraisal to the ITTO 2005 – now
International Forestry Student Association Conselor 2000- now


Perihal INDOAGROW
kami adalah lembaga yang bergerak dalam pengembangan sumberdaya pertanian, menyediakan berbagai macam sarana produksi pertanian, dan konsultasi pertanian alamat : Dukuh Serut Desa Tegalontar Kec Sragi Pekalongan Telepon 081931723043 (WA), 081325666314, 08562813733 email: indoagrow@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: