BUDIDAYA BAYAM

BUDIDAYA  BAYAM

(Amaranthus sp)

 

 

Bayam merupakan tanaman sayuran yang dikenal dengan nama ilmiah

Amaranthus spp. Kata “amaranth” dalam bahasa Yunani berarti “everlasting”

(abadi). Tanaman bayam berasal dari daerah Amerika tropik. Tanaman bayam

semula dikenal sebagai tumbuhan hias. Dalam perkembangan selanjutnya.

Tanaman bayam dipromosikan sebagai bahan pangan sumber protein,

terutama untuk negara-negara berkembang. Diduga tanaman bayam masuk

ke Indonesia pada abad XIX ketika lalu lintas perdagangan orang luar negeri

masuk ke wilayah Indonesia.

 

Sentra Penanaman

Pusat penanaman bayam di Indonesia adalah Jawa Barat (4.273 hektar),

awa Tengah (3.479 hektar), dan Jawa Timur (3.022 hektar). Propinsi lainnya

berada pada kisaran luas panen antara 13.0 – 2.376 hektar. Di Indonesia total

luas panen bayam mencapai 31.981 hektar atau menempati urutan ke-11 dari

18 jenis sayuran komersial yang dibudidayakan dan dihasilkan oleh Indonesia.

Produk bayam nasional sebesar 72.369 ton atau rata-rata 22,63 kuintal per

hektar.

 

Jenis Tanaman

Keluarga Amaranthaceae memiliki sekitar 60 genera, terbagi dalam sekitar 800

spesies bayam (Grubben, 1976). Dalam kenyataan di lapangan, penggolongan

jenis bayam dibedakan atas 2 macam, yaitu bayam liar dan bayam budidaya.

Bayam liar dikenal 2 jenis, yaitu bayam tanah (A. blitum L.) dan bayam berduri

(A. spinosus L.). Ciri utama bayam liar adalah batangnya berwarna merah dan

daunnya kaku (kasap).

 

A Bitum L

 

A Spinosus L

 

Jenis bayam budidaya dibedakan 2 macam, yaitu:

 

1.  Bayam cabut atau bayam sekul alias bayam putih (A. tricolor L.).

Ciri – ciri bayam cabut adalah memiliki batang berwarna kemerah-merahan

atau hijau keputih – putihan, dan memilki bunga yang keluar dari ketiak cabang.

Bayam cabut yang batangnya merah disebut bayam merah, sedangkan yang

batangnya putih disebut bayam putih.

 

2.  Bayam tahun, bayam skop atau bayam kakap (A. hybridus L.).

Ciri – ciri bayam ini adalah memiliki daun lebar – lebar, yang dibedakan atas

2 spesies yaitu:

1.  A. hybridus caudatus L., memiliki daun agak panjang dengan ujung runcing,

berwarna hijau kemerah – merahan atau merah tua, dan bunganya

tersusun dalam rangkaian panjang terkumpul pada ujung batang.

 

2.  A. hibridus paniculatus L., mempunyai dasar daun yang lebar sekali,

berwarna hijau, rangkaian bunga panjang tersusun secara teratur dan

besar – besar pada ketiak daun.

 

 

Varietas bayam unggul ada 7 macam yaitu; varietas Giti Hijau, Giti Merah, Maksi,

Raja, Betawi, Skop, dan Hijau. Sedangkan beberapa varietas bayam cabut unggul

adalah Cempaka 10 dan Cempaka 20.

 

Giti Hijau

 

Giti Merah

 

Betawi

 

Hijau

 

Manfaat Tanaman

 

Bayam merupakan bahan sayuran daun yang bergizi tinggi dan digemari oleh

semua lapisan masyarakat. Daun bayam dapat dibuat berbagai sayur mayur,

bahkan disajikan sebagai hidangan mewah (elit). Di beberapa negara

berkembang bayam dipromosikan sebagai sumber protein nabati, karena

berfungsi ganda bagi pemenuhan kebutuhan gizi maupun pelayanan

kesehatan masyarakat.

Manfaat lainnya adalah sebagai bahan obat tradisional, dan juga untuk kecantikan.

Akar bayam merah dapat digunakan sebagai obat penyembuh sakit disentr. Daun

dan bunga bayam duri berkhasiat untuk mengobati penyakit asma dan eksim.

Bahkan sampai batas tertentu, bayam dapat mengatasi berbagai jenis penyakit

dalam. Untuk tujuan pengobatan luar, bayam dapat dijadikan bahan kosmetik

(kecantikan). Biji bayam digunakan untuk bahan makanan dan obat – obatan.

Biji bayam dapat dimanfaatkan sebagai pencampur penyeling terigu dalam

pembuatan roti atau dibuat bubur biji bayam. Ekstrak biji bayam berkhasiat

sebagai obat keputihan dan pendarahan yang berlebihan pada wanita yang

sedang haid.

Bayam banyak mengandung Vitamin dan garam-garam mineral penting yang

diperlukan tubuh seperti ; kalori 36 kal, Protein 3,5 gr, Lemak 0,5 gr, Karbohidrat

6,5 gr, Kalsium 267 mg. Fosfor 67 mg, Besi 3,9 mg, Vitamin A 6.090 SI, Vitamin B1

0,08 mg, Vitamin C 80 mg, Air 86,9 gr dan bagian yang dapat dimakan 71 %.

 

SYARAT PERTUMBUHAN

 

Iklim

 

1. Keadaan angin yang terlalu kencang dapat merusak tanaman bayam khususnya

untuk bayam yang sudah tinggi. Kencangnya angin dapat merobohkan tanaman.

2. Karena tanaman bayam cocok ditanam di dataran tinggi maka curah hujannya

juga termasuk tinggi sebagai syarat pertumbuhannya. Curah hujannya bisa

mencapai lebih dari 1.500 mm / tahun.

3. Tanaman bayam memerlukan cahaya matahari penuh. Kebutuhan akan sinar

matahari untuk tanaman bayam cukup besar. Pada tempat yang terlindungi

(ternaungi), pertumbuhan bayam menjadi kurus dan meninggi akibat kurang

mendapat sinar matahari penuh.

4. Suhu udara yang sesuai untuk tanaman bayam berkisar antara 16 – 20 derajat C.

5. Kelembaban udara yang cocok untuk tanaman bayam antara 40 – 60%.

 

Media Tanam

 

1. Tanaman bayam menghendaki tanah yang gembur dan subur. Jenis tanah yang

sesuai untuk tanaman bayam adalah yang penting kandungan haranya

terpenuhi.

2. Tanaman bayam termasuk peka terhadap pH tanah. Bila pH tanah di atas 7

(alkalis), pertumbuhan daun-daun muda (pucuk) akan memucat putih kekuning -

kuningan (klorosis). Sebaliknya pada pH di bawah 6 (asam), pertumbuhan bayam

akan merana akibat kekurangan beberapa unsur. Sehingga pH tanah yang cocok

adalah antara 6 – 7.

3. Tanaman bayam sangat reaktif dengan ketersediaan air di dalam tanah. Bayam

termasuk tanaman yang membutuhkan air yang cukup untuk pertumbuhannnya.

Bayam yang kekurangan air akan terlihat layu dan terganggu pertumbuhannya.

Penanaman bayam dianjurkan pada awal musim hujan atau akhir musim kemarau.

4. Kelerengan lahan untuk budidaya tanaman bayam adalah sekitar 15 – 45 derajat.

 

Ketinggian Tempat

 

Dataran tinggi merupakan tempat yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman bayam.

Ketinggian tempat yang baik yaitu ±2000 m dpl.

 

PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA

 

1. Pembibitan

 

1. Persyaratan Benih

Benih / biji yang baik untuk bertanam bayam adalah dapat memenuhi

persyaratan sebagai berikut:

a)  berasal dari induk yang sehat,

b)  bebas dari hama / penyakit,

c)  daya kecambah 80 prosen, dan

d)  memiliki kemurnian benih yang tinggi.

 

Disamping persyaratan seperti yang disebutkan diatas, benih / bibit yang

digunakan kalau bisa merupakan benih unggul agar nantinya tahan terhadap

hama dan penyakit.

 

2. Penyiapan Benih

Benih Bayam sayur yang ditanam petani kebanyakan swadaya dari tanaman

terdahulu yang sengaja dibiarkan tumbuh terus untuk produksi biji. Keperluan

benih untuk lahan 1 hektar berkisar antara 5 – 10 kg, atau 0,5 – 1,0 gram per

m2 luas lahan. Biji dipanen pada waktu musim kemarau dan hanya dipilih

tandan yang sudah tua (masak). Tandan harus dijemur beberapa hari,

kemudian biji dirontokkan dari tandan dan dipisahkan dari sisa – sisa tanaman.

Untuk memproduksi bibit bagi satu hektar kebun yang berisi 25000 – 40000

tanaman, kemungkinan dibutuhkan sekitar 1 – 2 kg benih.

 

3. Teknik Penyemaian Benih

Lahan untuk pembibitan dipilih yang lebih tinggi dari sekitarnya dan bebas dari

hama dan penyakit tanaman maupun gulma. Pembibitan diberi atap plastik atau

atap jerami padi. Benih bayam disebar merata atau berbaris – baris pada tanah

persemaian dan ditutup dengan selapis tanah tipis.

 

4. Pemeliharaan Pembibitan / Penyemaian

Dalam pemeliharaan benih / bibit perlu dilakukan penyiraman dengan teratur

dan hati-hati.

Tanah yang digunakan juga perlu dipupuk agar kesuburannya tetap

terjaga. Pupuk yang digunakan sebaiknya pupuk kandang. Setelah bibit tumbuh

dan ada benih yang terserang hama / penyakit maka perlu disemprot dengan

pestisida dengan dosis rendah.

 

5. Pemindahan Bibit

Setelah bibit tumbuh berumur sekitar 7 – 14 hari, bibit dipindah-tanam ke dalam

pot-pot yang terbuat daun pisang atau kantong plastik es mambo yang

sebelumnya telah diisi dengan medium tumbuh campuran tanah dan pupuk

organik yang halus (1:1). Bibit dalam pot disiram teratur dan setelah berumur

sekitar 7 – 14 hari setelah dipotkan, bibit tersebut telah siap untuk dipindah-

tanam ke lapangan.

 

Pengolahan Media Tanam

 

1. Persiapan

Sebelum pengolahan lahan dilakukan perlu diketahui terlebih dahulu pH tanah

yang sesuai yaitu antara 6 – 7 sehingga perlu dilakukan pengukuran dengan

menggunakan pH-meter. Selanjutnya menganalisis tanah yang cocok untuk

tanaman bayam, apakah perlu dilakukan pemupukan atau tidak. Kapan tanaman

akan ditanam dan sebaiknya pada awal musim hujan atau akhir musim kemarau.

Berapa luas lahan yang akan ditanami dan akan melakukan sistem polikultur atau

monokultur. Dan berapa banyak kebutuhan benih untuk dapat memenuhi produk

bayam yang diinginkan.

 

2. Pembukaan Lahan

Lahan yang akan ditanami dicangkul / dibajak sedalam 30 – 40 cm, bongkah tanah

dipecah gulma dan seluruh sisa tanaman diangkat dan disingkirkan lalu diratakan.

Lahan kemudian dibiarkan selama beberapa waktu agar tanah matang benar.

 

3. Pembentukan Bedengan

Setelah tahap pencangkulan kemudian dibuat bedengan dengan lebar sekitar

120 cm atau 160 cm, tergantung jumlah populasi tanaman yang akan ditanam

nanti. Dibuat parit antar bedengan selebar 20 – 30 cm, kedalaman 30 cm untuk

drainase. Pada bedengan dibuat lubang – lubang tanam, jarak antar barisan

60-80 cm, jarak antar lubang (dalam barisan) 40-50 cm.

 

4. Pengapuran

Apabila pH tanah terlalu rendah maka diperlukan pengapuran untuk

menaikkannya.

Pengapuran dapat menggunakan kapur pertanian atau Calcit maupun Dolomit.

Pada tipe tanah pasir sampai pasir berlempung yang pH-nya 5,5 diperlukan

± 988 kg kapur pertanian / ha untuk menaikkan pH menjadi 6,5. Kisaran

kebutuhan kapur pertanian pada tanah lempung berpasir hingga liat berlempung

ialah antara 1.730 – 4.493 kg / hektar. Sebaliknya, untuk menurunkan pH tanah,

dapat digunakan tepung Belerang (S) atau Gipsum, biasa sekitar 6 ton / hektar.

Cara pemberiannya, bahan – bahan tersebut disebar merata dan dicampur

dengan tanah minimal sebulan sebelum tanam.

 

5. Pemupukan

Pemupukan awal menggunakan pupuk kandang yang telah masak. Waktu

pemupukan dilakukan satu minggu atau dua minggu sebelum tanam. Cara

pemupukan adalah dengan disebarkan merata diatas bedengan kemudian

diaduk dengan tanah lapisan atas. Untuk pemupukan yang diberikan per lubanng

tanam, cara pemberiannya dilakukan dengan memasukkan pupuk ke dalam lubang

tanam. Dosis pemberian pupuk dasar disesuaikan dengan jenis tanaman dan

keadaan lahan. Akan tetapi dosis untuk pupuk kandang sekitar 10 ton per hektar.

Pemupukan per lubang tanam biasanya diperlukan sekitar 1 – 2 kg per lubang

tanam.

 

6. Pemberian Mulsa

Untuk memperoleh hasil produksi yang berkualitas baik maka di dalam penanaman

perlu dipasang palstik perak-hitam sebagai mulsa. Dengan penggunaan plastik ini

dapat mengurangi serangan hama dan penyakit termasuk gangguan gulma dan

lainnya.

 

Teknik Penanaman

 

1. Penentuan Pola Tanam

Jarak tanam untuk tanaman bayam adalah antara 60 cm x 50 cm atau

80 cm x 40 cm. Jarak tanam tersebut dapat divariasikan sesuai dengan tingkat

kesuburan tanah dan jenis bayam sehingga populasi tanaman per hektar

berkisar antara 30.000 – 60.000 tanaman. Pola tanam untuk bayam cabut

adalah monokultur. Dalam satu hamparan lahan biasanya ditanam berbagai

jenis tanaman dengan pola mosaik (perca), yaitu berbagai tanaman ditanam

monokultur pada petak – petak tersendiri. Tanaman lainnya tadi antara lain

seperti kakngkung (darat), selada, lobak, paria, kemangi dan sayuran lalapan

lainnya.

 

2. Pembuatan Lubang Tanam

Lubang tanam dapat dibuat dengan menggunakan alat kayu dengan cara di

pukul-pukul sehingga membentuk lubang. Jarak antara barisan adalah 60 – 80

cm dan jarak antar lubang (antar barisan) 40 – 50 cm.

 

3. Cara Penanaman

Penanaman dapat langsung di lapangan tanpa penyemaian atau dengan

penyemaian terlebih dahulu. Apabila tanpa penyemaian maka biji bayam

dicampur abu disebarkan langsung di atas bedengan menurut barisan pada

jarak antar barisan 20 cm dan arahnya membujur dari Barat ke Timur. Setelah

disebarkan benih segera ditutup dengan tanah halus dan disiram hingga cukup

basah. Waktu penanaman paling baik adalah pada awal musim hujan. Dengan

penyemaian maka tanaman dapat tumbuh dengan lebih baik karena benih

diperoleh dengan cara seleksi untuk ditanam.

 

Pemeliharaan Tanaman

 

1. Penjarangan dan Penyulaman

Apabila sewaktu menyebar benih secara langsung di lapangan tidak merata

maka akan terjadi pertumbuhan yang mengelompok (rapat) sehingga

pertumbuhannya terhambat karena saling bersaing satu sama lain. Oleh

karena itu perlu dilakukan penjarangan sekaligus sebagai panen pertama.

Apabila tanaman bayam dihasilkan dari benih yang disemai maka setelah

penanaman di lapangan ada yang mati / terserang penyakit, maka perlu

dilakukan penyulaman dengan mengganti tanaman dengan yang baru.

Caranya dengan mencabut dan apabila terserang penyakit segera dimusnahkan

agar tidak menular ke tanaman lainnya. Penyulaman dapat dilakukan seminggu

setelah tanam.

 

2. Penyiangan

Penyiangan dilakukan apabila muncul gulma tanaman Gelang (Portulaca oleracea)

dan rumput liar lainnya. Kehadiran gulma gelang dapat menurunkan produksi

bayam antara 30 – 65%. Penyiangan dilakukan bersamaan dengan

penggemburan tanah. Alat yang digunakan dalam penyiangan dapat berupa

cangkul kecil atau sabit. Caranya dengan dicangkul untuk mencabut gulma atau

langsung dicabut dengan tangan. Disamping itu pencangkulan dilakukan untuk

menggemburkan tanah.

 

3. Pembubunan

Proses pembubunan dilakukan bersamaan dengan penyiangan.

 

4. Perempalan

Apabila perawakan tanaman terlalu subur, mungkin perlu dilakukan perempalan

tunas – tunas liar dan pemasangan ajir / turus untuk memperkuat tegaknya

tanaman agar tidak rebah.

 

5. Pemupukan

Pemupukan dilakukan dengan menggunakan pupuk organik, untuk tiap lubang

calon tanaman sekitar 0,4 – 0,8 kg. Dengan demikian kuantum pupuk organik

akan berkisar 15 – 30 ton. Untuk pertanaman di dataran rendah bekas sawah,

pupuk organik tidak diberikan, tinggi bedengan perlu ditambah dan dalamnya

parit antar bedengan perlu diperdalam. Pupuk organik yang diberikan adalah

pupuk N (Urea sekitar 250 kg / ha atau ZA 500 kg / ha) cara dilarutkan dalam

air ± 25 gram / 10 liter air, TSP 300 kg / ha dan KCl 200 kg/ha. N diberikan

dua kali, setengah takaran pada waktu tanam dan yang setengahnya lagi

pada umur 30 hari setelah tanam. Apabila ternyata nanti pertumbuhan tanaman

kurang subur, dapat dipertimbangkan untuk memberi pupuk N susulan dengan

takaran sekitar 125 kg / ha, interval sekitar 30 hari dan dihentikan 30 hari

sebelum panen. Pupuk P diberikan sekali pada waktu tanam, sedangkan pupuk K

diberikan dua kali, setengah takaran pada waktu tanam dan setengah lagi pada

umur 30 hari setelah tanam.

 

6. Pengairan dan Penyiraman

Pada fase awal pertumbuhan, sebaiknya penyiraman dilakukan rutin dan intensif

1 – 2 kali sehari, terutama di musim kemarau. Waktu yang paling baik untuk

menyiram tanaman bayam adalah pagi atau sore hari, dengan menggunakan

alat bantu gembor (emrat) agar air siramannya merata.

 

7. Waktu Penyemprotan Pestisida

Jenis pestisida yang digunakan untuk tanaman bayam adalah Dithane M – 45

dengan dosis 1,5 – 2 gram / liter air, Ambush 2 EC atau Lannate 2 EC dengan

konsentrasi 2 gram per liter air. Penyemprotan dilakukan dengan menggunakan

alat penyemprot berupa tangki sprayer. Cara penyemprotan yaitu jangan

dilakukan ketika angin bertiup kencang dan jangan menentang arah datangnya

angin. Jangan melakukan penyemprotan pada saat akan hujan dan sebaiknya

dicampurkan bahan perekat. Waktu penyemprotan dilakukan pada pagi hari

benar atau sore hari ketika udara masih tenang. Hal tersebut untuk menghindari

matinya lebah atau serangga lainnya yang menguntungkan.

 

Hama dan Penyakit

 

Hama

 

1. Serangga ulat daun (Spodoptera Plusia Hymenia)

Gejala: daun berlubang – lubang.

Pengendalian: pestisida / cukup dengan menggoyangkan tanaman.

 

 

2. Serangga kutu daun (Myzus persicae Thrips sp.)

Gejala: daun rusak, berlubang dan layu.

Pengendalian: pestisida / cukup dengan menggoyangkan tanaman.

 

 

3. Serangga tungau (Polyphagotarsonemus latus)

Gejala: daun rusak, berlubang dan layu.

Pengendalian: pestisida / cukup dengan menggoyangkan tanaman.

 

4. Serangga lalat (Liriomyza sp.)

Gejala: daun rusak, berlubang dan layu.

Pengendalian: pestisida / cukup dengan menggoyangkan tanaman.

 

 

Penyakit

 

1. Rebah kecambah

Penyebab: cendawan Phytium sp. Gejala: menginfeksi batang daun maupun

batang daun.

Pengendalian: Fungisida

 

2. Busuk basah

Penyebab: cendawan Rhizoctonia sp. Gejala: adanya bercak – bercak putih.

Pengendalian: sama dengan pengendalian penyakit rebah kecambah.

 

3. Karat putih

Penyebab: cendawan Choanephora sp. Gejala: menginfeksi batang daun dan

daunnya.

Pengendalian: sama dengan pengendalian penyakit rebah kecambah.

 

Gulma

 

Jenis gulma: rumput – rumputan, alang-alang.

Ciri – ciri: tumbuh mengganggu tanaman budidaya.

Gejala: lahan banyak ditumbuhi pemila liar.

Pencegahan: herbisida

 

 Panen

 

1. Ciri dan Umur Panen

Ciri-ciri bayam cabut siap panen adalah umur tanaman antara 25 – 35 hari

setelah tanam. Tinggi tanaman antara 15 – 20 cm dan belum berbunga. Waktu

panen yang paling baik adalah pagi atau sore hari, saat suhu udara tidak

terlalu tinggi.

 

2. Cara Panen

Cara panennya adalah dengan mencabut seluruh bagian tanaman dengan

memilih tanaman yang sudah optimal. Tanaman yang masih kecil diberi

kesempatan untuk tumbuh membesar, sehingga panen bayam identik dengan

penjarangan.

 

3. Periode Panen

Panen pertama dilakukan mulai umur 25 – 30 hari setelah tanam, kemudian

panen berikutnya adalah 3-5 hari sekali. Tanaman yang sudah berumur 35 hari

harus dipanen seluruhnya, karena bila melampaui umur tersebut kualitasnya

menurun atau rendah; daun – daunnya menjadi kasar dan tanaman telah

berbunga.

 

4. Prakiraan Produksi

Produksi bayam per hektar dapat mencapai sekitar 22.630 kg.

 

Pascapanen

 

1. Pengumpulan

Pengumpulan dilakukan setelah panen dengan cara meletakkan di suatu tempat

yang teduh agar tidak terkena sinar matahari langsung, karena dapat membuat

daun layu.

 

2. Penyortiran dan Penggolongan

Penyortiran dilakukan dengan memisahkan bayam yang busuk dan rusak dengan

bayam yang baik dan segar. Disamping itu juga penggolongan terhadap bayam

yang daunnya besar dan yang daunnya kecil. Setelah itu diikat besar – besar

maupun langsung degan ukuran ibu jari.

 

3. Penyimpanan

Penyimpanan untuk menjaga kesegaran bayam dapat diperpanjang dari 12 jam

tempat terbuka (suhu kamar) menjadi 12 – 14 hari dengan perlakuan suhu dingin

mendekati 0 derajat C, misalnya dengan remukan es.

 

4. Pengemasan dan Pengangkutan

Pengemasan (pewadahan) dalam telombong atau dedaunan yang digulungkan

menyelimuti seluruh bagian bayam, sehingga terhindar dari pengaruh langsung

sinar matahari. Pengangkutan ke pasar dengan cara dipikul maupun angkutan

lainnya, seperti mobil atau gerobak.

 

5. Pencucian

Pencucian hasil panen pada air yang mengalir dan bersih, atau air yang

disemprotkan melalui selang maupun pancuran.

 

6. Penanganan Lain

Bayam dapat diolah menjadi berbagai jenis masakan. Sewaktu memasak bayam

ialah tidak boleh terlalu lama. Bayam cukup hanya direbus selama ± 5 menit.

Memasak bayam terlalu lama akan menyebabkan daun-daunnya menjadi hancur

(lonyoh), rasanya tidak enak, dan kandungan vitamin C-nya menguap

(menghilang).

sumber: http://www.facebook.com/groups/asosiasipepayaindonesia/doc/252437928159210/

About these ads

Perihal INDOAGROW
kami membantu pihak-pihak yang ingin berbisnis dalam bidang agribisnis. Pengalaman dan Tim kami mampu mesukseskan sebuah proyek agribisnis dengan baik. saat ini kami sedang gencar mengembangkan investasi Jabon (Anthochepallus cadamba) di beberapa daerah. Perpaduan jabon dan komoditas-komoditas agribisnis lain menjanjikan keuntungan ekonomis dan ekologis yang besar. selain itu, kami juga bergerak dalam bidang trading komoditas agribisnis. Aneka produk agro berkualitas kami perdagangkan demi kemajuan agribisnis Indonesia. lebih lanjut bisa menghubungi: CV indoAgrow Manajemen dan Tradding Agribisnis Jl UKDW 11 Seturan Depok Sleman Yogyakarta Telepon 081931723043/081328876164 email: indoagrow@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: