BUDIDAYA RAMBUTAN

  • BUDIDAYA RAMBUTAN

    ( Nephelium sp. )

     

    Rambutan (Nephelium sp.) merupakan tanaman buah hortikultural berupa

    pohon dengan famili Sapindacaeae. Tanaman buah tropis ini dalam bahasa

    Inggrisnya disebut Hairy Fruit berasal dari Indonesia. Hingga saat ini telah

    menyebar luar di daerah yang beriklim tropis seperti Filipina dan negara-

    negara Amerika Latin dan ditemukan pula di daratan yang mempunyai iklim

    sub-tropis.

     

    JENIS TANAMAN

    Dari survey yang telah dilakukan terdapat 22 jenis rambutan baik yang

    berasal dari galur murni maupun hasil okulasi atau penggabungan dari dua

    jenis dengan galur yang berbeda. Ciri-ciri yang membedakan setiap jenis

    rambutan dilihat dari sifat buah (dari daging buah, kandungan air, bentuk,

    warna kulit, panjang rambut). Dari sejumlah jenis rambutan diatas hanya

    beberapa varietas rambutan yang digemari orang dan dibudidayakan

    dengan memilih nilai ekonomis relatif tinggi diantaranya:

     

    1)   Rambutan Rapiah buah tidak terlalu lebat tetapi mutu buahnya tinggi,

    kulit berwarna hijau-kuning-merah tidak merata dengan beramut agak

    jarang, daging buah manis dan agak kering, kenyal, ngelotok dan daging

    buahnya tebal, dengan daya tahan dapat mencapai 6 hari setelah dipetik.

     

     

    2)   Rambutan Aceh Lebak bulus pohonnya tinggi dan lebat buahnya dengan

    hasil rata-rata 160-170 ikat per pohon, kulit buah berwarna merah kuning,

    halus, rasanya segar manis-asam banyak air dan ngelotok daya simpan

    4 hari setelah dipetik, buah ini tahan dalam pengangkutan.

     

     

    3)   Rambutan Cimacan, kurang lebat buahnya dengan rata-rata hasil 90-170

    ikat per pohon, kulit berwarna merah kekuningan sampai merah tua,

    rambut kasar dan agak jarang, rasa manis, sedikit berair tetapi kurang

    tahan dalam pengangkutan.

     

     

    4)   Rambutan Binjai yang merupakan salah satu rambutan yang terbaik di

    Indonesia dengan buah cukup besar, dengan kulit berwarna merah darah

    sampai merah tua rambut buah agak kasar dan jarang, rasanya manis

    dengan asam sedikit, hasilbuah tidak selebat aceh lebak bulus tetapi daging

    buahnya ngelotok.

     

     

    5)   Rambutan Sinyonya, jenis rambutan ini lebat buahnya dan banyak disukai

    terutama orang Tionghoa, dengan batang yang kuat cocok untuk diokulasi,

    warna kulit buah merah tua sampai merah anggur, dengan rambut halus

    dan rapat,rasa buah manisa sam, banyak berair, lembek dan tidak ngelotok.

     

     

    MANFAAT TANAMAN

    Tanaman buah rambutan sengaja dibudidayakan untuk dimanfaatkan buahnya

    yang mempunyai gizi, zat tepung, sejenis gula yang mudah terlarut dalam air,

    zat protein dan asam amino, zat lemak, zat enzim-enzim yang esensial dan

    nonesensial, vitamin dan zat mineral makro, mikro yang menyehatkan keluarga,

    tetapi ada pula sementara masyarakat yang memanfaatkan sebagai pohon

    pelindung di pekarangan, sebagai tanaman hias.

     

    SENTRA PENANAMAN

    Di Indonesia yang menjadi sentra penanaman rambutan adalah di Jawa

    khususnya yang sangat besar produksi buah rambutan antara lain di Bekasi,

    Kuningan,Malang, Probolinggo, Lumajang dan di Garut.

     

    SYARAT PERTUMBUHAN

     

    1.   Iklim

    1)   Dalam budidaya rambutan angin berperan dalam penyerbukan bunga.

    2)   Intensitas curah hujan yang dikehendaki oleh pohon rambutan berkisar

    antara 1.500-2.500 mm/tahun dan merata sepanjang tahun

    3)   Sinar matahari harus dapat mengenai seluruh areal penanaman sejak

    dia terbit sampai tenggelam, intensitas pancaran sinar matahari erat

    kaitannya dengan suhu lingkungan.

    4)   Tanaman rambutan akan dapat tumbuh berkembang serta berbuah

    dengan optimal pada suhu sekitar 25 derajat C yang diukur pada siang

    hari. Kekurangan sinar matahari dapat menyebabkan penurunan hasil

    atau kurang sempurna (kempes).

    5)    Kelembaban udara yang dikehendaki cenderung rendah karena

    kebanyakan tumbuh di dataran rendah dan sedang. Apabila udara

    mempunyai kelembaban yang rendah, berarti udara kering karena miskin

    uap air. Kondisi demikian cocok untuk pertumbuhan tanaman rambutan.

     

    2.   Media Tanam

    1)   Rambutan dapat tumbuh baik pada lahan yang subur dan gembur serta

    sedikit mengandung pasir, juga dapat tumbuh baik pada tanah yang

    banyak mengandung bahan organik ataui pada tanah yang keadaan liat

    dan sedikit pasir.

    2)   Pada dasarnya tingkat/derajat keasaman tanah (pH) tidak terlalu jauh

    berbeda dengan tanaman perkebunan lainnya di Indonesia yaitu antara

    6-6,7 dan kalau kurang dari 5,5 perlu dilakukan pengapuran terlebih

    dahulu.

    3)   Kandungan air dalam tanah idealnya yang diperlukan untuk penanaman

    pohon rambutan antara 100-150 cm dari permukaan tanah.

    4)   Pada dasarnya tanaman rambutan tidak tergantung pada letak dan

    kondisi tanah, karena keadaan tanah dapat dibentuk sesuai dengan tata

    cara penanaman yang benar (dibuatkan bedengan) sesuai dengan

    petunjuk yang ada.

     

    3.   Ketinggian Tempat

    Rambutan dapat tumbuh subur pada dataran rendah dengan ketinggian

    antara 30-500 m dpl. Pada ketinggian dibawah 30 m dpl rambutan dapat

    tumbuh namun tidak begitu baik hasilnya.

     

    PEDOMAN BUDIDAYA

     

    Pembibitan

    1)   Persyaratan Benih

    Benih yang diambil biasanya dipilih dari benih-benih yang disukai oleh

    masyarakat konsumen antara lain: Rambutan Rapiah, Rambutan Aceh,

    Lebak bulus, Rambutan Cimacan, Rambutan, Rambutan Sinyonya.

     

    2)   Penyiapan Benih

    Persiapan benih biji yang dipergunakan sebagai pohon pangkal setelah

    buah dikupas dan diambil bijinya dengan jalan fermentasi biasa (ditahan

    selama 1-2 hari) sesudah itu di angin-anginkan selama 24 jam (sehari

    semalam) dan biji siap disemaikan. Disamping itu dapat pula direndam dengan

    larutan asam dengan perbandingan 1:2 dari air dan larutan asam yang terdiri

    dari asam chlorida (HCl) 25% atau Asam Sulfat (H2S04) BJ = 1.84, caranya

    direndam selama 15 menit kemudian dicuci dengan air tawar yang bersih

    sebanyak 3 kali berulang dengan air yang mengalir selama 10 menit dan

    dianginkan selama 24 jam. Untuk menghidari jamur biji dapat dibalur dengan

    larutan Dithane 45, Attracol 70 WP atau fungisida lainnya.

     

    3)   Teknik Penyemaian Benih

    Teknik penyemaian benih dipilih lahan yang gembur dan mudah mendapat

    pengairan serta mudah dikeringkan disamping itu mudah diawasi seperti:

    mencangkul tanah sedalam 20-30 cm sambil dibersihkan dari rumput-rumput,

    batu-batu dan sisa pepohonan dan benda keras lainnya. Kemudian tanah

    dihaluskan sehingga menjadi gembur dan buatkan bedang-bedeng yang

    berukuran 1-1,5 m lebar dan tinggi sekitar 30 cm, panjang disesuaikan

    dengan luas pekarangan/persawahan. Tetapi idealnya panjang bedengan

    sekitar 10 m, dengan keadaan arah membujur dari Utara ke Selatan,

    supaya mendapatkan banyak sinar matahari walaupun setelah diberi atap

    pelindung, dengan jarak antara bedeng 30 cm dan untuk menambah

    kesuburan dapat diberi pupuk hijau, kompos/pupuk kandang yang sudah

    matang dan benih siap disemaikan. Selain dengan melalui proses

    pengecambahan juga biji dapat langsung ditunggalkan pada bedeng-

    bedeng yang sudah disiapkan, untuk menyiapkan pohon pangkal lebih

    baik melalui proses pengecambahan, biji-biji tersebut ditanam pada

    bedeng bedeng yang berjarak 10 X 10 cm setelah berkecambah dan

    berumur 1-1,5 bulan dan sudah tumbuh daun sekitar 2-3 helai maka bibit

    dapat dipindahkan dari bedeng persemaian ke bedeng penanaman.

     

    4)   Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian

    Setelah bibit berkecambang dan telah berumur 1-1,5 bulan disiram pagi sore,

    setelah kecambah dipindah ke bedeng pembibitan penyiraman cukup 1 kali

    tiap pagi hari sampai menjelang mata hari terbit, dengan menggunakan

    “gembor” supaya merata dan tidak merusak bedengan dan diusahakan air

    dapat menembus sedalam 3-4 cm dari permukaan. Kemudian dilakukan

    pendangiran bedengan supaya tetap gembur dan dilakukan setiap 2-3 minggu

    sekali, rumput yang tumbuh disekitarnya supaya disiangi, hindarkan dari

    serangan hama dan penyakit, sampai umur kurang lebih 1 tahun persemaian

    yang dilakukan terhadap pohon baru setelah itu dapat dilakukan

    pengokulasian yang ditentukan dengan sistem Fokkert yang sudah

    disempurnakan yang sebelumnya daun-daun dirontokkan pada pohon induk

    yang telah dipilih mata kulitnya dan kemudian setelah disiapkan tempat untuk

    penempelan mata kulit tersebut sampai mata kulit itu tumbuh tunas, setelah

    itu tunas asli pada pohon induk yang telah ditempel dipangkas, kemudian

    rawat dengan penyiraman 2 kali sehari dan mendangir serta membersihkan

    rumput-rumput yang ada disiangi, kemudian dapat juga diberi pupuk urea

    10 gram untuk tiap 1 m² untuk 25 tanaman rambutan.

     

    5)   Pemindahan Bibit

    Cara pemindahan bibit yang telah berkecambah atau di cangkok maupun

    diokulasi dapat dengan mencungkil/membuka plastik yang melekat pada media

    penanaman dengan cara hati-hati jangan sampai akar menjadi rusak dan

    dilakukan penyungkilan sekitar 5 cm dan agar tumbuh akar lebih banyak maka

    dalam penanaman kembali akar tunggangnya dapat dipotong sedikit untuk

    menjaga penguapan kemudian lebar daun dipotong separuh serta keping

    yang menempel dibiarkan sebab berfungsi sebagai cadangan makanan

    sebelum dapat menerima makanan dari tanah yang baru. Dan ditanam pada

    bedeng pembibitan dengan jarak 30-40 cm dan ditutupi dengan atap yang

    dipasang miring lebih tinggi di Timur dengan harapan dapat lebih banyak

    kena sinar mata hari pagi.

     

    Teknik Pembibitan Lainnya

     

    Teknik Pencangkokan Pada Rambutan

     

    Teknik mencangkok pohon rambutan :

    -     Siapkan sarana produksi terdiri dari media tanah/kompos yang gembur

    dicampur pupuk kandang dengan perbandingan (1:1), pisau okulasi, wadah

    dan tali pengikat

    -     Pilih dahan atau cabang yang tumbuh lurus ke atas, berdiameter sebesar

    jari telunjuk orang dewasa, panjang 75-100 cm dan berumur sekitar 1 tahun.

    -     Cangkok tidak di lakukan pada dahan yang sedang berbuah, karana dapat

    mengalami kekurangan suplai makanan

    -     Pencangkokan dapat dilakukan 2 cara, yaitu denga membelah kayu dan

    mengupas kulit dari dahannya.

    -     Cangkokan dengan membelah kayu dimulai  dengan membelah dahan/ranting

    terpilih dari bawah keatas sepanjang 15-20 cm. ujung belahan yang bebas

    dimasukan dalam wadah yang berisi media. Dasar wadah diberi lubang

    pengeluaran air dan wadah diikat pada pangkal dahan yang dicangkok.

    -     Cangkokan dengan cara menyayat dan mengupas kulit dahan sepanjang 5 cm.

    lendir dibersihkan hingga kering dan dahan dibiarkan selama 3-4 hari atau

    sampai Nampak sembuh (tidak mengeluarkan lendir lagi). Plastic atau sabut

    kelapa diikat ke dahan hingga membentuk kantung dan diisi dengan media

    yang cukup lembab. Kantung diikat tidak terlalu era, dan tidak mudah dilepas.

    Untuk bungkus plastic, plastic diberi lubang untuk sirkulasi udara dan air.

    -     Canngkokan berumur 10 hari siram dengan air yang dicampur zat perangsang

    tumbuh akar sesuai dosis.

    -     Pada umur 40-45 hari, akar mulai banyak tumbuh dan sudah menembus

    plastic/sabut kelapa dan cangkokan sudah bisa dilepas dari induknya.

    Pemotongan dilakukan dengan bungkusan bagian bawah.

    -     Daun pada benih cangkokan dikurangi separuh untuk mengurangi penguapan.

    -     Benih diletakkan di tempat sabut transplanting ke keranjang bambu atau

    polybag sampai tumbuh kuat dan subur.

    -     Selama di persemaian sekitar 3 bulan, penyiraman dilakukan 2-3 kali sehari.

    Setelah itu benih cangkokan dipindah ke kebun penanaman.

     

    Teknik Okulasi Pada Rambutan

     

    -     Siapkan biji pohon pangkal berasal dari tanaman induk dengan criteria

    tanaman berakar kuat, tahan hama dan penyakit, toleran terhadap cekaman

    air dan zat hara.

    -     Biji di ambil dan buah yang masak di pohon, kemudian biji dipisah dan daging

    buah secara manual dibiarkan 1-2 hari.

    -     Biji kemudian dicuci dengan air sebanyak 3 kali, lalu dikering angin selama 24 jam

    -     Air pada petakan dikeringkan.

    -     Tanah yang sudah kering dicangkul sedalam 20-30 cm, lalu dibiarkan selama

    7-10 hari agar masuk cahaya matahari.

    -     Berilah pupuk organic sebanyak 25 kg per m² tanah berdengan.

    -     Jarak tanam dipersemaian 20 cm x 20 cm usahakan di atasnya diberi atap dan

    daun kelapa atau ilalang

    -     Benih perlu disiram 1 kali sehari selain penyiraman dilakukan pendangiran dan

    penyiangan setiap2-3 minggu sekalimata temple diambil dan cabang berumur

    1 tahun dan berukuran sebesar jari telunjuk dewasa. Sebelumnya dilakukan

    perontokan daun pada cabang yang dipilih pada saat tanaman tidak berbuah.

     

    Cara okulasi pada tanaman rambutan sebagai berikut :

    -     Benih batang bawah yang berumur 1 tahun dibersihka dan kotoran sampai

    15 cm di atas tanah

    -     Kulit batangnya 10 cm diatas tanah dikerat dengan lebar 8 mm dan panjang

    4 cm kebawah

    -     Kulit yang dikerat ditarik hingga membentuk lidah dan dipotong sebagaian.

    -     Ambil mata temple dari pohon terpilih dengan bentuk dan ukuran pohon lebar

    8 mm dan panjang 4 cm sesuai dengan ukuran keratin pada batang bawah.

    -     Potongan temple ditempelkan hingga bawah diikat, tidak terlalu erat, juga

    tidak mudah lepas

    -     Ketika benih okulasi berumur setengah bulan, ikatan dilepas dan batang

    bawah± 10 cm diatas okulasi diiris sedikit, lalu dibengkokkan ketanah dan

    diikat pada tonggak di dekatnya.

    -     Untuk perawatan, dilaukan penyiraman 2 kali sehari, pendagiran, penyiangan

    dan pemupukan.

    -     Ujung batang bawah yang dibengkokan dipotong setelah tunas tumbuh

    menjadi batang baru.

    -     Benih dipindah kedalam keranjang bamboo atau polybag yang sudah berisi

    media tanam, setelah sebagian akarnya dipotong.

    -     Benih dipindah ke kebun setelah berumur 2-3 bulan di dalam keranjang/polibag

    -     Setiap luka sayat atau potong, harus diolesi pestisida.

     

    Pengolahan Media Tanam

    1)   Persiapan

    Pilihlah tanah yang subur, hindari daerah yang berkondisi tanahnya terlampau

    liat dan tidak memiliki sirkulasi yang baik, meskipun pada daerah perbukitan

    tetapi tanahnya subur dengan cara membuat sengkedan (teras) pada bagian

    yang curam, kemudian untuk menggemburkan tanah perlu dibajak atau cukup

    dicangkul dengan kedalaman sekitar 30 cm secara merata.

     

    2)   Pembukaan Lahan

    Tanah yang akan dipergunakan untuk kebun rambutan dikerjakan semua

    secara bersama, tanaman pengganggu seperti semak-semak dan rerumputan

    dibuang dan benda-benda keras disingkirkan kemudian tanah dibajak/dicangkul.

    Bila bibit berasal dari cangkokan pengolahan tanah tidak perlu terlalu dalam

    tetapi kalau dari hasil okulasi perlu pengolahan yang cukup dalam. Kemudian

    dibuatkan saluran air selebar 1 meter dan kedalam disesuaikan dengan

    kedalaman air tanah, guna mengatasi sistem pembuangan air yang kurang

    lancar. Tanah yang kurus dan kurang humus atau tanah cukup liat diberikan

    pupuk hijau yang dibuat dengan cara mengubur ranting-ranting dan dedaunan

    dan kondisi ini dibiarkan selama kurang lebih 1 tahun sebelumnya.

     

    3)   Pembentukan Bedengan

    Setelah tanah keadaan gembur dan buatkan bedeng-bedengan yang

    berukuran 8 m lebar dan tinggi sekitar 30 cm dengan perataan dasar atasnya

    guna menopang bibit yang akan ditanam, panjang disesuaikan dengan luas

    pekarangan/persawahan. Tetapi idealnya panjang bedengan sekitar 10 m,

    dengan keadaan arah membujur dari utara ke selatan, supaya mendapatkan

    banyak sinar matahari pagi walaupun setelah diberi atap pelindung, dengan

    jarak antara bedeng 1 m yang diharapkan untuk lalu-lintas para pekerja dan

    dapat dipergunakan sebagai saluran air pembuangan, dan untuk menambah

    kesuburan dapat diberi pupuk hijau, kompos/pupuk kandang yang sudah

    matang

     

    4)   Pengapuran

    Pengapuran pada dataran yang berasal dari tambak dan juga dataran

    yang baru terbentuk tidak bisa ditanami, selain tanah masih bersifat asam

    juga belum terlalu subur, setelah lobang-lobang itu digali dengan ukuran

    penanaman di pekarangan dan dasarnya ditaburkan kapur sebanyak

    0,5 liter untuk setiap lobang guna menetralkan pH tanah hingga mencapai

    6-6,7 sebagai syarat tumbuhnya tanaman rambutan, setelah 1 minggu

    dari penaburan kapur diberi pupuk kandang supaya tanah menjadi subur.

     

    5)   Pemupukan

    Setelah jangka waktu 1 minggu dari pemberian kapur pada lubang-lubang

    yang ditentukan kemudian diberikan pupuk kandang sebanyak 25 kg (kurang

    lebih 1 blek) dan setelah 1 minggu lahan baru siap untuk ditanami bibit

    rambutan yang telah jadi.

     

    Teknik Penanaman

     

    1)   Penentuan Pola Tanaman

    Penyiapan pohon pangkal sebaiknya melalui proses perkecambahan

    kemudian ditanam dengan jarak 10 x 10 cm setelah berkecambah dan

    berumur 1-1,5 bulan atau telah tumbuh daun sebanyak 3 helai maka

    bibit/zaeling dapat dipindahkan pada bedeng ke dua dengan jarak 1-14

    meter. Untuk menghindari sengatan sinar matahari secara langsung

    dibuat atap yang berbentuk miring lebih tinggi ke Timur dengan maksud

    supaya mendapatkan sinar matahari pagi hari secara penuh.

     

    2)   Pembuatan Lubang Tanaman

    Pembuatan lubang pada bedeng-bedeng yang telah siap untuk tempat

    penanaman bibit rambutan yang sudah jadi dilakukan setelah tanah

    diolah secara matang kemudian dibuat lobang-lobang dengan ukuran

    1 x 1 x 0,5 m yang sebaiknya telah dipersiapkan 3-4 pekan sebelumnya

    dan pada waktu penggalian tanah yang diatas dan yang dibawah

    dipisahkan yang nantinya dipergunakan untuk penutup kembali lubang

    yang telah diberi tanaman, sedangkan jarak antar lubang sekitar 12-14 m.

     

    3)   Cara Penanaman

    Setelah berlangsung selama 2 pekan lubang ditutup dengan susunan

    tanah seperti sedia kala dan tanah yang bagian atas dikembalikan setelah

    dicampur dengan 3 blek (1 blek kurang lebih 20 liter) pupuk kandang yang

    sudah matang, dan kira-kira 4 pekan dan tanah yang berada di lubang

    bekas galian tersebut sudah mulai menurun baru rambutan ditanam dan

    tidak perlu terlalu dalam secukupnya, maksudnya batas antara akar dan

    batang rambutan diusahakan setinggi permukaan tanah yang ada

    disekelilingnya.

     

    4)   Lain-lain

    Pada awal penanaman di kebun perlu diberi perlindungan yang rangkanya

    dibuat dari bambu/bahan lain dengan dipasang posisi agak tinggi disebelah

    Timur, agar tanaman mendapatkan lebih banyak sinar matahari pagi dari

    pada sore hari, dan untuk atapnya dapat dibuat dari daun nipah, kelapa/

    tebu. Sebaiknya penanaman dilakukan pada awal musim penghujan, agar

    kebutuhan air dapat dipenuhi secara alamiah.

     

    Pemeliharaan Tanaman

     

    1)   Penjarangan dan Penyulaman

    Karena kondisi tanah telah gembur dan mudah tanaman lain akan tumbuh

    kembali terutama Gulma (tanaman pengganggu), seperti rumput-rumputan

    dan harus disiangi sampai radius 1-2 m sekeliling tanaman rambutan.

    Apabila bibit tidak tumbuh dengan baik segera dilakukan penggantian

    dengan bibit cadangan.

     

    2)   Perempalan

    Agar supaya tanaman rambutan mendapatkan tajuk yang rimbun, setelah

    tanaman berumur 2 tahun segera dilakukan peempelan/ pemangkasan

    pada ujung cabang-cabangnya. Disamping untuk memperoleh tajuk yang

    seimbang juga berguna memberi bentuk tanaman, memperbanyak dan

    mengatur produksi agar tanaman tetap terpelihara. Pemangkasan juga

    perlu dilakukan setelah masa panen buah berakhir dengan harapan muncul

    tajuk-tajuk baru sebagai tempat munculnya bunga baru pada musim

    berikutnya dan hasil berikutnya dapat meningkat.

     

    3)   Pemupukan

    Untuk menjaga agar kesuburan lahan tanaman rambutan tetap stabil perlu

    diberikan pupuk secara berkala dengan aturan:

    a)   Pada tahun ke 2 setelah penanaman bibit diberikan pada setiap pohon

    dengan campuran 30 kg pupuk kandang, 50 kg TSP, 100 gram Urea

    dan 20 germ ZK dengan cara ditaburkan disekeliling pohon/dengan

    jalan menggali disekeliling pohon sedalam 30 cm selebar antara 40-50 cm,

    kemudian masukkan campuran tersebut dan tutup kembali dengan

    tanah galian sebelumnya.

    b)  Tahun berikutnya perlu dosis pemupukan perlu ditambah dengan

    komposisi 50 kg pupuk kandang, 60 kg TSP, 150 gr Urea dan 250 gr

    ZK dengan cara pemupukan yang sama, apabila menggunakan

    pupuk NPK maka perbandingannya 15:15:15 dengan ukuran diantara

    75-125 kg untuk setiap ha, dan bila ditabur dalam musim hujan dan

    dengan komposisi 250-350 kg apabila dilakukan saat awal musim

    penghujan.

     

    4)   Pengairan dan Penyiraman

    Selama dua minggu pertama setelah bibit yang berasal dari cangkokan/

    okulasi ditanam, penyiraman dilakukan sebanyak dua kali sehari, pagi

    dan sore. Dan minggu-minggu berikutnya penyiraman dapat dikurangi

    menjadi satu kali sehari. Apabila tanaman rambutan telah tumbuh benar-

    benar kuat frekuensi penyiraman bisa dikurangi lagi yang dapat dilakukan

    saat-saat diperlukan saja. Dan bila turunterlalu lebat diusahakan agar

    sekeliling tanaman tidak tegenang air dengan cara membuat lubang saluran

    untuk mengalirkan air.

     

    5)   Waktu Penyemprotan Pestisida

    Guna mencegah kemungkinan tumbuhnya penyakit/hama karena kondisi

    cuaca/hewan-hewan perusak maka perlu dilakukan penyemprotan pestisida

    umumnya dilakukan antara 15-20 hari sebelum panen dan juga apabila

    kelembaban udara terlalu tinggi akan tumbuh cendawan, apabila musim

    penghujan mulai tiba perlu disemprot fungisida beberapa kali selama musim

    hujan pestisida dan insektisida

     

    6)   Pemeliharaan Lain

    Untuk memacu munculnya bunga rambutan diperlukan larutan KNOƒ

    (Kalsium Nitrat) yang akan mempercepat 10 hari lebih awal dari pada

    tidak diberi KNOƒ dan juga mempunyai keunggulan memperbanyak

    “dompolan” bunga (tandan) rambutan pada setiap stadium (tahap

    perkembangan) serta mempercepat pertumbuhan buah rambutan.

     

    HAMA DAN PENYAKIT

     

    1.   Hama pada Daun

    Hama tanaman rambutan berupa serangga seperti semut, kutu, kepik,

    kalong dan bajing serta hama lainya seperti, keberadaan serangga ini

    dipengaruhi faktor lingkungan baik lingkungan biotik maupun abiotik.

    misal: ulat penggerek buah (Dichocricic punetiferalis) warna kecoklat-

    coklatan dengan ciri-ciri buah menjadi kering dan berwarna hitam, Ulat

    penggerek batang (Indrabela sp) membuat kulit kayu dan mampu

    membuat lobang sepanjang 30 cm, Ulat pemakan daun (Ploneta diducta/

    ulat keket) memakan daun-daun terutama pada musim kemarau. Ulat

    Jengkal (Berta chrysolineate) pemakan daun muda sehingga penggiran

    daun menjadi kering, keriting berwarna cokelat kuning.

     

    2.   Penyakit

    Penyakit tanaman rambutan disebabkan organisme semacam ganggang

    (Cjhephaleusos sp) yang diserang umumnya daun tua dan muncul pada

    musim hujan dengan ciri-ciri adanya bercak-bercak kecil dibagian atas daun

    disertai seratserat halus berwarna jingga yang merupakan kumpulan

    sporanya. Ganggang Chaphaleuros kesimbiose dengan lumut kerek (lichen)

    dan dapat dijumpai pada daun dan batang rambutan, yang nampak seperti

    panu sehingga ranting yang diserang dapat mati; Penyakit akar putih

    disebabkan oleh cendawan (jamur) Rigidoporus Lignosus dengan tanda rizom

    berwarna putih yang menempel pada akar dan apabila akar yang kena

    dikupas akan nampak warna kecoklatan.

     

    3.   Gulma

    Segala macam tumbuhan pengganggu tanaman rambutan yang berbentuk

    rerumputan yang berada disekitar tanaman rambutan yang akan

    mengganggu pertumbuhan perkembangan bibit rambutan oleh sebab itu

    perlu dilakukan penyiangan secara rutin.

     

    Macam-macam hama dan penyakit tanaman rambutan diantaranya

     

     

    1. Benang putih (Marasmius sp)

    Pada cabang dan ranting pohon rambutan yang terserang biasanya terdapat

    benang putih yang terdiri dari miselium jamur. Benang-benang tersebut rata

    menutupi daun rambutan, sehingga menyebabkan daun mati.

    Pengendalian dilakukan dengan cara :

    1) Teknis, yaitu dengan memangkas cabang/ ranting yang terserang penyakit.

    Pangkasan harus segera dibakar pada tempat yang telah tersedia;

    2) Kimiawi, yaitu dilakukan dengan penyemprotan fungisida (Benlate dan

    Cupravit) sesuai dosis yang tertera dalam kemasan.

     

     

    2. Embun Tepung (Oidium nephelii)

    Permukaan tanaman yang terserang terdapat tepung berwarna putih keabu-

    abuan. Tanaman yang terserang adalah pucuk bunga dan buah yang akhirnya

    gugur atau kering berwarna hitam seperti terbakar.

    Pengendalian dengan cara :

    1)  Teknis, dengan melakukan sanitasi yaitu dengan memotong cabang/ranting

    yang pucuk bunga dan buahnya terserang berat, membuang bunga dan

    buah untuk tanaman yang terserang sedang dan membersihkan bunga

    dan buah untuk tanaman yang terserang ringan;

    2)  Kimiawi, yaitu dilakukan dengan penyemprotan fungsida berbahan aktif

    benomil seperti benlate dengan frekuensi dua minggu sekali pada pagi

    hari dengan dosis 2 gram/ liter. Untuk menekan banyaknya spora cendawan,

    penyemprotan dikonsentrasikan pada pucuk bunga.

     

     

    3. Jamur Upas (Upasia Salmonicolor)

    Jamur upas menyerang cabang tanaman yang sudah berkayu. Cabang

    yang terserang, timbul benang-benang cendawan seperti sarang labah-

    laba yang berkembang menjadi kerat cendawan berwarna merah jambu.

    Pengendalian dilakukan dengan cara :

    1) Teknis, yaitu dengan memotong sepanjang 30 cm dibawah cabang yang

    terkena jamur, kemudian dibakar ditempat yang telah disediakan;

    2) Mengoleskan fungisida (bubur california atau bubur bordeaux) pada

    bagian yang terserang jamur upas. Sebaiknya pengolesan dilakukan

    pada pagi dengan dosis sesuai yang tertera dalam kemasan.

     

     

    4. Kanker batang (Dolabra nepheliae Boot & Ting)

    Penyakit ini menyerang kulit dan batang tanaman rambutan. Batang yang

    terserang banyak ditumbuhi kudis, sehingga mengganggu pertumbuhan

    batang dan produksinya.

    Pengedalian dilakukan dengan cara :

    1)  Teknis, dengan mengerok benjolan-benjolan pada batang yang terserang,

    selanjutnya dibiarkan selama 3-4 hari;

    2)  Kimiawi, yaitu dengan mengerok benjolan batang yang terserang, lalu

    didiamkan selama 3-4 hari. Selanjutnya lakukan penyemprotan atau

    pengolesan dengan campuran larutan karbol dan deterjen secukupnya.

     

    5. Busuk buah (Glicophalotrichum bulbilium)

    Penyakit busuk buah menyerang buah yang masih kecil/muda, selanjutnya

    meskipun buah tersebut menjadi besar tapi tetap akan busuk, berwarna

    hitam dan mengering.

    Pengendalian dengan cara :

    1)  teknis, yaitu petik buah yang terserang kemudian dikumpulkan dan bakar

    ditempat yang telah disediakan selanjutnya dikubur dalam tanah;

    2)  Kimia, yaitu melakukan penyemprotan dengan menggunakan fungisida

    berbahan aktif karbendazin dengan dosis 0,4 cc/liter air.

     

     

    6. Bercak daun

    Penyakit ini disebabkan oleh organisme semacam ganggang (Chephaleuros sp)

    yang menyerang daun tua yang ditandai dengan bercak-bercak kecil

    dipermukaan daun disertai serat-serat halus berwarna jingga yang merupakan

    kumpulan spora. Batang dan daun yang terserang tampak bercak seperti panu.

    Penyakit ini muncul pada musim hujan.

    Pengendalian cukup dilakukan dengan mengunakan bubur bordeaux/ bubur

    california dengan dosis sesuai tertera dalam kemasan.

     

    7. Penyakit akar putih

    Penyakit akar putih disebabkan oleh cendawan Rigidoporus lignosus dengan

    tanda rizom berwarna putih menempel di akar. Jika dikupas akar yang

    terserang berwarna kecoklatan.

    Pengendaliannya diberikan fungisida jenis benlate 0,3% dengan dosis sesuai

    tertera pada kemasan.

     

    PANEN

     

    1.   Ciri dan Umur Panen

    Buah rambutan yang telah matang dengan ciri-ciri melihat warna yang

    disesuikan dengan jenis rambutan yang ada juga dengan mencium baunya

    serta yang terakhir dengan merasakan rambutan yang sudah masak

    dibandingkan dengan rambutan yang belum masak, dapat dipastikan bahwa

    pemanenan dilakukan sekitar bulan Nopember sampai Februari, juga dapat

    dipengaruhi musim kemarau atau musim penghujan.

     

    2.   Cara Panen

    Cara pemanenan yang terbaik adalah dipetik beserta tungkalnya yang

    sudah matang (hanya yang sudah masak) sekaligus melakukan pemangkasan

    pohon agar tidak menjadi rusak. Pemangkasan dilakukan sekaligus panen

    agar dapat bertunas kembali cepat berbuah apabila pemetikan tidak terjangkau

    dapat dilakukan dengan menggunakan galah untuk mengkait tangkai buah

    rambutan secara benar.

     

    3.   Periode Panen

    Periode pemanenan buah rambutan dilakukan pada sekitar bulan Nopember

    sampai dengan Februari (masa musim penghujan). Dengan dicari buah yang

    masak dan yang belum masak supaya ditinggal dulu dan kemudian dipanen

    kembali

     

    4.   Prakiraan Produksi

    Apabila penanganan dan pemeliharaan semenjak pembibitan hingga panen

    dilakukan secara baik dan benar serta memenuhi aturan yang ada maka

    dapat diperkirakan mendapatkan hasil yang maksimal. Setiap pohonnya

    dapat mencapai hasil minimal 0,10 kuintal, dan maksimal dapan mencapai

    1,75 kuintal setiap pohonnya.

     

    PASCAPANEN

     

    1.   Pengumpulan

    Setelah dilakukan pemanenan yang benar buah rambutan harus diikat

    secara baik, biasanya dikumpulkan tidak jauh dari lokasi pohon sehingga

    selesai pemanenan secara keseluruhan.

     

    2.   Penyortiran dan Penggolongan

    Tujuan penyortiran buah rambutan yang bagus agar harga jualnya tinggi,

    biasanya dipilih berdasarkan ukuran dan mutunya, buah yang kecil tetapi

    baik mutunya dapat dicampur dengan buah yang besar dengan sama

    mutunya, yang biasanya dijual dalam bentuk ikatan dan perlu diingat

    bahwa dalam 1 ikatan diusahakan sama besar dan sama baik mutunya.

    Dan dilakukan sesuai dengan jenis rambutan, jangan dicampur adukkan

    dengan jenis yang lain.

     

    3.   Penyimpanan

    Penyimpanan yang terbaik untuk mengawetkan buah rambutan biasanya

    dilakukan dengan jalan dibuat asinan/manisan dan dimasukkan dalam kaleng/

    botol atau dapat juga dengan menggunakan kantong plastik. Hal ini dapat

    menjaga kesterlilan dan ketahanan serta lama penyimpanannya.

     

    4.   Pengemasan dan Pengangkutan

    Hasil jual dapat tinggi tidak tergantung dari rasanya saja,tetapi pada

    kenampakan dan cara pengikatannya,apabilaakan dijual tidak jauh dari

    lokasi maka cukup diikat dan kemudian di angkut dengan kendaraan/

    dimasukkan dalam karung. Untuk pengiriman dengan jarak yang agak

    jauh (antar pulau) yang membutuhkan waktu hingga 2-3 hari lamanya

    perjalanan rambutan. Caranya di pak dengan menggunakan peti

    sebelum dipilih dan di pak sebaiknya dicuci terlebih dahulu dengan air

    sabun dan dibilas kemudian dikeringkan, setelah dipisah dari tangkainya,

    apabila ada yang terkena jamur sebaiknya direndam dulu dengan larutan

    soda 1,5% selama 3-5 menit kemudian disikat dengan sikat yang lunak.

    Setelah itu disusun berderet berbentuk sudut terhadap sisi peti, yang

    sebelumnya dialasi dengan lumut/ sabut kelapa, setelah itu dilapisi dengan

    kertas minyak. Setelah penuh lapisan atas dilapisi lagi dengan kertas

    minyak dan dengan sabut kelapa yang terakhir ditutup dengan papan,

    sebaiknya kedua sisi panjang dibentuk agak gembung, biasanya

    penempatan peti bagian yang pendek ditempatkan dibawah didalam

    perjalanan.

     

    ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA TANAMAN

     

    1    Analisis Usaha Budidaya

    Untuk mendukung perhitungan analisis usaha tani rambutan secara

    konvensional ada beberapa hal yang perlu diketahui antara lain:

    1)   Tanaman rambutan dibudidayakan secara pencangkokan atau

    mengokulasi dengan jarak tanam 12-14 m sehingga populasi

    tanaman setiap hektar mencapai 1000 tanaman.

    2)   Varietas tanaman rambutan yang dibudidayakan merupakan jenis

    yang disukai konsumen.

    3)   Di lokasi penanaman diusahakan yang dekat dengan sumber air,

    dekat dengan sipekerja.

    4)   Tenaga kerja dibedakan menjadi dua yakni tenaga kerja pria (HKP)

    dan tenaga kerja wanita (HKW), dengan ongkostenaga kerja pria

    lebih tinggi dari pada tenaga kerja wanita dengan jam kerja   per

    harinya 8 jam.

    5)   Budidaya rambutan dilakukan pada musim (Maret-September).

     

    2.   Gambaran Peluang Agribisnis

    Buah rambutan merupakan buah populer di kawasan ASEAN, khususnya

    di tanah air dn di negara Jiran Malaysia tempat asal buah rambutan. Buah

    rambutan dapat dikonsumsi langsung (buah segar) ataupun diolah menjadi

    buah kalen dan manisan buah rambutan.

    Rambutan selain sebagai buah segar yang digemari, hasil olahannya pun

    menjadi komoditi primadona yang memiliki prospek cukup cerah di Asia dan

    di negara-negara lainnya. Pasar dalam negeri maupun pasar luar negeri

    masih merupakan lahan pemasaran yang menjanjikan. Sehingga sangat

    tepat untuk membudidayakan buah rambutan secara intensif dengan

    didukung kondisi alam yang ada.

     

    STANDAR PRODUKSI

     

    1.   Ruang Lingkup

    Standard produksi ini meliputi: klasifikasi/penggolongan dan syarat mutu,

    cara pengambilan contoh, cara uji, syarat penandaan dan cara

    pengemasan.

     

    2.   Diskripsi

    Buah rambutan segar adalah buah dari tanaman rambutan (Nephelium

    lappaceum Linn) dalam tingkat ketuaan optimal, utuh, segar dan bersih.

    Standar buah rambutan di Indonesia tercantum dalam Standar Nasional

    Indonesia SNI 01-3210-1992.

     

    3.   Klasifikasi dan Standar Mutu

    Buah rambutan segar untuk masing-masing kultvar, digolongkan dalam 2

    buah jenis, yaitu: Mutu I dan Mutu II.

     

    Klasifikasi berdasarkan ukuran berat adalah sebagai berikut:

    a)   Binjai: besar maksimum 20 kg; kecil : > 20 kg

    b)   Lebak Bulus: besar maksimum 35 kg; kecil > 35 kg

    c)   Rapiah: besar maksimum 30 kg; kecil > 30 kg

    d)   Simacan: besar maksimum 40 kg; kecil > 40 kg

     

    Persyaratan mutu untuk buah rambutan adalah sebagai berikut:

    a)   Keseragaman Kultivar: mutu I seragam; mutu II seragam

    b)   Keseragaman Ukuran: mutu I seragam; mutu II kurang seragam

    c)   Tingkat Kesatuan Buah: mutu I tepat; mutu II kurang Tepat

    d)   Tingkat Kesegaran Buah: mutu I segar; mutu II kurang segar

    e)   Buah cacat/busuk: mutu I 0%; mutu II 0%

    f)    Bentuk ikatan: mutu I maksimum 10 cm; mutu II maksimum 10 cm

    g)   Bentuk buah lepas: mutu I maksimum. 0,5 cm; mutu II maksimum 0,5 cm

    h)   Kadar Kotoran: mutu I 0%; mutu II 0%

    i)    Serangga hidup/mati: mutu I tidak ada; mutu II tidak ada

     

    4.   Pengambilan Contoh

    Satu partai/lot buah rambutan segar terdiri dari maksimum 1.000 kemasan.

    Contoh diambil secara acak dari jumlah kemasan dalam 1 (satu) partai/lot.

    a)   Jumlah kemasan dalam partai/lot 1 s/d 5, contoh pengambilan semua

    b)   Jumlah kemasan dalam partai/lot 6 s/d 100, contoh pengambilan

    sekurang kurangnya 5

    c)   Jumlah kemasan dalam partai/lot 101 s/d 300, contoh pengambilan

    sekurang kurangnya 7

    d)   Jumlah kemasan dalam partai/lot 301 s/d 500, contoh pengambilan

    sekurang kurangnya 9

    e)  Jumlah kemasan dalam partai/lot 501 s/d 1000, contoh pengambilan

    sekurang kurangnya 10

     

    Petugas pengambil contoh harus orang yang memenuhi persyaratan yaitu

    orang yang telah berpengalaman atau dilatih lebih dahulu dan mempunyai

    ikatan dengan suatu badan hukum.

     

    5.   Pengemasan

    Buah rambutan segar disajikan dalam bentuk ikatan atau lepas, dibungkus

    bahan kertas, jaring plastik atau bahan laian yang sesuai, lalu dikemas

    dengan keranjang bambu atau kotak karton/kayu/bahan lain yang sesuai

    dengan atau tanpa penyangga, dengan berat bersih maksimum 10 kg.

    Pada bagian luar kemasan, diberi label yang bertuliskan antara lain :

    a)   Dihasilkan di Indonesia.

    b)   Nama barang/kultivar.

    c)   Golongan ukuran.

    d)   Jenis mutu.

    e)   Nama perusahaan/eksportir.

    f)    Berat bersih/kotor

sumber: http://www.facebook.com/groups/asosiasipepayaindonesia/doc/248354338567569/

About these ads

Perihal INDOAGROW
kami membantu pihak-pihak yang ingin berbisnis dalam bidang agribisnis. Pengalaman dan Tim kami mampu mesukseskan sebuah proyek agribisnis dengan baik. saat ini kami sedang gencar mengembangkan investasi Jabon (Anthochepallus cadamba) di beberapa daerah. Perpaduan jabon dan komoditas-komoditas agribisnis lain menjanjikan keuntungan ekonomis dan ekologis yang besar. selain itu, kami juga bergerak dalam bidang trading komoditas agribisnis. Aneka produk agro berkualitas kami perdagangkan demi kemajuan agribisnis Indonesia. lebih lanjut bisa menghubungi: CV indoAgrow Manajemen dan Tradding Agribisnis Jl UKDW 11 Seturan Depok Sleman Yogyakarta Telepon 081931723043/081328876164 email: indoagrow@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: