Tumpangsari Jabon dan Tebu; Keuntungan ekologis sekaligus ekonomis

Jabon yang ditumpangsari dengan tebu: Batang relatif lebih kecil namun bebas ulat

Tebu patut dilirik menjadi salah satu alternatif tumpangsari agar lahan yang ditanami jabon menjadi lebih efesien. Ada sisi baik ada sisi buruk, berikut liputannya.

Hari ini, 19 juli 2011, kami tengok lahan jabon yang ditumpangsari dengan Tebu. Berada di wilayah Kulonprogo, Jogjakarta. Wilayah tersebut cukup gersang.

Dari kunjungan ini, dapat kami simpulkan bahwa jabon sangat cocok untuk ditumpangsari dengan tebu. Kesimpulan ini memang kami dapatkan secara kualitatif, tanpa  pengukuran yang mendetail.

Beberapa kesimpulan positif yang kami dapatkan tumpangsari jabon dan tebu:

  1. Penggunaan lahan jadi sangat efesien, karena tebu dapat dipanen dalam kisaran waktu paling lama setahun. Sehingga bisa didapatkan hasil awal yang  menguntungkan.
  2. Menurut Bapak Anami, pemilik lahan tersebut, tebu dengan tumpangsari jabon bisa memberikan keuntungan hingga 100 persen dari modal tebu yang ditanamkan
  3. Perawatan tebu relatif mudah, jadi tidak begitu merepotkan pemilik lahan
  4. Sementara dari sisi budidaya, ternyata tumpangsari dengan tebu memberi efek pada daun  jabon  yang tidak dimakan ulat. Sudah sering kita jumpai daun jabon dimakan ulat, namun dengan tumpangsari dengan tebu, kenyataanya daun jabon ini  masih mulus.
  5. Seperti lahan lain yang telah ditanami tebu, ternyata lahan tumpangsari jabon dan tebu menjadi lebih remah, dan lebih subur setelah tebu dipanen. Asal tahu saja, lokasi lahan tumpangsari tersebut relatif gersang dan tanahnya berupa tanah liat lempung kalau pas kemarau sangat keras.
  6. Dengan metode ini, tebu bisa dipanen paling tidak 2 kali periode panen.
  7. Hasil panen inipun bisa digunakan untuk perawatan jabon pada periode berikutnya, jadi nilai investasi lebih efesien.
  8. Daun-daun tebu yang menjadi seresah setelah dipanen, ternyata sangat bermanfaat untuk pelindung tanah waktu kemarau. Tanah tidak terbuka langsung yang bisa mengakibatkan penurunan kesuburan.
  9. Seresah ini berpotensi juga menjadi pupuk oganik yang akan menyuburkan lahan.
Jabon umur 7 bulan hasil tumpangsari dengan tebu

Ada sisi baik ada sisi buruk, beberapa hal yang tidak menguntungkan dengan tumpangsari ini sebagai berikut:

  1. Meskipun jabon relatif tinggi, tapi diameter batang jabon relatif lebih kecil dibandingkan dengan jabon yang tidak ditumpangsari. Tapi, saya masih menganalisis juga apakah hal tersebut karena lahan yang memang termasuk lahan marjinal sehingga diameter relatif lebih kecil atau memang karena tebunya?
  2. Pertumbuhan relatif tidak sama, tidak merata. Beberapa pohon di tengah terlihat masih kecil dibandingkan dengan pohon lainnya, begitu juga pohon-pohon dipinggir. Kalau pohon di tengah relatif kecil, mungkin hal tersebut karena pohon tersebut tidak terlihat waktu ada tebu, sehingga kurang terkontrol oleh pemilik. Sementara jabon yang terletak di pinggir masih kecil, karena kenyataannya dipinggir kebun tersebut hutan kecil milik warga, pohon-pohon tinggi menaungi jabon sehingga terhambat tumbuh.
  3. Kelemahan lain dengan adanya tebu adalah menyulitkan dalam pemupukan jabon yang terletak di tengah, tapi saya kira hal ini soal teknis yang bisa ditangani dengan pendekatan teknis juga.

Memang, bertani yang paling ideal adalah multikultur. Pertanian monokultur yang hanya berupa satu jenis komoditas di lahan akan sangat rentan jika dibandingkan dengan lahan yang terdiri dari rupa-rupa pohon.

Alam memang mempunyai mekanisme ekologis tersendiri. Jika kita bisa memahami secara cermat, beberapa pohon bisa hidup berdampingan dengan baik maupun bertentangan. Begitu juga dengan jabon, akan cocok dengan beberapa komoditas untuk tumpangsari namun juga bepotensi menghambat.

Kawan saya yang mengaku masih “awam” dalam bidang agribisnsi pernah mengatakan begini; “Menekuni agribisnis ternyata lebih dekat ke alam, karena senantiasa dituntut untuk terus mempelajarinya”. Saya kira, akan lebih baik jika kita  tidak berpikir untuk menanam jabon secara monokultur, karena kodrat hutan juga selalu multikultur. Coba perhatikan hutan, semua tanaman bisa hidup subur berdampingan dengan menempati posisinya masing-masing secara tepat.

About these ads

Perihal INDOAGROW
kami adalah lembaga yang bergerak dalam pengembangan sumberdaya pertanian, menyediakan berbagai macam sarana produksi pertanian, dan konsultasi pertanian alamat : Dukuh Serut Desa Tegalontar Kec Sragi Pekalongan Telepon 081931723043 (WA), 081325666314, 08562813733 email: indoagrow@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: